Tampilkan postingan dengan label The Philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Philosophy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

JALAN TRIKORA YANG BERNILAI HISTORIS DAN FILOSOFIS



Jalan Trikora sangat mungkin menjadi jalan protokol terpendek di kota Jogja, lebih pendek dari jalan Malioboro yang panjangnya  kurang lebih hanya satu kilometer. Panjang jalan ini mungkin kurang dari 200 meter, tetapi mengingat tempatnya sangat strategis, jalan ini memiliki nilai historis dan filosofis yang sangat tinggi. Berada persis di depan alun-alun utara Kraton Jogja,  jalan ini menjadi sangat penting karena menjadi jalan masuk ke kraton dari arah depan dan merupakan bagian dari bagan garis imajiner dari Kraton ke tugu di utara yang tersambung dengan jalan Ahmad Yani, jalan Malioboro dan jalan Pangeran Mangkubumi. Seperti pernah saya tulis dalam blog ini, dari Kraton ke tugu di utara merupakan bagan yang memiliki makna filosofi  Sangkan paraning dumadi yang kira-kira berarti asal-usul kehidupan manusia dan tujuan asasi hidupnya
Bernilai historis karena di seputaran tempat ini masih banyak bangunan-bangunan bersejarah yang masih sangat terawat. Seperti Gedung Agung, Benteng Vrederburg, Kantor Pos Besar, dan Bank Indonesia. Lebih dari itu dahulu disini juga merupakan medan pertempuran saat Belanda mencoba menduduki kembali kota Yogyakarta. Pertempuran Serangan Umum 1 Maret 1949 atau yang dikenal dengan pertempuran 6 jam di Jogja itu kini ditandai dengan Monumen So 1 Maret di seberang kantor pos besar. Tempat ini semakin memiliki nila historis saat ibukota Negara pindah ke Jogja tempat ini juga menjadi   
Bernilai filosofis sebab jalan Trikora dahulu bernama jalan Pangurakan. Dari kata urak atau nggusah yang berarti mengusir. Apa yang diusir? Di sini awalnya terdapat Gapura Gladag sebagai pintu Gerbang Utama menuju komplek kraton. Beberapa meter sebelah selatannya terdapat Gapura Pangurakan. Pada zamannya dulu Pangurakan merupakan tempat peyerahan suatu daftar jaga (gerbang pos penjagaan). Atau tempat pengusiran dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman/pengasingan, atau mengusir orang-orang yang tidak dikehendaki masuk ke komplek kraton. Tetapi  kalau dihubungkan dengan konsepsi filosofi pembangunan kraton, yang diusir bisa juga nafsu yang tidak baik dalam diri manusia. Ini berkaitan dengan garis lurus antara kraton hingga ke tugu yang memiliki makna filosofi Sangkan paraning dumadi, di mana setiap manusia pasti akan menghadap Sang Khalik, sehingga harus mensucikan diri, membersihkan hati dengan mengusir nafsu yang tidak baik yang ada di dalam dirinya. Di sepanjang jalan ini dulu juga ditanami pohon gayam dan pohon asem. Gayam melambangkan ayom (teduh), ayem (tenteram) dan asem melambangkan sengsem (tertarik). Dengan harapan kraton (Jogja) itu menjadi daerah yang ayom, ayem, tentrem, dan sengsem, teduh, tenteram dan juga menarik. @@

Senin, 08 Agustus 2011

LAMBANG KASULTANAN JOGJA DAN MAKNA FILOSOFISNYA


Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa lampau terdiri dari begitu banyak kerajaan. Kerajaan-kerajaan itu berdiri tersebar diseluruh penjuru nusantara. Eksistensi sebuah kerajaan dibuktikan dengan adanya lambang kerajaan, dimana lambang-lambang itu tidak asal begitu saja dibuat tanpa suatu pertimbangan, makna dan tujuan yang ingin di wujudkan oleh raja atau kerajaan.

Sebagai penerus kerajaan Mataram, Kasultanan Jogjakarta juga memiliki lambang kerajaan yang dikenal sebagai Praja Cihna. Lambang kraton yang dibangun oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I ini di ambil dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua suku kata yaitu Praja dan Cihna. Praja berarti abdi negara sedang Cihna berarti sifat sejati. Jadi praja cihna konon memiliki makna harfiah sifat sejati seorang abdi negara.

Selain makna harfiah, lambang kraton Jogjakarta juga sarat dengan makna filosofi. Dari sudut warna misalnya, warna hitam adalah simbol keabadian, warna kuning dan keemasan melambangkan keluhuran, warna merah berarti berani. Aksara jawa berupa huruf ha dan ba adalah singkatan dari hamengku buwono, gelar penguasa kasultanan Jogjakarta yang berarti memangku atau mengayomi bumi. Mahkota melambangkan pemikiran, pemerintahan dan kepemimpinan, sedang sayap di kedua sisinya melambangkan perlindungan atau pemeliharaan menuju tatanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik. Bunga Padma atau bunga teratai melambangkan kecerdasan serta kebijaksanaan, sedang tumbuhan sulur yang hidup merambat melambangkan kejayaan dan kemuliaan budaya bangsa yang terjaga dan terus berkembang.@@ (Sumber : yahoo answer, Wikipedia dan sumber lain)

Rabu, 18 Mei 2011

JURU KUNCI MERAPI DAN KEARIFAN KHAS JAWA


Siapa yang tidak tahu Gunung Merapi yang ada di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan siapa yang tak mengenal almarhum Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Gunung yang sangat aktif dan selalu mangalami erupsi secara periodik ini memang tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan kraton Yogyakarta. Hubungan kraton dan gunung Merapi sudah bukan rahasia lagi, sebab secara filosofi Gunung Merapi menjadi bagian dari konsepsi pembangunan kraton Yogyakarta.

Dan untuk kepentingan menjaga dan memelihara hubungan itu, pihak kraton Yogyakarta menunjuk seorang abdi dalem yang diberi tanggungjawab untuk itu, yang selama ini kita kenal sebagai Juru kunci. Juru kunci sendiri merupakan abdi dalem kraton yang ditunjuk langsung oleh raja Yogyakarta untuk mengemban tugas menjaga Gunung Merapi dalam arti memelihara tradisi dalam kaitan hubungannya dengan kraton dengan Gunung Merapi. Tidak bisa begitu saja menunjuk seseorang untuk bisa menjadi juru kunci. Penunjukannnya pun harus didasarkan pada beberapa aspek yang menjadi persyaratan seorang juru kunci, seperti aspek keagamaan ,aspek kebudayaan, aspek kekratonan, serta aspek kemasyarakatan. Adalah Mas Penewu Suraksohargo atau yang lebih di kenal sebagai Mbah Maridjan, juru kunci terakhir yang sempat menjadi kontroversi karena juga ikut menjadi korban tewas dalam letusan dahsyat tahun 2010 lalu.

Seperti pernah dimuat di Warta Kota, hubungan antara kraton Yogyakarta dengan Gunung Merapi merupakan simbol hubungan dengan Tuhan. Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah menjelaskan bahwa istilah Juru Kunci Merapi itu sebenarnya merupakan simbol, bukan makna yang sebenarnya. Mbah Maridjan menjadi juru kunci Gunung Merapi menggantikan ayahnya yang meninggal pada tahun 1982, dan ditunjuk langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tetapi konon sejak tahun 1970 Mbah Maridjan muda sudah diangkat menjadi abdi dalem dan sering membantu bahkan mewakili ayahnya yang saat itu menjabat sebagai juru kunci.

Sebagai abdi dalem kraton dengan jabatan juru kunci Mbah Maridjan menunjukkan nilai-nilai kesetiaan yang tinggi, setia menjaga amanah meski harus menanggung resiko yang tidak kecil. Sikap Mbah Maridjan yang terkadang terkesan mbalelo itu semata-mata sebagai wujud akan kesetiaan untuk menjalankan tugas serta tanggung jawab yang di embannya dari Ngarsodalem. Dan ketika ditanya oleh wartawan kapan Gunung Merapi akan meletus, lelaki sederhana yang lahir pada tahun 1927 ini menjawab dengan enteng dalam bahasa Jawa :”Kulo niki tiyang bodho, dados kulo mboten ngertos Gunung Merapi bade mbledos nopo mboten. Awit Merapi meniko wewados. Namung Ingkang Moho Kuwaos ingkang pirso. Menawi kulo mbukak wewados ibaratipun kulo mbukak lawangipun Ingkang Moho Kuwaos ( Saya ini orang bodoh, jadi saya tidak tahu kapan gunung Merapi itu akan meletus atau tidak. Sebab Merapi itu menyimpan rahasia. Hanya Tuhan yang Maha Kuasa yang tahu. Kalau saya buka rahasia, ibaratnya saya mebuka pintu rahasianya Tuhan Yang Maha Kuasa )

Menurut pemahaman Mbah Maridjan Gunung Merapi adalah pusatnya jagad di Tanah Jawa. Ia juga percaya kalau Gunung Merapi itu hidup, yang senantiasa bertambah dan berubah. Jika Gunung Merapi meletus berarti sedang berubah atau bertambah. Dalam pemahaman beliau isyarat alam yang berupa gejolak Gunung Merapi karena eyang yang lenggah di Gunung Merapi sedang hajat membangun “kraton”. Sebagai orang yang "mengerti", Mbah Maridjan pantang menggunakan istilah gunung Merapi meletus, wedhus gembel atau istilah-istilah lain yang terkesan kurang pantas, vulgar, kasar dan negatif. Mbah Maridjan menyarankan semua orang di kawasan Merapi agar membersihkan diri, membersihkan hati, tidak berbuat yang aneh-aneh, apalagi merusak alam sekitar Merapi. Kalau ingin terhindar dari bahaya maka bersahabtlah dengan alam dan jangan merusaknya.

Mbah Maridjan tidak hanya menjadi abdi dalem mewarisi tugas dari ayahnya Mas Penewu Surakso Hargo, Dia juga memakai nama Surakso Hargo yang konon memiliki arti Penjaga Gunung. Tugasnya utamanya sebagai juru kunci adalah melaksanakan upacara ritual di puncak Merapi pada saat peringatan jumenengan ( naik tahta) Sultan Hamengkubuwono setiap tanggal 30 Rejeb Tahun Saka penanggalan Jawa. Tugas lain adalah memelihara dan membersihkan dan melaksakan ritus labuhan di Paseban Labuhan Dalem dan Paseban Sri Manganti yang bewrjarak 1 kilometer dari puncak Merapi. Mengenal sang juru kunci dengan segenap pandangan cultural dan tradisional yang melekat padanya, jelas akan terlihat potret sosok orang Jawa dengan kearifannya yang khas. Sebagai abdi dalem dengan jabatan juru kunci Gunung Merapi, mbah Maridjan lebih banyak melihat fenomena alam menggunakan ketajaman naluri atau instingnya. Setelah ia wafat akhir tahun lalu, kini posisinya digantikan sang anak, Mas Asih atau Mas Lurah Suraksosihono.@@ ( Sumber Warta Kota, Kompas, UII News)

Kamis, 05 Mei 2011

REGOL, ANTARA GERBANG DAN PEMERSATU BANGUNAN ISTANA KRATON JOGJA


Regol adalah pintu gerbang yang berbentuk paduraksa yaitu gapura yang memiliki atap dan daun pintu. Konon regol merupakan pintu gerbang untuk memasuki suatu tempat yang di anggap sakral. Di istana kraton Yogyakarta terdapat beberapa regol yang merupakan pintu penghubung suatu komplek bangunan dengan komplek bangunan yang lain, sehingga semua unsur bangunan di dalam komplek kraton itu tidak berdiri sendiri tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh.

Regol juga tak sekedar pintu atau gapura semata, tetapi juga memiliki makna filosofi . Konon antara gapura Gladak hingga Regol Donopratopo menggambarkan tujuh langkah menuju surga (seven step to heaven). Regol Donopratopo sendiri konon berarti seseorang yang baik selalu memberikan kepada orang lain dengan sukarela dan mampu menghilangkan hawa nafsu. Dua patung Dwarapala yang terdapat disamping gerbang, Balabuta menggambarkan keburukan dan Conkorobolo menggambarkan kebaikan.

Secara berurutan regol-regol itu bisa dijelaskan sebagai berikut :

Regol Brojonolo adalah penghubung antara Siti Hinggil Ler dengan Kamandhungan Ler, dimana bangsal ini dahulu berfungsi untuk mengadili perkara dengan ancaman hukuman mati dengan Sultan sendiri yang memimpin pengadilan. Dan konon gerbang ini hanya dibuka pada saat-saat tetentu saja misalnya pada saat acara-acara resmi kerajaan. Kemudian ada Regol Sri Manganti yang menghubungkan antara Kamandhungan dengan komplek Sri Manganti yang konon pada zamannya digunakan untuk menerima tamu-tamu penting.

Lebih kedalam lagi ada Regol Donopratopo yang menghubungkan komplek Sri Manganti dengan Kedhaton, kediaman keluarga sultan yang tertutup untuk umum. Regol ini menjadi demikian penting karena didepannya berdiri sepasang arca raksasa yang dinamakan Cinkorobolo disebelah timur dan Bolobuto disebelah barat. Dan disisi timurnya juga terdapat pos penjagaan. Komplek Kedhaton menjadi sangat penting karena menjadi inti dari keseluruhan kraton. Komplek kedhaton dibagi menjadi tiga halaman yaitu Pelataran kedhaton, Keputren dan Kesatriyan. Di pelataran Kedhaton terdapat Bangsal Kencono yang tertutup untuk umum.
Kemudian ada Regol Kemagangan yang menghubungkan komplek Kedhaton dengan Bangsal Kemagangan. Bangsal ini pada jamannya digunakan untuyk penerimaan para pegawai, tempat berlatih serta apel kesetiaan para abdi dalem dan pegawai magang. Dan selanjutnya ada Regol Gadung Mlati yang menghubungkan komplek Kamagangan dengan Kamandungan Kidul Di komplek ini terdapat bangunan utama yaitu Bangsal Kamandhungan, bangsal ini konon berasal dari pendapa balai desa Pandak Karang Nangka di daerah Sukowati yang pernah menjadi tempat Sultan HB I bermarkas saat perang tahta. Disisi selatan Kamandhungan kidul terdapat Regol Kamandungan yang menjadi pintu paling selatan dari komplek Cepuri.@@ ( dari berbagai sumber ).

Minggu, 24 April 2011

POHON KEBEN DAN FILOSOFI VEGETASI KRATON JOGJA


Beberapa jenis tumbuhan yang ditanam di lingkungan kraton Yogyakarta merupakan bagian dari konsepsi dasar pembangunan kraton. Tanaman-tanaman itu tak sekedar ditanam dan menjadi penghias kraton tetapi juga memiliki makna filosofi, lebih jauh lagi menjadi harapan sekaligus do’a bagi penanam dan lingkungan yang ditumbuhinya.
Tanaman yang paling terkenal dilingkungan kraton Yogyakarta mungkin sepasang Waringin Sengker (beringin kurung ) di alun-alun utara yakni kyai Dewandaru dan Janandaru. Dua batang pohon beringin ini konon melambangkan makrokosmos dan mikrokosmos, melambangkan dualisme antara rakyat dan pemimpin, antara manusia dan Tuhan.

Di sudut yang lain seperti diantara Bangsal Pagelaran dan Siti hinggil Ler terdapat deretan pohon Gayam. Selain disitu dahulu antara tugu hingga kraton juga ditanami pohon Gayam. Pohon ini memiliki makna ayom dalam bahasa jawa, yang berarti teduh atau sejuk. Kalau sudah ayom kemudian ayem atau tenang, damai, bahagia. Setelah ayom dan ayem kemudian jadi tentrem atau tenteram. Jadi pohon ini melambangkan sebuah harapan agar Yogyakarta atau kraton khususnya menjadi daerah yang ayom, ayem lan tentrem, yang teduh, tenang dan tenteram.
Di komplek Kamandungan Ler dimana Bangsal Ponconiti sebagai bangunan utamanya ditanami pohon Keben. Dalam mitologi jawa pohon ini memiliki makna yang sangat tinggi sebagai lambang eksistensi negara yang agung dan bersih. Keben juga memiliki makna ngrungkebi atau merangkul kebenaran. Tak heran kiranya bila almarhum mantan presiden Suharto menobatkan tanaman ini sebagai tumbuhan perdamaian pada tanggal 5 juni 1986, dalam rangka hari perdamaian sedunia.
Di komplek Kedhaton yang merupakan inti dari kraton secara keseluruhan, halamannya dirindangi oleh pohon-pohon Sawo kecik ( Manikara kauki). Sawo kecik konon bermakna Sarwo becik dalam bahasa jawa, atau serba baik, atau penuh kebaikan dalam bahasa Indonesia.

Garis imaginer antara Panggung Krapyak, Kraton hingga Tugu melambangkan filosofi Sangkan Paraning Dumadi, asal usul manusia dan asasi tujuan akhirnya. Antara Panggung Krapyak hingga Kraton menggambarkan asal-usul (sangkan) manusia dari lahir, dewasa, menikah hingga melahirkan. Maka dahulu banyak ditanami pohon Asem dan Tanjung. Mengapa Asem dan Tanjung? Daun Asem yang masih muda namanya Sinom artinya gadis yang masih anom(muda). Gadis yang masih muda akan menimbulkan rasa Sengsem(Asem) atau rasa tertarik. Kalau sudah tertarik maka kemudian akan menyanjung (Tanjung).@@ Sumber: KR,Tempo, Wikipedia.

Senin, 28 Maret 2011

ALUN-ALUN KRATON, YANG TAK SEKEDAR TANAH LAPANG


Alun-alun merupakan tanah lapang yang terbuka yang berumput yang dikelilingi oleh jalan yang dapat digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai keperluan. Menurut Van Romondt seperti yang dimuat dalam wikipedia pada dasarnya alun-alun merupakan halaman depan rumah dalam ukuran yang cukup besar.

Pada masa kerajaan konon alun-alun merupakan tempat untuk berlatih perang (glady yudha) bagi para prajurit kraton. Alun-alun juga menjadi tempat untuk penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) dari raja kepada kawula atau rakyatnya. Alun-laun pada masa lampau juga digunakan sebagai pusat hiburab rakyat seperti tradisi rampogan, dimana dilepaskan seekor harimau yang dikelilingi para prajurit bersenjata.

Pada masa kerajaan Mataran alun-alun juga digunakan untuk pisowanan agung dimana rakyat menghadap sang raja. Diluar fungsi-fungsi sosial budayanya alun-alum kraton juga memiliki makna filosofi. Alun-alun utara kraton Yogyakarta misalnya, tanah lapang didepan Bangsal Pagelaran kraton itu konon juga melambangkan suasana jiwa yang kosong pada saat raja sedang bersemedi. Sedang alun-alun selatan disamping sebagai halaman belakang kraton, konon alun-alun kidul dibangun juga untuk mengesankan halaman belakang kraton agar seperti bagian depan. Ini dimaksudkan agar posisi kraton yang menghadap ke utara (gunung Merapi)tidak terkesan membelakangi laut selatan, dimana kita tahu bahwa antara gunung Merapi, kraton dan laut selatan merupakan satu kesatuan yang utuh yang membentuk garis garis imaginer yang bermakna Manunggaling Kawula Gusti.@@( dari berbagai sumber )

Minggu, 02 Januari 2011

PARANGKUSUMO, YANG SAKRAL DAN BERAROMA MAGIS


Parangkusumo merupakan Pantai yang masih berada dalam satu kawasan dengan Pantai Parangtritis di Jogja. Di komplek Pantai Parangtritis sendiri terdapat tiga tempat yang merupakan satu kesatuan. Parangtritis, Parangkusumo dan satu lagi Parangwedang. Berbeda dengan Parangtritis dan Parangkusumo yang merupakan pantai , Parangwedang adalah sumber air panas yang bisa untuk pengobatan, terutama penyakit kulit.

Di Pantai Parangkusumo ada sebuah tempat yang disakralkan, dimana tempat yang berupa gundukan batu dari sebuah peristiwa geologi pada ribuan tahun lalu itu, dipercaya sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dan raja-raja Mataram beserta keturunannya dengan Nyai Roro Kidul. Dalam bangunan yang disebut Puri Cepuri itulah konon sang Nyai bertemu dengan sang raja yang bergelar Senopati ing alogo itu.

Maka tidak heran bila anda sempat berkunjung kesana, akan menyaksikan orang-orang yang ngalap berkah dengan membuat sesaji berupa kembang dan membakar kemenyan. Nuansa sakral dan aroma magis sangat kental terasa. Untuk sekedar menambah wawasan tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. Sedang untuk percaya atau tidak tentu kembali kepada diri masing-masing. Tempat ini paling tidak akan membuktikan keterkaitan Kraton dengan laut selatan, terlepas anda percaya atau tidak akan keberadaan Nyai Roro Kidul juga kisah cintanya dengan Panembahan Senopati atau raja-raja Mataram beserta keturunannya.@@

Minggu, 26 Desember 2010

NYAI RORO KIDUL, KRATON, DAN KOSMOLOGI TANAH JAWA


Legenda tentang Nyai Roro Kidul sangat melekat pada tanah Jawa. Seluruh kawasan pantai selatan jawa mulai dari Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Parangtritis, Pacitan, Jember hingga Banyuwangi bahkan pulau Bali semua paham akan cerita atau legenda tentang Nyai Roro kidul. Bahkan kebanyakan masyarakat yang percaya akan keberadaannya akan selalu dikaitkan dengan keberadaan Kraton. Sebagian dari mereka bahkan percaya bila sang Nyai juga merupakan istri dari raja-raja Mataram dan keturunannya. Maka tak heran kalau sang Nyai sering terlihat dalam banyak peristiwa yang berkaitan dengan Kraton.

Dalam tari Bedoyo misalnya, penarinya selalu tambah satu, ya sang Nyai itu, meski tidak setiap orang bisa melihatnya. Atau pada saat jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono X misalnya. Menurut kesaksian, beberapa orang sempat melihatnya disekitar Kraton. Siapa dia sebenarnya? Betul adakah sosok Nyai Roro Kidul itu?

Sebuah penjelasan ilmiah saya dapatkan dari buku yang ditulis oleh budayawan Emha Ainun Najib. Dalam buku berjudul Markesot Bertutur Lagi itu, Cak Nun sapaan akrab Emha menjelaskan secara gamblang dan apik tentang siapa Nyai Roro Kidul yang selama ini kita kenal sebagai hantu cantik penguasa laut selatan itu.

Ternyata kemudian Nyai Roro Kidul bukanlah seseorang, bukan hantu atau makhluk halus seperti ilmu klenik selama ini memahaminya. Lebih lanjut Cak Nun menjelaskan, menurut seorang sunan, seorang waliyullah, yang pada saat penting selama jumenengan ndalem selalu mendampingi Ngarso dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, Nyai Roro Kidul adalah pusat frekwensi dari kosmos air dan cahaya rembulan yang menyelimuti dan merasuki tanah Jawa. Nyai Roro Kidul adalah inti dari takdir geografi pulau Jawa, kodrat alam watak, dan peradaban yang khas pulau Jawa,

Dalam buku itu kemudian sang budayawan menjelaskan lebih lanjut bahwa, kodrat semacam itu memungkinkan kemanusiaan jawa mampu memahami kosmos nilai islam-yaitu nilai yang merupakan titik keberangkatan segala konsepsi pembangunan Kraton Jogja, maka pas kalau raja Jogja juga bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah. Isalmnya orang jawa akan berbeda kearifan dan kelenturannya, bila dibanding dengan isalmnya orang Arab misalnya, atau islamnya ras lain yang tinggal di kodrat geografi yang berbeda.

Tetapi rupanya paerspektif itu selama ini diselewengkan atau dipahami secara dangkal dan kemudian menjadi klenik. Lebih lanjut kata Cak Nun sang sunan menjelaskan bahwa Nyai Roro Kidul itu bukan kejawen, Nyai Roro Kidul adalah lambang dari kosmologi pulau Jawa. Dan hanya keilmuan Al-Qur'an yang mampu menjelaskan semua ini. Puncak dari gelimang air pulau Jawa adalah madu. Sedang puncak dari gelimang cahaya rembulan adalah Lailatul Qodar.@@

Rabu, 22 Desember 2010

MAKNA FILOSOFI GUNUNG MERAPI, KRATON DAN LAUT SELATAN


Dengan konsepsi filosofinya, tata ruang Kraton dengan adanya tugu golong gilig di utara dan Panggung Krapyak di selatan menggambarkan Lingga dan Yoni yang bermakna kesuburan. Antara Tugu, Kraton dan Panggung Krapyak yang satu garis lurus merupakan sumbu filosofinya Kraton Yogyakarta.
Dikatakan sumbu filosofi karena garis penghubung Tugu, Kraton dan Panggung Krapyak merupakan sumbu yang nyata yang berupa jalan. Adapun sebagai sumbu imajinernya adalah dari Gunung Merapi, Kraton, dan Laut Selatan.

Mengingat Sultan Hamengkubuwono I yang juga sebagai Sayidin Panatagama Kalifatullah, maka konsep kosmogoni yang berbau Hinduistis tersebut diubah menjadi konsep filosofi islam dan budaya jawa. Hubungan antara Panggung Krapyak, Kraton dan Tugu merupakan konsep filosofi Sangkan Paraning Dumadi.
Sedang hubungan Gunung Merapi, Kraton dan Laut Selatan merupakan konsep Manunggaling Kawulo Gusti, begitu papar KRT Widya Anindita seperti di lansir Harian Kedaulatan Rakyat.
Dari Panggung Krapyak ke utara sampai Kraton menggambarkan seorang bayi sejak lahir dari rahim sang ibu, menginjak dewasa, berumah tangga, sampai melahirkan kembali. Oleh karenanya disisi barat laut Panggung Krapyak, terdapat kampung Mijen yang berarti “wiji” atau benih manusia. Dan tanaman disekitarnya adalah pohon Asem dan Tanjung. Daun asem yang masih muda namanya Sinom sehingga makna simbolisnya adalah gadis yang masih anom ( muda ) akan menimbulkan rasa sengsem ( tertarik ) bagi lawan jenisnya sehingga ia akan di sanjung.
Dari Tugu ke Kraton adalah melambangkan perjalanan manusia menghadap sang khalik. Untuk itu seharusnya jangan ada penggantian nama jalan di wilayah itu. Contohnya jalan P. Mangkubumi yang dulu bernama Margotomo yang berarti jalan menuju keutamaan. Kemudian disambung dengan jalan Malioboro yang bermakna nganggo obor ajaraning para wali. Dan jalan Ahmad Yani itu dulu bernama jalan Margomulyo berasal dari kata Margo yang berarti jalan dan Mulyo yang berarti kemuliaan. Sedang yang sekarang Jalan Trikora itu dahulu bernama Pangurakan yang berasal dari kata “urak” yang berarti nggusah atau mengusir. Apa yang di usir? Yang diusir adalah nafsu yang kurang baik. Bagi setiap insan yang mau menghadap sang khalik, harus didasari dengan kesucian hati.

Jenis tanaman yang tumbuh sekelilinya juga tidak perlu diubah karena memiliki filosofi, dahulu disepanjang jalan Malioboro ditanami pohon Gayam ( ayom ) dan Asem ( sengsem ). Ditambahkan kerabat Kraton yang lain KRT H Jatiningrat ( RM Tirun Marwoto SH ) sebetulnya disekitar antara Tugu hingga kantor pos dulu ditumbuhi pohon asem dan gayam. Hal ini adalah cara Sultan Hamengkubuwono I mengharapkan sesuatu dengan ridho Allah agar ayom-ayem dan sengsem. Untuk itu masyarakat yang tinggal di Yogya pasti krasan karena di ayomi oleh pemimpinnya. Istilahnya seneng atine mergo diayomi ratune.

Ini sebenarnya persis dengan do’a Ibrahim ketika membangun Ka’bah agar masyarakat datang berdo’a. Sedang Sultan Hamengkubuwono I dengan symbol itu dan berharap kota menjadi ayom, ayem dan tentrem. Dan sepertinya berhasil, terbukti banyak orang yang kemudian datang ke Jogja dan menetap disana.@@ ( Sumber: Kedaulatan Rakyat )

Selasa, 21 Desember 2010

JOGJA, SUDAH ISTIMEWA SEJAK JAUH SEBELUM INDONESIA MERDEKA


Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat sudah istimewa sebelum Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY ) lahir atau jauh sebelum Indonesia merdeka. Terbentuknya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat melalui proses yang sangat panjang. Semua itu berangkat dari filosofi baik meliputi letak Kraton Yogyakarta secara geografis, konsep tata ruang, dan filosofi Kraton Yogyakarta, hingga filosofi vegetasi ( tanaman ) sangat melekat dengan Kraton Yogyakarta.
Berawal dari Raja Kartosuro yang sekaligus ayahanda Pangeran Mangkubumi, Sunan Amangkurat IV ( Sunan Amangkurat Jawi ) yang pernah mendapat wisik ( ilham ) bahwa wahyu Kraton jatuh di desa Pacethokan, alas Beringan yang saat ini berdiri Kraton Yogyakarta.
Oleh Sunan Amangkurat Jawi tempat beliau mendapat ilham kemudian dibangun pesanggrahan yang bernama Garjitawati. Kemudian oleh Sunan Pakubuwono II, putra Sunan Amangkurat IV sekaligus kakanda Pangeran Mangkubumi, nama pesanggrahan Garjitawati kemudian diganti menjadi Ngayogya.

Secara geografis Kraton Yogyakarta diapit oleh 6 sungai yang simetris. Di sisi timur ada sungai Code, sungai Gajah Wong dan sungai Opak. Sedang di sisi barat terdapat sungai Winongo, sungai Bedog dan sungai Progo. Sedangkan disebelah utara ada gunung Merapi dan sebelah selatan Samudra Indonesia ( laut kidul ). Penentuan letak Kraton Yogyakarta oleh Pangeran Mangkubumi ( Sultan Hamengkubuwono I ) di lkasi ini dapat dianalogikan dengan pemilihan lokasi bangunan suci, bahkan menurut kepercayaan agama hindu tempat semacam ini merupupakan tempat yang disucikan ( sanctuary area ).

Demikian di ungkapkan ketua Dewan Kebudayaan DIY, KRT Widya Anindita ( Ir. Yuwono Sri Suwito MM ) kepada Harian Kedaulatan Rakyat. Menurutnya dengan tata ketak Kraton Yogyakarta dan filosofi yang mendasarinya, ditambah dengan pengaturan ruang dan bangunan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I yang sarat dengan makna simbolis dan filosofis, maka tidak berlebihan bila dikatakan Yogyakarta sudah istimewa sejak pendiriannya, jauh sebelum propinsi DIY terlahir, jauh sebelum Indonesia merdeka.@@ ( Sumber : Kedaulatan Rakyat )

Sabtu, 27 November 2010

JALAN MALIOBORO, MAKNA DAN ARTI PENTINGNYA


Jalan Malioboro merupakan jalan yang sangat terkenal di Jogjakarta, saking terkenalnya mungkin orang merasa belum afdol kalau berkunjung ke Jogja tak mampir di jalan yang sangat fenomenal itu. Malioboro menurut sebuah sumber konon berasal dari kata, Maliya saka bara yang konon berarti mulia dari pengembaraan. Sumber yang lain sebuah artikel di Kompasiana juga pernah menjelaskan bahwa kata Malioboro berarti Jalan Bunga, karena menghubungkan jalan Pasar Kembang di utara dengan kawasan Pasar Gede ( Beringharjo ) dan kawasan pecinan di selatan. Dan menurut konsepsi islam yang merupakan dasar dari segala konsepsi pembangunan Kraton, juga bisa diartikan nganggo obor ajaraning para wali.

Keberadaan jalan Malioboro juga tak bisa dipisahkan dengan keberadaan kraton Jogja, karena jalan itu berada lurus keutara mengarah ke Tugu Jogja. Kini jalan Maliboro merupakan pusat pemerintahan karena kantor gubernur dan kantor DPRD ada diwilayah itu. Disamping itu kawasan itu kini merupakan kawasan bisnis yang berkembang pesat dan juga merupakan kawasan yang bersejarah, Malioboro kini menjadi salah satu pusat wisata yang sangat penting dan ikut melambungkan nama Jogja sebagai kota tujuan wisata. Yang menarik lagi di tempat ini segala macam transpotasi baik yang tradisional seperti becak dan andong serta yang modern seperti bis kota dan taksi berpadu tanpa merasa ada persaingan di antara mereka.
Sebagai tujuan wisata Malioboro sangat menarik karena merupakan pusat jajanan dan juga pusat cinderamata, yang tentu sangat dibutuhkan para wisatawan sebagai oleh-oleh. Dilengkapi dengan hotel-hotel yang terus dibangun, baik yang non bintang dan berbintang, serta pusat belanja moderen, Malioboro kini sempurna mengukuhkan Jogja sebagai kota tujuan wisata.

Selasa, 23 November 2010

POHON BERINGIN KRATON JOGJA, KERAMATKAH?


Semua bangunan yang berada didalam lingkungan kraton Yogyakarta memiliki arti dan dibangun dengan konsep yang jelas. Termasuk beberapa pohon beringin baik yang ada di alun-alun selatan maupun alun-alun utara. Lalu apakah makna pohon-pohon beringin itu bagi kraton...? Dulu di alun-alun utara kraton Yogyakarta ada dua batang pohon beringin yang cukup dikenal yaitu kyai Jalandaru dan kyai Dewandaru, tetapi dalam buku Markesot Bertutur Lagi budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menjelaskan bahwa konon dahulu dialun-alun utara kraton Yogyakarta ada enampuluh dua pohon beringin.

Alun-alun sendiri melambangkan pencapaian jiwa yang kosong saat raja bersemedi. Enampuluh dua batang pohon beringin itu kalau ditambah satu batang lagi, yaitu batang tubuh sang raja maka akan menjadi enampuluh tiga. Angka ini adalah jumlah tahun usia Nabi Muhammad SAW. Adapun dua pohon beringin ditengah alun-alun adalah lambang dari diri kita sendiri, yaitu suatu dualisme antara gusti dengan kawula. Antara manusia dengan Tuhan atau antara rakyat dengan pemimpin (raja).Jadi pohon-pohon beringin itu termasuk didalam konsep arsitektur bangunan kraton yang diirancang oleh Pangeran Mangkubumi. Jadi pohon-pohon beringin itu sebenarnya tidak keramat, tetapi merupakan bagian dari konsepsi relgius dalam mendirikan kraton Yogyakarta.@@

Sabtu, 13 November 2010

MAKNA DAN ARTI PENTING TUGU JOGJA


Seringkali berkunjung ke Jogja, dan sering melihat tugu jogja, tetapi mungkin banyak diantara anda yang belum mengetahui arti penting keberadaan tugu itu. Keberadaan tugu jogja yang berdiri kokoh dan berada tepat di tengah perempatan, di ujung Jl. Jend. Sudirman atau Jl.P Mangkubumi itu ternyata bukan sekedar untuk memperindah suasana, tetapi keberadaan tugu itu memiliki arti yang sangat penting. Dan pemilihan tempat dimana sekarang tugu itu berdiri juga tidak sembarangan. Keberadaan tugu dan tempat tugu itu berdiri tidak bisa dipisahkan dari keberadaan keraton Jogja sebagai sentralnya. Dan keberadaan tugu itu dibangun dengan konsepsi yang jelas dan berdimensi religious. Menurut beberapa sumber dari beberapa buku yang salah satunya ditulis oleh budayawan Emha Ainun Nadjib, tugu itu merupakan pusat inti pandang ( point of view ) ketika raja-raja Jogja melakukan semedi, mengheningkan cipta, melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri.

Meski telah mengalami perubahan bentuk awal yang tadinya golong gilig, tiangnya berbentuk silinder dan pucuknya berbentuk bulat, sebagai lambang persatuan dan kesatuan. Tugu itu sempat beberapa kali dibangun, pada tahun 1867 tugu itu runtuh tak berbentuk karena gempa dahsyat yang melanda Jogja. Baru pada tahun 1887 ketika Pemerintah Kolonial Belanda merenovasi tugu itu, menjadi bentuk yang sekarang berbentuk persegi dan pucuknya tak lagi bulat tetapi berbentuk kerucut. Tidak lagi disebut tugu golong-gilig tetapi memiliki nama baru : tugu pal putih, yang bermakna kesejahteraan bagi pemimpin negara, dan konon ketinggian tugu juga turun sekitar 10 meter dari semula.

Jika anda perhatikan dari keberadaan tugu itu jika ditarik garis lurus keselatan melewati Jl.P. Mangkubumi, Jl. Malioboro , Jl. Ahmad Yani dan Jl.Trikora maka akan berakhir di alun-alun utara dan keraton. Selanjutnya dalam buku itu dijelaskan bahwa bagan alam didepan semedi sang raja yang merupakan garis tegak lurus itu melambangkan Alif Mutakalliman Wahid, yang berarti Manunggaling kawulo gusti.Ini bisa bermakna bersatunya rakyat dengan rajanya ( pemimpin ) atau bersatunya manusia dengan Tuhan.@@

Jumat, 06 Agustus 2010

PLENGKUNG NIRBAYA : JALAN BELAKANG KELUAR KOMPLEK KERATON


Sebagai kota tujuan wisata Jogja memiliki banyak tempat-tempat yang indah. Selain keraton, Jogja memiliki banyak bangunan-bangunan yang bersejarah dan bernilai budaya. Bangunan unik ini akan sangat sulit sekali anda temui di tempat lain. Karena bangunan ini berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Yogyakarta. Bangunan ini di bernama Plengkung Nirbaya, atau lebih terkenal dengan sebutan Plengkung Gading. Konon plengkung Nirbaya merupakan jalan belakang komplek Kraton dan menjadi ujung selatan dari bagan bangunan kraton. Jalan ini konon juga menjadi pinti masuk Sultan HB I ketika memindahkan pesanggrahannya dari Ambar ketawang ke Jogja. Jalan ini juga menjadi awal prosesi panjang upacata pemakaman para raja-raja kasultanan Jogja yang telah mangkat untuk kemudian terus ke selatan menuju pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri Bantul. Konon Jalan ini tidak boleh dilewati oleh raja yang sedang bertahta.

Tetapi kini Plengkung Nirbaya menjadi bangunan yang berfungsi sebagai pintu masuk atau keluar komplek keraton bagi masyarakat luas, sebab ini merupakan jalan umum yang cukup ramai. Plengkung Nirbaya berada di sisi selatan, dan menurut sebuah sumber Nirbaya berasal dari dua kata yaitu Nir yang berarti tanpa dan baya yang berarti bahaya. Mungkin ini menjadi sebuah harapan agar perjalanan para raja yang sudah mangkat menuju peristirahan yan terakhir agar lancar, aman tidak menemui halangan. Dan pada masa kini Plengkung Nirbaya berarti tanpa bahaya atau tidak bahaya. Secara lengkap Plengkung Nirbaya bisa berati, pintu keluar masuk komplek keraton yang aman, jalan yang selamat menuju komplek keraton. Banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke keraton tetapi tidak tahu tentang bangunan ini. Bila suatu saat anda datang ke Jogja, tidak ada salahnya anda untuk secara lebih dekat mengenali bangunan unik ini.@@

Selasa, 27 Juli 2010

GUNUNG MERAPI : ANTARA FILOSOFI, KEINDAHAN ALAM DAN MITOS


Pemandangan yang menyejukkan ini adalah Plunyon, sebagian kecil panorama indah yang disuguhkan Gunung Merapi. Dan ada banyak tempat-tempat lain yang sudah banyak dikenal orang semisal Kaliurang atau Kaliadem. Gunung Merapi yang terletak di empat kabupaten yakni Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali ini memang banyak menyimpan potensi sekalugus ancaman. Bagi penduduk setempat, tanahnya yang sangat subur adalah ladang kehidupan mereka. Tak heran desa-desa di lereng Merapi mencapai ketinggian hingga 1700 an meter.

Gunung berapi aktif yang terletak kurang lebih 30 km utara kota Jogja ini juga termasuk gunung api paling aktif di dunia. Menurut catatan sejak tahun 1548 gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali, dan letusan terakhir pada tahun 2010, yang menyebabkan semburan awan panas, atau penduduk setempat menyebutnya sebagai wedus gembel,dan muntahan matreal vulkanik yang berupa pasir, kerikil dan batu. Letusan kali ini menjadi letusan terbesar setelah lebih dari 130 tahun, dan menelan korban jiwa lebih dari 300 jiwa, termasuk sang juru kunci yaitu Mas Penewu Suraksohargo atau yang lebih dikenal sebagai mbah Marijan.
Gunung yang memiliki ketinggian hingga 2968 meter diatas permukaan laut ini erat sekali dengan banyak mitos yang melingkupinya. Salah satunya adalah mitos tentang Nyai Gadung Melati, hantu cantik penunggu dan penjaga gunung Merapi atau mbah Petruk yang banyak di muat media saat gunung Merapi meletus.

Gunung Merapi juga sangat berkaitan erat dengan sejarah keberadaan kota Jogja, dengan Keraton sebagai pusatnya. Masyarakat Jawa sangat percaya bila kehidupan di dunia ini merupakan harmonisasi antara makrokosmos ( jagad besar ) dan mikrokosmos ( jagad kecil ). Laut selatan, Kraton, dan gunung Merapi adalah kesatuan yang tak bisa di pisahkan. Ketiganya membentuk garis lurus yang konon merupakan sumbu imaginer yang bermakna filosofi manunggaling kawula gusti. Gunung Merapi dan laut selatan konon dipercaya sebagai pusat kedudukan jagad cilik, sedang keraton merupakan pusat kedudukan jagad gede, dan semua harus seimbang. Maka dari itu, tempat ini sangat layak untuk anda jadikan proritas kunjungan anda, bila anda berkunjung ke Jogja. Untuk informasi tentang Gunung Merapi secara lengkap anda bisa mengunjungi musium gunung Merapi. Banyak informasi yang bisa anda akses, termasuk beberapa legenda dan mitos yang berkembang di masyarakat, seputar gunung Merapi serta kosmologi gunung ini.@