Kamis, 05 Mei 2011

SEJARAH DAN RIWAYAT SINGKAT KOTA JOGJA


Keberadaan kota Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Raden Sutawijaya atau yang kemudian lebih terkenal dengan Panembahan Senopati. Raden Sutawijaya sendiri memperoleh kekuasaan atas Mataram dari ayahnya Ki Ageng Pemanahan. Sementara Ki Ageng Pemanahan mendapat tanah perdikan bumi Mataram dari Sultan Hadiwijaya dari Pajang pada tahun 1556, karena berhasil menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya dari Pajang kemudian Raden Sutawijaya memerdekakan Mataram, terpisah dari Pajang dan memerintah sebagai raja pertama Mataram dengan bergelar Senopati Ing Alogo Kalifatulah Tanah Jawa dan berkuasa pada tahung 1587 hingga tahun 1601.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755, antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-Jendral Jacob Mossel, maka Kerajaan Mataram dibagi dua menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Kemudian Pangeran Mangkubumi berkuasa sebagai Sultan Kasultanan Ngayogyakarta yang pertama dengan bergelar Sultan Hamengkubuwana I. Sultan kemudian segera membuat ibukota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah baru ( babat alas ) di Umbul Pacethokan kawasan Hutan Paberingan yang terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibukota berikut istananya tersebut dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dan landscape utama berhasil diselesaikan pada tanggal 7 Oktober 1756.
Pemilihan nama Ngayogyakarta Hadiningrat ini konon juga dimaksudkan untuk menghormati tempat bersejarah kawasan Hutan Beringan itu, yang pada jaman almarhum Sri Susuhunan Amangkurat IV (Amangkurat Jawi ) merupakan kota kecil yang indah. Di dalamnya terdapat sebuah istana pesanggrahan yang terkenal dengan nama Garjitawati. Kemudian pada jaman Sri Susuhunan Paku Buwono II bertahta di Kartasura nama pesanggrahan itu diganti dari Garjitawati menjadi Ayodya atau Ngayogya, yang berarti kota yang damai, aman dan tenteram.

Kraton Kasultanan Yogyakarta mulai dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755. Selama pembangunan keraton berlangsung, Sultan dan keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang di daerah Gamping, kurang lebih selama satu tahun. Pada hari Kamis Pahing, tanggal 7 Oktober 1756 selama satu tahun. Meski belum selesai dengan sempurna, Sultan dan keluarga berkenan menempatinya. Peresmian di saat raja dan keluarganya menempati kraton ditandai dengan candra sangkala Dwi Naga Rasa Tunggal Dalam tahun Jawa sama dengan 1682, tanggal 13 Jimakir yang bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 1756.

Setelah kraton mulai ditempati kemudian berdiri pula bangunan-bangunan lain, kraton dikelilingi oleh tembok yang tebal yang disebut Benteng Baluwerti. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan dengan aneka rupa dan fungsi. Bangunan kediaman sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, selesai dibangun tahun 1546. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran selesai dibangun tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai tahun 1751 dan 1763. Masjid Agung didirikan tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai tahun 1777. Bangsal Kencana selesai tahun 1792. Demikian kraton Yogyakarta berdiri dengan perkembangan yang senantiasa terjadi dari waktu ke waktu.

Menyusul kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 5 September 1945 Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku raja Ngayogyakarta Hadiningrat dan Sri Paku Alam VIII sebagai adipati kabupaten Pakualaman mengeluarkan dekrit yang menyatakan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari NKRI. Sehari kemudian pada tanggal 6 September 1945 Presiden Sukarno menjawab dengan piagam penetapan yang mengakui Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Pada tanggal 4 Maret 1950 terbit UU No.3 tahun 1950 yang berisi penetapan Daerah Istimewa Yogyakarta. ( Sumber: Situs B Vredeburg, Wikipedia, Media Indonesia )

1 komentar: