Minggu, 29 April 2012

PANTAI NGOBARAN, MENYEPI DI UJUNG NEGERI


Tak setenar pantai Baron, Kukup, Krakal, dan Sundak, pantai ini memang terletak agak ke barat dari gugusan pantai selatan Gunung Kidul yang sudah duluan terkenal dan banyak di kunjungi wisatawan. Berada di kecamatan Saptosari, kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta atau kurang lebih 25 kilometer arah barat daya kota Wonosari. Tak seperti pantai lainnya di kawasan timur yang sudah memiliki akses jalan yang relative baik, akses menuju pantai ini relative sempit meski sudah beraspal. Kondisi ini membuat bus-bus besar belum bisa masuk ke pantai ini, sehingga pengunjungnya juga terbatas.

Memiliki ciri khas seperti pantai-pantai lain di Gunung Kidul bagian selatan, pantai ini juga berbukit-bukit bahkan bertebing meski tidak terlalu tinggi. Fasilitas yang tersediapun masih sangat minim, selain area parkir yang tidak begitu luas, juga tidak banyak pedagang seperti di pantai-pantai lain yang sudah lebih berkembang. Di sampingnya juga terhampar pantai Ngrenehan yang jaraknya tidak begitu jauh. Tetapi nasibnya tak jauh berbeda dengan pantai Ngobaran, minim fasilitas dan sarana pendukung.
 
Meski demikian pantai ini tidak sulit untuk anda kunjungi. Menggunakan sepeda motor atau mobil keluarga perjalanan akan lebih mudah dan menyenangkan. Untuk mengunjungi pantai ini bisa ditempuh melalui kecamatan Playen terus ke selatan, sesampai di kota kecamatan Saptosari belok kiri. Setelah sampai pertigaan jalan yang yang ke kiri ( naik ) akan mengarah ke pantai Baron, Kukup dan Krakal, maka dengan mengambil jalan kekanan ( turun ) dan jalan selanjutnya akan mengarah ke selatan hingga ke pantai. Berwisata ke pantai Ngobaran seolah  berada di ujung negeri, sejauh lepas mata memandang hanya terlihat hamparan luas Samudra Indonesia yang membiru. Pantai Ngobaran sangat cocok untuk menyepi, meninggalkan sejenak rutinitas keseharian yang seringkali terasa membosankan.@@

Minggu, 11 Maret 2012

PESONA SINAR SURGA DI LUWENG JOMBLANG


Jogja tak hanya punya Keraton, Malioboro, Kaliurang, Candi Prambanan, Kota Gede, Kasongan atau wisata belanja dan kuliner yang kebanyakan orang sudah tahu bahkan pernah mengunjunginya. Bila anda berkunjung ke Jogja carilah sesuatu yang lain, yang menarik atau bahkan kalau perlu yang menantang. Luangkan waktu anda untuk tidak sekedar berputar-putar di dalam kota, pergilah sedikit ketimur dan temukan sesuatu yang lain, sesuatu yang langka dan  menakjubkan. Wisata alam yang berupa kegiatan menyusuri goa atau caving mungkin asing di telinga anda. Tetapi kegiatan wisata yang juga termasuk olah raga rekreasi ini bisa jadi akan membuat anda kagum pada alam dan sang pencipta. Kegiatan ini memang sedang dan akan terus di kembangkan di kabupaten Gunung Kidul sebab disanalah goa-goa alam nan eksotik itu bertebaran.
Wilayah kabupaten Gunung  Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan bagian dari Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang memiliki bentang alam yang cukup unik. Dibalik tanahnya yang tandus, Gunung Kidul memiliki begitu banyak goa-goa alam,  bahkan menurut sebuah sumber mencapai hingga ratusan goa,  baik goa horizontal maupun goa vertikal atau yang biasa disebut luweng. Karena jangan heran jika Gunungkidul menjadi surga bagi para penelusur gua atau caver, baik dari dalam maupun luar negeri,  baik untuk melakukan suatu penelitian  maupun  yang sekedar ingin menikmati keindahan alam yang ada di perut bumi sekaligus menguji adrenalin.
Kegiatan menyusuri goa, atau caving atau  termasuk olahraga rekreasi. Namun demikian tidak bisa  dianggap enteng, aktivitas penelusuran goa, khususnya goa-goa vertikal seperti yang telah dikembangkan di wlayah Gunung Kidul memiliki tantangan tersendiri. Lebih khusus lagi untuk memasuki goa-goa vertical yang sulit, goa dengan celah atau lobang yang sempit, maupun gua basah di mana terdapat aliran sungai di dalamnya. Para penelusur gua dituntut untuk memiliki kemampuan memanjat, berenang, mendaki, orientasi medan, peta kompas, sampai menyelam.   
Goa Jomblang dan Goa Grubug                                                                                                                    
Goa Jomblang dan goa Grubug yang terdapat di kecamatan Semanu atau kurang lebih delapan kilometer sebelah timur kota Wonosari merupakan tempat favorit bagi para caver atau penyusur goa. Pada goa vertikal yang memiliki lebar dan dalam limapuluh meter lebih ini memang cukup terkenal dikalangan para caver. Untuk masuk atau menuruni goa vertikal seperti goa atau luweng Jomblang dan goa atau luweng Grubug wajib menggunakan peralatan khusus yang sesuai dengan standar keamanan, serta wajib menguasai kemampuan tekhnik tali tunggal atau single rope technique ( SRT ). Didalam goa  yang memiliki kedalaman hingga 80 meter itu terdapat sungai bawah tanah yang merupakan ciri khas wilayah karst dan konon merupakan sungai purba. Selain itu  didalamnya juga terdapat hutan purba. Jika di atas terlihat tanah tandus dan pohon jati yang mengering, maka di dasar Gua Jomblang aneka tanaman dengan jenis yang berbeda dari vegetasi diatas hidup dengan subur. Dari dasar Gua Jomblang perjalanan dilanjutkan menyusuri lorong sepanjang 300 meter yang menghubungkan dengan Gua Grubug. Berhubung  di lorong tersebut sangat gelap maka para caver juga dilengkapi dengan headlamp untuk penerangan. Bahkan yang lebih fenomenal dari semua  itu pada goa-goa itu terdapat  ray of light atau yang lebih dikenal sebagai sinar surga. Sinar matahari yang masuk melalu entrance Gua Grubug dengan ketinggian sekitar 90 meter menciptakan pilar cahaya (ray of light) yang sangat indah. Para penelusur gua atau caver yang sudah berpengalaman biasanya akan masuk ke Gua Grubug tidak melalui Gua Jomblang tapi lewat celah tersebut. Setelah sampai di Gua Grubug biasanya para caver akan melanjutkan dengan body rafting di sungai yang mengalir di dalam gua.  Tetapi  untuk menyusur goa-goa ini diperlukan keahlian khusus serta pengetahuan, pengalaman, tekhnik dan peralatan yang memadai, bahkan berstandar international. ( Sumber: Kompasiana/Elizabeth Murni ).@@