Hari Senin jam 08.00 pagi, seperti biasa Jakarta macet total. Antrian panjang kendaraan bermotor baik roda dua atau roda empat terjadi di setiap perempatan jalan di seluruh pelosok Jakarta. Tak terkecuali di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, salah satu kawasan perkantoran tersibuk di ibu kota. Di situ berdiri megah gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Sebagai kawasan bisnis, tak heran bila disana juga berdiri megah hotel-hotel bintang lima, apartemen dan tentu shopping mall. Semakin siang, kemacetan akan semakin panjang dengan keberadaan kantor-kantor kedutaan asing di sepanjang jl. HR Rasuna Said.
Sebuah mobil Daihatsu Xenia warna hitam, lolos dari kemacetan memasuki sebuah pelataran parkir di sebuah gedung perkantoran tak jauh dari Menara Imperium. Seorang perempuan muda dengan kaca mata gelap keluar dari mobil, menenteng tas hitam yang berisi lap top yang super canggih, hand phone keluaran terbaru dan file holder yang berisi beberapa lembar kertas. Namanya Stella Farryna, sekertaris direksi pada perusahaan asuransi swasta nasional yang cukup ternama. Sebagai executive muda, tentu dia sudah akrab dengan pergaulan high class dan gaya hidup metropolitan ala ibu kota. Shopping di mall, dinner di restauran bintang lima, nongkrong di cafe, perawatan tubuh di salon atau spa, clubbing, dan menikmati week end di Bali atau pantai Carita.
Tinggal di apartemen kelas menengah, mbak Stella ingin membuktikan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu exis, di tengan persaingan Jakarta yang sangat ketat, bahkan kejam. Sukses meniti karir adalah impiannya, membuat simboknya di kampung bahagia adalah impiannya yang lain. Dan kerja keras yang tak kenal lelah pun terbayar sudah, dengan menduduki jabatan bergengsi sperti yang di sandangnya sekarang.
Tak ada orang yang tahu, dibalik kesuksesannya, mbak Stella mengunci rapat identitas diri yang sebenarnya. Terlahir dengan nama asli Siti Parinah, anak dari yu Romlah, penjual SGPC alias sego pecel yang sering mangkal di stasiun Kroya, Cilacap jawa tengah. Ia memutuskan untuk mengganti namanya, karena nama pemberian dari orang tuanya itu dianggap terlalu ndeso alias kampungan. Tidak komersial, tidak laku dijual di Jakarta. Merantau ke Jakarta bermodal ijazah SMP, Siti Parinah bekerja sebagai baby sitter pada keluarga orang asing di Jakarta. Seorang bule berkebangsaan Jerman, yang bekerja pada sebuah perusahaan pertambangan.
Nasibnya sungguh mujur, sama sang bule ia diajari bahasa inggris dan di kursuskan komputer, bahkan pada suatu kesempatan, ia bisa ikut ujian persamaan SMA. Tiga tahun kemudian pada saat sang majikan mengakhiri tugasnya di Jakarta, dan pulang ke negaranya, Siti Parinah sudah terlanjur lancar cas, cis, cus. Dan ketrampilannya mengoperasikan kotak ajaib yang bernama komputer pun tidak di ragukan lagi. Karena jasa sang majikan pula, ia mengenal internet dengan segala macam seluk-beluknya. Sebelum pulang ke negaranya, sang bule pun tidak ragu untuk menitipkan ia pada seorang temannya yang menjadi direktur sebuah perusahaan asuransi. Memulai bekerja sebagai staff biasa, ia memang dikenal sebagai pekerja keras, rajin, ulet, dan sangat loyal. Ia terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kursus, seminar, workshop dan kuliah-kuliah singkat, yang pada kemudian hari terbukti mampu mendongkrak karirnya. Segala usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia, hingga ia mampu menduduki posisi mentereng seperti sekarang ini.
Tetapi mengapa namanya mesti diganti..? Memangnya kalau ingin sukses di Jakarta harus pakai nama yang komersial, nama ndesonya diganti dengan nama yang lebih marketable. Siti jadi Stella, Parinah jadi Farryna. Orang jaman sekarang ini suka aneh, nama saja kok di perso'alkan. Sukanya faktor luaran saja, lebih suka kulit dari pada isinya. Namanya saja yang bagus, tapi otaknya suka ngeres. Badannya saja yang bersih, tapi mulutnya suka makan yang kotor-kotor, hasil mencuri, menjarah, merampok, korupsi dan sejenisnya. Kisah Siti Parinah alias Stella Farryna, mengingatkan saya akan cerita kuno yang dulu sering didongengkan mbah buyut, waktu saya masih kecil. Cerita tentang Kere munggah mbale...@@.
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Maret 2017
Jumat, 24 Desember 2010
YU PAIRAH, SELAMAT HARI IBU YA. . . . .
Hari Rabu siang tanggal 22 Desember. Seperti hari-hari biasa lalu lintas Jakarta diwarnai kemacetan disana-sini. Meskipun begitu tak menyurutkan niat Suryo untuk terus menginjak pedal gas Honda Jazznya dan terus melaju menuju ke sebuah Plaza di kawasan Kelapa Gading Jakarta Utara. Sudah menjadi acara rutin tahunan setiap datang hari ibu, ia selalu memanjakan istrinya. Melarang istrinya bekerja membereskan semua pekerjaan rumah tangga, dan mengajaknya jalan-jalan, serta memenuhi apapun permintaan istrinya dihari yang special buat para ibu itu.
Sebagai seorang pengusaha yang sukses, hidup berkecukupan dan tinggal di sebuah komplek elite dikawasan Jakarta Timur ia tak akan pernah mengalami kesulitan untuk memenuhi setiap permintaan istrinya, bahkan bila permintaan spesial itu datang setiap hari, bukan setahun sekali pada setiap datangnya hari ibu. Cara menyambut datangnya hari ibu seperti ini memang khas mereka, bahkan istrinya tak pernah meminta, tetapi ide ini datang dari Suryo sang suami. Dan hari ini tepat datangnya hari ibu, Miranda meminta beberapa perhiasan, dan ingin menikmati makan siang di sebuah restoran jepang.
Jam 11.47 WIB mobil Honda Jazznya memasuki sebuah plaza yang cukup terkenal dikawasan Kelapa Gading. Setelah memastikan mobil terparkir dengan aman, Suryo, Miranda dan putri kecilnya yang dalam gendongan baby sitter naik menuju lantai atas dan memasuki sebauh jewelry yang saat itu tidak begitu ramai pengunjung. Setelah mendapatkan perhiasan yang diinginkan mereka langsung menuju sebuah restoran jepang yang berada satu lantai diatasnya.
Terjadi sebuah antrian kecil sebab memang sudah memasuki jam makan siang. Tetapi demi memanjakan sang istri, Suryo ikut mengantri dengan sabar. Sesaat kemudian meja makan mereka sudah penuh oleh makanan. Demi memanjakan sang istri Suryo memesan makanan yang cukup banyak, meski hanya untuk berempat dengan gadis kecil beserta sang baby sitter. Beberapa mangkok nameko jiru, tempura, shabu-shabu, ika ring age dan niwatori terriyaki juga eby furray memenuhi meja makan mereka. Mereka kelihatan lahap menyantap hidangan jepang, pada lunch yang dahsyat dan canggih itu. Sang baby sitter pun kelihatan merem melek kepedesan oleh wasabi, sambal jepang yang unik itu. Di akhir acara makan siang yang mantap itu, Suryo megecup kening istrinya sambil mengucapkan, “ Selamat hari ibu sayang, berbahagia dan berbanggalah jadi seorang ibu, sebab dari rahim seorang ibulah orang-orang hebat yang merubah dunia di lahirkan…”.
Di belahan bumi yang lain yu Pairah tengah mandi keringat, tangan kecilnya yang menghitam karena sengatan matahari masih terus menari mengumpukan batu-batu dan kemudian memecahnya menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil. Setelah terkumpul banyak lalu menaikkannya ke atas truk. Ia terpaksa menjalani pekerjaan kasar sebagai pencari batu di salah satu sungai yang berhulu di Gunung Merapi, untuk tetap bertahan hidup. Suaminya kang Ngatijan juga memiliki profesi yang serupa, ia juga “berkantor” di sungai sebagai penggali pasir. Kebodohan dan himpitan ekonomi membuat yu Pairah tidak memiliki pilihan lain. Untuk menghidupi kedua anaknya yang sudah bersekolah ia harus rela melakukan apasaja, termasuk menggeluti pekerjaan kasar sebagai pengumpul dan pemecah batu.
Nasibnya tak seberuntung Miranda. Ibu muda yang menikmati kehidupan menyenangkan di kota Jakarta. Setiap datang hari ibu, Suryo sang suami selalu mamanjakannya, melarangnya bekerja dirumah, mengajaknya jalan-jalan, makan siang di restoran dan memenuhi setiap permintaannya di hari yang spesial untuk para ibu itu. Hari ibu adalah hari yang di tunggu buat Miranda. Setiap kali hari ibu datang, selalu menjadi hari yang menyenangkan buat Miranda. Bukan saja hari itu sebagai penghargaan pada para ibu termasuk dirinya, tetapi juga perlakuan khusus Suryo atas dirinya pada setiap datangnya hari spesial itu.
Hal itu sangat bertolak belakang dengan keadaan yu Pairah. Pada hari yang special buat para ibu itu, yu Pairah harus tetap bekerja, memeras keringat, membanting tulang untuk mempertahankan hidup. Jadi saya sangat maklum kalau ia tidak ingat, kalau hari ini adalah hari ibu. Atau bahkan kalau ia tidak perduli lagi dengan hari ibu pun saya juga maklum, sebab berpuluh-puluh hari ibu yang telah lewat tidak pernah bisa merubah hidupnya. Baginya bahkan bila dalam setahun ada sepuluh kali hari ibu pun tidak akan berarti apa-apa. Sebab ada hari ibu atau tidak ia tetap hidup susah dan ngrekasa.
Dan bertepatan dengan hari ibu tahun ini, disana, diberbagai tempat yang masih menjadi bagian dari wilayah negeri ini, banyak sekali yu Pariah yu Pairah yang lain, yang tak berdaya, yang terlunta-lunta, yang terseok-seok hidupnya, yang tak mampu menyekolahkan anaknya, yang menjadi korban KDRT, yang menjadi korban perdangangan manusia, yang menjadi korban pembunuhan, yang menjadi korban mutilasi. Ah.., ternyata yu Pairah tidak sendiri. Ada beribu-beribu atau bahkan berjuta-juta yu Pairah yang lain yang menunggu pertolongan dan pemberdayaan untuk bisa bangkit dari jurang kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan menuju hidup yang lebih baik dan sejahtera. Selamat hari ibu yu Pairah, semoga pada hari ibu tahun depan keadaamnu sudah lebih baik dari pada saat ini.@@
Sebagai seorang pengusaha yang sukses, hidup berkecukupan dan tinggal di sebuah komplek elite dikawasan Jakarta Timur ia tak akan pernah mengalami kesulitan untuk memenuhi setiap permintaan istrinya, bahkan bila permintaan spesial itu datang setiap hari, bukan setahun sekali pada setiap datangnya hari ibu. Cara menyambut datangnya hari ibu seperti ini memang khas mereka, bahkan istrinya tak pernah meminta, tetapi ide ini datang dari Suryo sang suami. Dan hari ini tepat datangnya hari ibu, Miranda meminta beberapa perhiasan, dan ingin menikmati makan siang di sebuah restoran jepang.
Jam 11.47 WIB mobil Honda Jazznya memasuki sebuah plaza yang cukup terkenal dikawasan Kelapa Gading. Setelah memastikan mobil terparkir dengan aman, Suryo, Miranda dan putri kecilnya yang dalam gendongan baby sitter naik menuju lantai atas dan memasuki sebauh jewelry yang saat itu tidak begitu ramai pengunjung. Setelah mendapatkan perhiasan yang diinginkan mereka langsung menuju sebuah restoran jepang yang berada satu lantai diatasnya.
Terjadi sebuah antrian kecil sebab memang sudah memasuki jam makan siang. Tetapi demi memanjakan sang istri, Suryo ikut mengantri dengan sabar. Sesaat kemudian meja makan mereka sudah penuh oleh makanan. Demi memanjakan sang istri Suryo memesan makanan yang cukup banyak, meski hanya untuk berempat dengan gadis kecil beserta sang baby sitter. Beberapa mangkok nameko jiru, tempura, shabu-shabu, ika ring age dan niwatori terriyaki juga eby furray memenuhi meja makan mereka. Mereka kelihatan lahap menyantap hidangan jepang, pada lunch yang dahsyat dan canggih itu. Sang baby sitter pun kelihatan merem melek kepedesan oleh wasabi, sambal jepang yang unik itu. Di akhir acara makan siang yang mantap itu, Suryo megecup kening istrinya sambil mengucapkan, “ Selamat hari ibu sayang, berbahagia dan berbanggalah jadi seorang ibu, sebab dari rahim seorang ibulah orang-orang hebat yang merubah dunia di lahirkan…”.
Di belahan bumi yang lain yu Pairah tengah mandi keringat, tangan kecilnya yang menghitam karena sengatan matahari masih terus menari mengumpukan batu-batu dan kemudian memecahnya menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil. Setelah terkumpul banyak lalu menaikkannya ke atas truk. Ia terpaksa menjalani pekerjaan kasar sebagai pencari batu di salah satu sungai yang berhulu di Gunung Merapi, untuk tetap bertahan hidup. Suaminya kang Ngatijan juga memiliki profesi yang serupa, ia juga “berkantor” di sungai sebagai penggali pasir. Kebodohan dan himpitan ekonomi membuat yu Pairah tidak memiliki pilihan lain. Untuk menghidupi kedua anaknya yang sudah bersekolah ia harus rela melakukan apasaja, termasuk menggeluti pekerjaan kasar sebagai pengumpul dan pemecah batu.
Nasibnya tak seberuntung Miranda. Ibu muda yang menikmati kehidupan menyenangkan di kota Jakarta. Setiap datang hari ibu, Suryo sang suami selalu mamanjakannya, melarangnya bekerja dirumah, mengajaknya jalan-jalan, makan siang di restoran dan memenuhi setiap permintaannya di hari yang spesial untuk para ibu itu. Hari ibu adalah hari yang di tunggu buat Miranda. Setiap kali hari ibu datang, selalu menjadi hari yang menyenangkan buat Miranda. Bukan saja hari itu sebagai penghargaan pada para ibu termasuk dirinya, tetapi juga perlakuan khusus Suryo atas dirinya pada setiap datangnya hari spesial itu.
Hal itu sangat bertolak belakang dengan keadaan yu Pairah. Pada hari yang special buat para ibu itu, yu Pairah harus tetap bekerja, memeras keringat, membanting tulang untuk mempertahankan hidup. Jadi saya sangat maklum kalau ia tidak ingat, kalau hari ini adalah hari ibu. Atau bahkan kalau ia tidak perduli lagi dengan hari ibu pun saya juga maklum, sebab berpuluh-puluh hari ibu yang telah lewat tidak pernah bisa merubah hidupnya. Baginya bahkan bila dalam setahun ada sepuluh kali hari ibu pun tidak akan berarti apa-apa. Sebab ada hari ibu atau tidak ia tetap hidup susah dan ngrekasa.
Dan bertepatan dengan hari ibu tahun ini, disana, diberbagai tempat yang masih menjadi bagian dari wilayah negeri ini, banyak sekali yu Pariah yu Pairah yang lain, yang tak berdaya, yang terlunta-lunta, yang terseok-seok hidupnya, yang tak mampu menyekolahkan anaknya, yang menjadi korban KDRT, yang menjadi korban perdangangan manusia, yang menjadi korban pembunuhan, yang menjadi korban mutilasi. Ah.., ternyata yu Pairah tidak sendiri. Ada beribu-beribu atau bahkan berjuta-juta yu Pairah yang lain yang menunggu pertolongan dan pemberdayaan untuk bisa bangkit dari jurang kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan menuju hidup yang lebih baik dan sejahtera. Selamat hari ibu yu Pairah, semoga pada hari ibu tahun depan keadaamnu sudah lebih baik dari pada saat ini.@@
Selasa, 21 Desember 2010
KISAH SINGKONG REBUS YANG NAIK KELAS
Sebuah forum diskusi tentang kemiskinan yang digagas oleh sebuah departemen, digelar disebuah meeting room hotel bintang lima ternama di Jakarta. Diikuti oleh para cerdik pandai, para elite pengambil keputusan, dan para elite kekuasaan, diskusi ini diharapkan dapat memunculkan ide-ide baru tentang penanggulangan kemiskinan. Tentu menjadi angin segar sebab diakui atau tidak kemiskinan masih mendera ratusan ribu atau bahkan jutaan penduduk negeri yang konon katanya sudah makmur ini.
Sebagai salah satu chef yang ikut menyiapkan hidangan untuk para peserta diskusi itu, saya agak terkejut ketika melihat menu makanan yang dipesan. Untuk main course nya sih biasa saja, sajian international buffet yang sudah lazim di hotel bintang lima manapun. Tetapi ketika melihat menu coffe break, saya agak terkejut dan dibuat merenung meski hanya beberapa saat. Biasanya untuk coffe break acara-acara sejenis tak jauh dari menu-menu internasional seperti brownies, chocolate cake, banana cake, assorted pastries, chicken curry puff atau setidak-tidaknya ya lapis legit, bika ambon dan lapis Surabaya. Tetapi kali ini panitya penyelenggara forum diskusi yang diikuti oleh kaum intelektual, para elit pengambil keputusan dan elite kekuasaan itu meminta singkong rebus, kedelai rebus, kacang rebus, gatot dan bajigur. Edan. Bukan saja tidak lazim, bahkan juga mencurigakan.
Dalam sekejap muncul 1001 pertanyaan dalam benak saya. Apa karena diskusi ini membicarakan masalah kemiskinan, sehinga mereka para elite itu memandang perlu mencicipi makanan ndeso yang biasa disantap oleh kaum miskin, sehingga tumbuh empati untuk mereka. Atau jangan-jangan panitya sengaja memesan jajanan murahan itu supaya para peserta diskusi bisa menghayati dan merasakan penderitaan kaum miskin, meskipun selama ini mereka hidup berkecukupan bahkan bermewah-mewah.
Atau diskusi ilmiah itu mungkin akan dijadikan titik tolak dimulainya pola hidup sederhana bagi para elite kekuasaan dan para elite pengambil keputusan, yang selama ini, kesederhanaan bagi mereka hanya berhenti pada mulut saja, terbatas pada retorika saja. Sederhana? Tentu tidak. Sebab hidangan ndeso seperti singkong rebus, kedelai rebus, kacang rebus dan gatot itu mereka beli dengan harga yang sudah 12 kali lipat lebih mahal, plus tax and service charge yang besarnya 21 % pula. Apalagi untuk merasakan penderitaan kaum miskin, ah rasanya kok sangat jauh sekali.
Tanpa bermaksud berprasangka buruk saya malah timbul rasa curiga, jangan-jangan mereka memesan menu sederhana itu karena sebagai kaum elite, sebagai priyagung, mereka telah bosan dengan kemewahan yang selama ini mereka nikmati. Setelah saban hari menyantap steak, roast beef, spaghetti, pizza, mashed potato, salad, champagne, wine, ice cream maka mereka ingin kembali merasakan hidangan ndeso itu untuk sekedar menghindar dari kebosanan, atau bernostalgia, mengingat jaman susah dahulu. Membangkitkan kembali kenangan masa lalu yang sangat sentimental itu.
Berusaha dengan sungguh-sungguh memberantas kemiskinan tentu berbeda dengan memberantas orang miskin seperti yang selama ini mereka pertontonkan. Menggasak dan menggusur mereka atas nama pembangunan , atas nama ketertiban, atas nama kebersihan dan keindahan kota. Membuat aturan, undang-undang, perda atau apalah namanya yang sama sekali tidak pro dan membela kepentingan rakyat miskin, tetapi justru menyusahkan mereka. Mencabut berbagai macam subsidi saat mereka belum siap menerimanya. Dan pada kemudian hari harga-harga kebutuhan melambung tinggi, memotong setengah daya beli mereka, membuat mereka tetap miskin dan makin miskin.
Saya dan banyak orang miskin diluaran sana berharap bila diskusi tentang kemiskinan dengan suguhan aneka santapan orang miskin seperti singkong rebus, kedelai rebus, kacang rebus dan gatot serta bajigur itu benar-benar mampu melahirkan ide-ide brilliant yang bermanfaat untuk kepentingan kaum miskin. Tetapi tentu masih harus menunggu, semuanya belum pasti, dan kaum miskin belum bisa nyicil ayem sampai hasil pemikiran para cerdik pandai dan para elite itu di implementasikan di lapangan.
Yang jelas sudah pasti adalah naik kelasnya makanan ndeso itu, bila sehari-hari hanya menjadi santapan kaum miskin, tetapi kali ini menjadi hidangan agung para elite kekuasaan dan pengambil keputusan. Dan lagi, biasa hanya terdapat di desa-desa minus yang masyarakatnya tak punya pilihan lain karena tak mampu beli beras, tetapi kali ini santapan kaum miskin itu digelar di hotel bintang lima dengan penerangan lampu-lampu kristal yang mewah dan megah. Dan satu lagi, pada daftar menu, makanan kaum mlarat itu ditulis dengan ejaan bahasa inggris, seperti singkong rebus menjadi boiled cassava, kedelai rebus jadi boiled jacketed soybean, dan yang tidak kalah seremnya adalah gatot asal Gunung Kidul itu berganti nama menjadi dried cassava cake. Mantap!.@@
Sebagai salah satu chef yang ikut menyiapkan hidangan untuk para peserta diskusi itu, saya agak terkejut ketika melihat menu makanan yang dipesan. Untuk main course nya sih biasa saja, sajian international buffet yang sudah lazim di hotel bintang lima manapun. Tetapi ketika melihat menu coffe break, saya agak terkejut dan dibuat merenung meski hanya beberapa saat. Biasanya untuk coffe break acara-acara sejenis tak jauh dari menu-menu internasional seperti brownies, chocolate cake, banana cake, assorted pastries, chicken curry puff atau setidak-tidaknya ya lapis legit, bika ambon dan lapis Surabaya. Tetapi kali ini panitya penyelenggara forum diskusi yang diikuti oleh kaum intelektual, para elit pengambil keputusan dan elite kekuasaan itu meminta singkong rebus, kedelai rebus, kacang rebus, gatot dan bajigur. Edan. Bukan saja tidak lazim, bahkan juga mencurigakan.
Dalam sekejap muncul 1001 pertanyaan dalam benak saya. Apa karena diskusi ini membicarakan masalah kemiskinan, sehinga mereka para elite itu memandang perlu mencicipi makanan ndeso yang biasa disantap oleh kaum miskin, sehingga tumbuh empati untuk mereka. Atau jangan-jangan panitya sengaja memesan jajanan murahan itu supaya para peserta diskusi bisa menghayati dan merasakan penderitaan kaum miskin, meskipun selama ini mereka hidup berkecukupan bahkan bermewah-mewah.
Atau diskusi ilmiah itu mungkin akan dijadikan titik tolak dimulainya pola hidup sederhana bagi para elite kekuasaan dan para elite pengambil keputusan, yang selama ini, kesederhanaan bagi mereka hanya berhenti pada mulut saja, terbatas pada retorika saja. Sederhana? Tentu tidak. Sebab hidangan ndeso seperti singkong rebus, kedelai rebus, kacang rebus dan gatot itu mereka beli dengan harga yang sudah 12 kali lipat lebih mahal, plus tax and service charge yang besarnya 21 % pula. Apalagi untuk merasakan penderitaan kaum miskin, ah rasanya kok sangat jauh sekali.
Tanpa bermaksud berprasangka buruk saya malah timbul rasa curiga, jangan-jangan mereka memesan menu sederhana itu karena sebagai kaum elite, sebagai priyagung, mereka telah bosan dengan kemewahan yang selama ini mereka nikmati. Setelah saban hari menyantap steak, roast beef, spaghetti, pizza, mashed potato, salad, champagne, wine, ice cream maka mereka ingin kembali merasakan hidangan ndeso itu untuk sekedar menghindar dari kebosanan, atau bernostalgia, mengingat jaman susah dahulu. Membangkitkan kembali kenangan masa lalu yang sangat sentimental itu.
Berusaha dengan sungguh-sungguh memberantas kemiskinan tentu berbeda dengan memberantas orang miskin seperti yang selama ini mereka pertontonkan. Menggasak dan menggusur mereka atas nama pembangunan , atas nama ketertiban, atas nama kebersihan dan keindahan kota. Membuat aturan, undang-undang, perda atau apalah namanya yang sama sekali tidak pro dan membela kepentingan rakyat miskin, tetapi justru menyusahkan mereka. Mencabut berbagai macam subsidi saat mereka belum siap menerimanya. Dan pada kemudian hari harga-harga kebutuhan melambung tinggi, memotong setengah daya beli mereka, membuat mereka tetap miskin dan makin miskin.
Saya dan banyak orang miskin diluaran sana berharap bila diskusi tentang kemiskinan dengan suguhan aneka santapan orang miskin seperti singkong rebus, kedelai rebus, kacang rebus dan gatot serta bajigur itu benar-benar mampu melahirkan ide-ide brilliant yang bermanfaat untuk kepentingan kaum miskin. Tetapi tentu masih harus menunggu, semuanya belum pasti, dan kaum miskin belum bisa nyicil ayem sampai hasil pemikiran para cerdik pandai dan para elite itu di implementasikan di lapangan.
Yang jelas sudah pasti adalah naik kelasnya makanan ndeso itu, bila sehari-hari hanya menjadi santapan kaum miskin, tetapi kali ini menjadi hidangan agung para elite kekuasaan dan pengambil keputusan. Dan lagi, biasa hanya terdapat di desa-desa minus yang masyarakatnya tak punya pilihan lain karena tak mampu beli beras, tetapi kali ini santapan kaum miskin itu digelar di hotel bintang lima dengan penerangan lampu-lampu kristal yang mewah dan megah. Dan satu lagi, pada daftar menu, makanan kaum mlarat itu ditulis dengan ejaan bahasa inggris, seperti singkong rebus menjadi boiled cassava, kedelai rebus jadi boiled jacketed soybean, dan yang tidak kalah seremnya adalah gatot asal Gunung Kidul itu berganti nama menjadi dried cassava cake. Mantap!.@@
Sabtu, 07 Agustus 2010
ORANG GILA DARI JAKARTA
Hari belum malam betul, waktu baru menunjukkan pukul 20.15 WIB, ketika terlihat kang Sarji duduk termangu pada bale bambu di teras rumahnya. Dengan serius ia memikirkan acara pengajian malam jum'at depan, dalam rangka ulang tahun anak semata wayangnya, Wahid. Sebagai santri desa, kang Sarji sebenarnya tidak suka perayaan pesta ulang tahun seperti orang-orang kota pada umumnya. Pesta ulang tahun itu tidak perlu, tidak ada tuntunannya, lebih banyak madharatnya dari pada manfaatnya, katanya pada suatu hari. Tetapi karena kali ini dikaitkan dengan pengajian ya, bolehlah.
Lain dengan kang Sarji lain pula dengan pak Bos yang ada di Jakarta sana. Kurang jelas pak Bos itu namanya siapa dan pekerjaannya apa. Dengar-dengar beliau itu seorang pengusaha yang cukup sukses. Pengusaha dibidang apa juga kurang jelas, yang jelas beliau itu sangat kaya raya. Berbarengan dengan ulang tahunnya Wahid, anaknya kang Sarji, pak Bos ini juga merayakan ulang tahun dan menggelar pesta di salah satu hotel bintang lima ternama di kawasan Senen Jakarta Pusat. Beberapa karyawan hotel terlihat sibuk bekerja, mondar mandir mempersiapkan acara ulang tahun pak Bos itu. Maklum beliau itu merupakan long staying guest dan salah satu tamu VVIP, atau very-very important person.
Sebuah restauran yang ada di hotel itu di blok, tidak dibuka untuk umum kecuali para tamu undangan yang akan menghadiri pesta ulang tahun pak Bos itu. Sebuah ruangan ditata dengan apik. Ada kurang lebih 30 kursi putih berhiaskan tali-tali keemasan, melingkari sebuah meja marmer panjang yang di hiasi bunga-bunga segar nan wangi. 7 buah fruit busket berisi buah-buahan impor tertata dengan manis di atas meja. Lilin-lilin menyala dengan redup, membuat suasana menjadi sangat syahdu dan romantis. Hidangan international buffet terhampar dengan mewahnya. Di lengkapi beberapa stall makanan yang diantaranya pork knuckle, pasta station, roast beef Welington dan Rachlette cheese, keju bakar dari Swiss yang sudah sangat terkenal itu. Terasa pesta ulang tahun pak Bos ini menjadi sangat istimewa, bahkan sempurna.
Cheers, segelas Jack Daniels memulai pesta. Lebih dari 12 botol anggur di buka untuk memeriahkan pesta kali ini. Acara demi acara terus berlangsung meriah, penuh gelak tawa dan kegembiraan. Di temani istri keduanya yang masih kinyis-kinyis, pak Bos meniup lilin yang berbentuk angka 47 itu. Tepuk tangan para undangan pun membahana memeuhi semua sudut pesta. Satu demi satu para undangan yang hadir mengucapkan selamat lengkap dengan peluk cium ala eropanya.
And now, wine party is begin. Anggur-anggur yang sudah disiapkan pun di buka. Anggur ini bukan sembarang anggur, tentu tidak sama dengan anggur kolesom cap kepala jenggot yang sering di minum mbah buyut saya dulu. Anggur ini berharga 1 juta rupiah. Edaaan..., ada aja anggur yang harganya bikin pusing kepala macam ini. Minum lagi dan minum lagi. Semakin larut suasana pesta semakin meriah saja. Tak lama kemudian suasana pesta terlihat agak gaduh, seiring jatuhnya pak Bos karena kebanyakan minum. He is drunk. Beberapa menit kemudian pak Bos dipapah ke luar. Satu demi satu para undangan pun mulai meninggalkan pesta, satu demi satu pula atribut pesta mulai disingkirkan. Seperti pepatah mengatakan, tak ada pesta yang tak pernah berakhir. Pesta pun usai sudah. Suasna pun kembali sepi.
Menjadi saksi hidup acara pesta ulang tahun pak Bos saya hanya bisa terdiam. Geleng-geleng kepala dan istighfar. Bagaimana tidak, acara pesta ulang tahun yang dihadiri kurang dari 30 orang itu menghabiskan duit 50 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar, bahkan saya belum pernah melihat duit sebanyak itu. Gila benar pak Bos yang satu ini, gila kayanya dan juga gila royalnya. Sementara hampir 36 juta penduduk negara ini hidup miskin, Bos kita yang satu ini sekali kentut menghabiskan duit 50 juta.@@
Lain dengan kang Sarji lain pula dengan pak Bos yang ada di Jakarta sana. Kurang jelas pak Bos itu namanya siapa dan pekerjaannya apa. Dengar-dengar beliau itu seorang pengusaha yang cukup sukses. Pengusaha dibidang apa juga kurang jelas, yang jelas beliau itu sangat kaya raya. Berbarengan dengan ulang tahunnya Wahid, anaknya kang Sarji, pak Bos ini juga merayakan ulang tahun dan menggelar pesta di salah satu hotel bintang lima ternama di kawasan Senen Jakarta Pusat. Beberapa karyawan hotel terlihat sibuk bekerja, mondar mandir mempersiapkan acara ulang tahun pak Bos itu. Maklum beliau itu merupakan long staying guest dan salah satu tamu VVIP, atau very-very important person.
Sebuah restauran yang ada di hotel itu di blok, tidak dibuka untuk umum kecuali para tamu undangan yang akan menghadiri pesta ulang tahun pak Bos itu. Sebuah ruangan ditata dengan apik. Ada kurang lebih 30 kursi putih berhiaskan tali-tali keemasan, melingkari sebuah meja marmer panjang yang di hiasi bunga-bunga segar nan wangi. 7 buah fruit busket berisi buah-buahan impor tertata dengan manis di atas meja. Lilin-lilin menyala dengan redup, membuat suasana menjadi sangat syahdu dan romantis. Hidangan international buffet terhampar dengan mewahnya. Di lengkapi beberapa stall makanan yang diantaranya pork knuckle, pasta station, roast beef Welington dan Rachlette cheese, keju bakar dari Swiss yang sudah sangat terkenal itu. Terasa pesta ulang tahun pak Bos ini menjadi sangat istimewa, bahkan sempurna.
Cheers, segelas Jack Daniels memulai pesta. Lebih dari 12 botol anggur di buka untuk memeriahkan pesta kali ini. Acara demi acara terus berlangsung meriah, penuh gelak tawa dan kegembiraan. Di temani istri keduanya yang masih kinyis-kinyis, pak Bos meniup lilin yang berbentuk angka 47 itu. Tepuk tangan para undangan pun membahana memeuhi semua sudut pesta. Satu demi satu para undangan yang hadir mengucapkan selamat lengkap dengan peluk cium ala eropanya.
And now, wine party is begin. Anggur-anggur yang sudah disiapkan pun di buka. Anggur ini bukan sembarang anggur, tentu tidak sama dengan anggur kolesom cap kepala jenggot yang sering di minum mbah buyut saya dulu. Anggur ini berharga 1 juta rupiah. Edaaan..., ada aja anggur yang harganya bikin pusing kepala macam ini. Minum lagi dan minum lagi. Semakin larut suasana pesta semakin meriah saja. Tak lama kemudian suasana pesta terlihat agak gaduh, seiring jatuhnya pak Bos karena kebanyakan minum. He is drunk. Beberapa menit kemudian pak Bos dipapah ke luar. Satu demi satu para undangan pun mulai meninggalkan pesta, satu demi satu pula atribut pesta mulai disingkirkan. Seperti pepatah mengatakan, tak ada pesta yang tak pernah berakhir. Pesta pun usai sudah. Suasna pun kembali sepi.
Menjadi saksi hidup acara pesta ulang tahun pak Bos saya hanya bisa terdiam. Geleng-geleng kepala dan istighfar. Bagaimana tidak, acara pesta ulang tahun yang dihadiri kurang dari 30 orang itu menghabiskan duit 50 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar, bahkan saya belum pernah melihat duit sebanyak itu. Gila benar pak Bos yang satu ini, gila kayanya dan juga gila royalnya. Sementara hampir 36 juta penduduk negara ini hidup miskin, Bos kita yang satu ini sekali kentut menghabiskan duit 50 juta.@@
Kamis, 05 Agustus 2010
KISAH TRAGIS SANG DERMAWAN
Bekerja pada hospitality industry membuat sebagian besar waktu saya banyak tersita untuk pekerjaan. Sebagai seorang hotelier saya kadang-kadang harus bekerja lebih dibanding para tetangga yang bekerja pada bidang lain. Seringkali pulang ke rumah sudah larut malam, bahkan harus menginap di kantor , bila di perlukan. Tanggal merah belum tentu libur, hari minggu apalagi, malah bisa lebih sibuk dari hari-hari biasa. Waktu saya untuk bersosialisasi dengan para tetangga dan masyarakat di komplek tempat saya tinggal jadi sangat terbatas. Pertemuan RT, kerja bakti, ronda malam memang masih bisa saya ikuti, tetapi dengan absensi yang bolong-bolong tentunya. Karena jarangnya pertemuan, saya kadang-kadang lupa dengan nama-nama tetangga sendiri, seringkali memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengingat nama, blok serta nomer rumahnya, bila suatu saat bertemu di jalan.
Begitu juga dengan informasi tentang berbagai kegiatan RT, berita kelahiran, kabar kematian, seringkali saya terima sudah sangat terlambat. Begitulah kehidupan di kota besar macam Jakarta, karir dan pekerjaan seringkali kejam sekali, mereka seperti tak pernah mengizinkan saya untuk bisa menikmati kebersamman dalam hidup bermasyarakat.
Begitu juga dengan kabar kematian beliau, seorang pengurus RW tetangga yang di komplek kami terkenal sangat kaya dan dermawan itu. Terlihat hidupnya sangat mapan. Di komplek kami beliau memiliki lima rumah, tiga rumah type 45 berderet di jadikan satu, kemudian di rehab menjadi rumah mewah berlantai tiga. Dua rumah yang lain agak berjauhan, dan di kontrakkan pada orang lain. Memiliki tiga mobil buat beliau memang tidak aneh. Di samping memiliki jabatan mentereng di kantornya, istrinya juga wanita karir yang posisinya juga tidak kalah bergengsi. Sebagai pengurus RT beliau juga menjadi panutan, sifat dermawannya tidak pernah kami ragukan. Untuk urusan sumbang-menyumbang di RT kami mungkin beliau menduduki rangking pertama. Terakhir yang masih saya ingat, beliau menyumbangkan sepuluh sak semen untuk pembangunan lapangan olah raga di lingkungan RT kami, di mata kami kehidupannya sangat mapan dan bahagia. Jabatan yang tinggi di kantor, rumah megah, harta berlimpah dan dihormati banyak orang.
Tetapi menjadi sangat aneh, ketika sore itu beliau ditemukan tewas gantung diri di halaman belakang rumahnya yang megah itu. Kabar ini sempat menggemparkan hampir seleuruh warga komplek kami. Kami semua jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan. Orang yang sudah hidup mapan, dan dihormati banyak orang kok bisa melakukan hal sekeji itu. Bunuh diri.
Beberapa hari setelah peristiwa itu muncul rumor, dan warga terutama ibu-ibu mulai kasak-kusuk membicarakan penyebab beliau bunuh diri. Menurut kabar yang masih harus dikonfirmasi kebenarannya, beliau itu terlibat penggunaan uang perusahaan atau korupsi yang totalnya hampir mencapai satu M. Sebenarnya kabar tak sedap ini pernah muncul beberapa pekan yang lalu, tetapi kabar itu hilang begitu saja bak tertiup angin.
Tidak terlalu penting kabar itu benar atau tidak, yang lebih penting bahwa kita harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Benar kata kakek saya dulu, jangan pernah silau dengan harta orang lain. Hidup ini cuma sawang-sinawang, hidup ini cuma saling melihat. Kalau kita melihat orang lain kayaknya mereka itu hidupnya enak, tenteram, sukses. Giliran orang lain yang melihat kita, mereka bilang kita yang hidupnya enak, tenang, tenteram. Hidup seyogyanya harus bijaksana. Hidup yang hanya sekali ini kalau bisa harus kita nikmati, jangan sampai menyia-nyiakannya.
Dalam hidup yang hanya sekali ini, kita harus pandai-pandai mengendalikan diri, mengatur kehendak, menyaring keinginan, menertibkan mimpi-mimpi dan harapan. Meper hawa nafsu. Keinginan untuk dipuji, kehendak untuk dihormati, dan nafsu untuk menonjol dalam bermasyarakat kadang-kadang menggiring kita untuk berbuat yang tidak proporsional dan di luar batas kemampuan. Keinginan itu seringkali membutakan. Melik nggendong lali. Mendamba itu membawa serta lupa, demikian kata almarhum profesor Umar Kayam, mantan guru besar UGM itu dalam satu tulisan kolomnya.@@
Begitu juga dengan informasi tentang berbagai kegiatan RT, berita kelahiran, kabar kematian, seringkali saya terima sudah sangat terlambat. Begitulah kehidupan di kota besar macam Jakarta, karir dan pekerjaan seringkali kejam sekali, mereka seperti tak pernah mengizinkan saya untuk bisa menikmati kebersamman dalam hidup bermasyarakat.
Begitu juga dengan kabar kematian beliau, seorang pengurus RW tetangga yang di komplek kami terkenal sangat kaya dan dermawan itu. Terlihat hidupnya sangat mapan. Di komplek kami beliau memiliki lima rumah, tiga rumah type 45 berderet di jadikan satu, kemudian di rehab menjadi rumah mewah berlantai tiga. Dua rumah yang lain agak berjauhan, dan di kontrakkan pada orang lain. Memiliki tiga mobil buat beliau memang tidak aneh. Di samping memiliki jabatan mentereng di kantornya, istrinya juga wanita karir yang posisinya juga tidak kalah bergengsi. Sebagai pengurus RT beliau juga menjadi panutan, sifat dermawannya tidak pernah kami ragukan. Untuk urusan sumbang-menyumbang di RT kami mungkin beliau menduduki rangking pertama. Terakhir yang masih saya ingat, beliau menyumbangkan sepuluh sak semen untuk pembangunan lapangan olah raga di lingkungan RT kami, di mata kami kehidupannya sangat mapan dan bahagia. Jabatan yang tinggi di kantor, rumah megah, harta berlimpah dan dihormati banyak orang.
Tetapi menjadi sangat aneh, ketika sore itu beliau ditemukan tewas gantung diri di halaman belakang rumahnya yang megah itu. Kabar ini sempat menggemparkan hampir seleuruh warga komplek kami. Kami semua jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan. Orang yang sudah hidup mapan, dan dihormati banyak orang kok bisa melakukan hal sekeji itu. Bunuh diri.
Beberapa hari setelah peristiwa itu muncul rumor, dan warga terutama ibu-ibu mulai kasak-kusuk membicarakan penyebab beliau bunuh diri. Menurut kabar yang masih harus dikonfirmasi kebenarannya, beliau itu terlibat penggunaan uang perusahaan atau korupsi yang totalnya hampir mencapai satu M. Sebenarnya kabar tak sedap ini pernah muncul beberapa pekan yang lalu, tetapi kabar itu hilang begitu saja bak tertiup angin.
Tidak terlalu penting kabar itu benar atau tidak, yang lebih penting bahwa kita harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Benar kata kakek saya dulu, jangan pernah silau dengan harta orang lain. Hidup ini cuma sawang-sinawang, hidup ini cuma saling melihat. Kalau kita melihat orang lain kayaknya mereka itu hidupnya enak, tenteram, sukses. Giliran orang lain yang melihat kita, mereka bilang kita yang hidupnya enak, tenang, tenteram. Hidup seyogyanya harus bijaksana. Hidup yang hanya sekali ini kalau bisa harus kita nikmati, jangan sampai menyia-nyiakannya.
Dalam hidup yang hanya sekali ini, kita harus pandai-pandai mengendalikan diri, mengatur kehendak, menyaring keinginan, menertibkan mimpi-mimpi dan harapan. Meper hawa nafsu. Keinginan untuk dipuji, kehendak untuk dihormati, dan nafsu untuk menonjol dalam bermasyarakat kadang-kadang menggiring kita untuk berbuat yang tidak proporsional dan di luar batas kemampuan. Keinginan itu seringkali membutakan. Melik nggendong lali. Mendamba itu membawa serta lupa, demikian kata almarhum profesor Umar Kayam, mantan guru besar UGM itu dalam satu tulisan kolomnya.@@
Rabu, 21 Juli 2010
YANG RENTA YANG MERANA
Berada di gang sempit kawasan kumuh padat penduduk, Senen Jakarta pusat tempat kost saya kala itu berada. Suatu wilayah yang saat itu juga terkenal sebagai sarang noarkoba dan kriminal. Salah satu kawasan hitam ibu kota. Maklum sebagai kaum urban berpendidikan rendah seperti saya, tentu sangat sulit untuk bisa bekerja di perusahaan yang besar, dengan gaji yang memadai dan tinggal di tempat kost yang layak. Untuk bisa bertahan di tempat seperti itu saja sulit bukan main dan perlu perjuangan yang sangat dahsyat.
Ruangan berukuran 3x2 meter persegi, berdinding triplek bekas dengan atap seng bekas pula itu, sangat tidak layak untuk disebut rumah. Bangunan bertingkat semi permanen itu difungsikan untuk tempat kost dan kantor sebuah yayasan yang mengurusi orang-orang jompo., Bukan panti jompo, karena orang-orang jompo yang di urus tidak berada di situ.
Sebut saja nenek Nah, seorang jompo yang bernasib kurang baik. Kurang jelas apa alasannya, karena satu dan lain hal nenek Nah harus tinggal di situ. Padahal tempatnya sangat tidak layak untuk orang seusianya. Tidak ada ruang dan pelayanan yang nyaman, sebab tempat itu sebenarnya kantor dan sekaligus dapur. Yang ada hanya mang Cecep dan keluarganya. Pria kelahiran Sukabumi itu memang yang diserahi tugas untuk mengurusi kantor itu. Nenek renta yang menurut perkiraan saya sudah berusia lebih dari 80 tahun itu malang benar nasibnya. Pada detik-detik terakhir masa hidupnya ia harus terpisah dari keluarga, jauh dari anak cucu, dan tinggal pada tempat yang bagi saya amat menyakitkan itu. Bagaimana tidak, tidur, makan, minum dan melakukan semua aktifitas di tempat yang kotor. Bahkan seringkali sang nenek terlihat meringkuk tertidur pulas di lantai tanpa alas apapun, di ruang tanpa sekat dan tanpa daun jendela lengkap dengan sengatan sinar matahari dan siraman air tatkala hujan.
Mang Cecep sendiri tidak bisa berbuat banyak, dan saya tahu betul ia sudah bekerja maksimal. Dan ia juga tidak bisa mengandalkan pekerjaannya sebagai office boy pada yayasan tersebut. Sebab penghasilannya dari tempat itu sangat tidak mencukupi untuk menghidupi seisi keluarga, istri dan dua orang anaknya. Untuk menjaga agar dapurnya tetap bisa berasap, ia harus double job sebagai tukang parkir dan penjaga malam pada rumah orang cina kaya yang tak jauh dari situ. Seperti kebanyakan orang kecil lainnya, untuk bisa bertahan hidup di Jakarta mereka harus kreatif, melakukan apa saja, menyulap dirinya menjadi orang yang multi talenta.Beragam profesi mereka jalani mulai dari office boy, tukang becak, tukang parkir, tukang jaga malam, bahkan memulung barang rongsokan.
Suatu malam saat saya sedang santai di balkon atas, menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, ia sempat bercerita tentang Nenek Nah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sebenarnya ia sudah memberitahukan akan hal itu kepada keluarganya, tetapi tidak ada respon. Dan kelihatan sekali ia sangat kecewa dengan keadaan tersebut. Seminggu kemudian, pada hari menjelang petang, di tengah hujan rintik yang mengguyur Jakarta, nenek Nah meninggal dunia. Inalillahi wainaillaihi roji'un. Setiap yang datang dari-Nya pasti akan kembali kepada-Nya.
Mang Cecep kembali menemui keluarga sang nenek. Saya agak terkejut dan sekaligus keheranan ketika ia kembali dengan berlinangan air mata, dihadapan saya bahkan tangisannya semakin keras dan semakin jadi. Seolah-olah yang meninggal adalah orang tuanya sendiri. Usut punya usut ternyata ia mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari anak almarhumah. Anak nenek Nah mengatakan tidak sanggup mengurusi jenazah ibunya itu. Duit dari mana untuk mengurus jenazah, sedang untuk makan sehari-hari saja sulit. Begitu mang Cecep menirukan kata-kata anak nenek Nah dengan terbata-bata.
Betapa amat sangat durhakanya anak itu. Terhadap ibu yang telah melahirkannya kedunia ini, ia berbuat setega itu. Sudah semasa hidup tidak mau mengurusi, setelah meninggal pun ia cuci tangan lari adri tanggung jawab. Kebiadapan macam apalagi ini..? Mungkinkah ini bagian dari kebiadapan ibu kota..? Entahlah.
Akhirnya dengan bantuan sana-sini, jenazah nenek Nah bisa dimakamkan dengan layak tanpa harus melibatkan keluarganya. Selamat jalan nenek Nah, semoga Allah swt mengampuni segala dosa-dosamu, menerima semua amal baikmu, dan memberimu tempat yang baik, jauh lebih baik dari tempatmu didunia yang menyakitkan itu. Ammiiiin.@@
Ruangan berukuran 3x2 meter persegi, berdinding triplek bekas dengan atap seng bekas pula itu, sangat tidak layak untuk disebut rumah. Bangunan bertingkat semi permanen itu difungsikan untuk tempat kost dan kantor sebuah yayasan yang mengurusi orang-orang jompo., Bukan panti jompo, karena orang-orang jompo yang di urus tidak berada di situ.
Sebut saja nenek Nah, seorang jompo yang bernasib kurang baik. Kurang jelas apa alasannya, karena satu dan lain hal nenek Nah harus tinggal di situ. Padahal tempatnya sangat tidak layak untuk orang seusianya. Tidak ada ruang dan pelayanan yang nyaman, sebab tempat itu sebenarnya kantor dan sekaligus dapur. Yang ada hanya mang Cecep dan keluarganya. Pria kelahiran Sukabumi itu memang yang diserahi tugas untuk mengurusi kantor itu. Nenek renta yang menurut perkiraan saya sudah berusia lebih dari 80 tahun itu malang benar nasibnya. Pada detik-detik terakhir masa hidupnya ia harus terpisah dari keluarga, jauh dari anak cucu, dan tinggal pada tempat yang bagi saya amat menyakitkan itu. Bagaimana tidak, tidur, makan, minum dan melakukan semua aktifitas di tempat yang kotor. Bahkan seringkali sang nenek terlihat meringkuk tertidur pulas di lantai tanpa alas apapun, di ruang tanpa sekat dan tanpa daun jendela lengkap dengan sengatan sinar matahari dan siraman air tatkala hujan.
Mang Cecep sendiri tidak bisa berbuat banyak, dan saya tahu betul ia sudah bekerja maksimal. Dan ia juga tidak bisa mengandalkan pekerjaannya sebagai office boy pada yayasan tersebut. Sebab penghasilannya dari tempat itu sangat tidak mencukupi untuk menghidupi seisi keluarga, istri dan dua orang anaknya. Untuk menjaga agar dapurnya tetap bisa berasap, ia harus double job sebagai tukang parkir dan penjaga malam pada rumah orang cina kaya yang tak jauh dari situ. Seperti kebanyakan orang kecil lainnya, untuk bisa bertahan hidup di Jakarta mereka harus kreatif, melakukan apa saja, menyulap dirinya menjadi orang yang multi talenta.Beragam profesi mereka jalani mulai dari office boy, tukang becak, tukang parkir, tukang jaga malam, bahkan memulung barang rongsokan.
Suatu malam saat saya sedang santai di balkon atas, menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, ia sempat bercerita tentang Nenek Nah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sebenarnya ia sudah memberitahukan akan hal itu kepada keluarganya, tetapi tidak ada respon. Dan kelihatan sekali ia sangat kecewa dengan keadaan tersebut. Seminggu kemudian, pada hari menjelang petang, di tengah hujan rintik yang mengguyur Jakarta, nenek Nah meninggal dunia. Inalillahi wainaillaihi roji'un. Setiap yang datang dari-Nya pasti akan kembali kepada-Nya.
Mang Cecep kembali menemui keluarga sang nenek. Saya agak terkejut dan sekaligus keheranan ketika ia kembali dengan berlinangan air mata, dihadapan saya bahkan tangisannya semakin keras dan semakin jadi. Seolah-olah yang meninggal adalah orang tuanya sendiri. Usut punya usut ternyata ia mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari anak almarhumah. Anak nenek Nah mengatakan tidak sanggup mengurusi jenazah ibunya itu. Duit dari mana untuk mengurus jenazah, sedang untuk makan sehari-hari saja sulit. Begitu mang Cecep menirukan kata-kata anak nenek Nah dengan terbata-bata.
Betapa amat sangat durhakanya anak itu. Terhadap ibu yang telah melahirkannya kedunia ini, ia berbuat setega itu. Sudah semasa hidup tidak mau mengurusi, setelah meninggal pun ia cuci tangan lari adri tanggung jawab. Kebiadapan macam apalagi ini..? Mungkinkah ini bagian dari kebiadapan ibu kota..? Entahlah.
Akhirnya dengan bantuan sana-sini, jenazah nenek Nah bisa dimakamkan dengan layak tanpa harus melibatkan keluarganya. Selamat jalan nenek Nah, semoga Allah swt mengampuni segala dosa-dosamu, menerima semua amal baikmu, dan memberimu tempat yang baik, jauh lebih baik dari tempatmu didunia yang menyakitkan itu. Ammiiiin.@@
Selasa, 13 Juli 2010
RUMAH KECIL PENUH CINTA
Sebuah bus antar kota antar propinsi PO Raharja kelas ekonomi jurusan Klaten-Jogja-Jakarta memasuki sebuah restoran di Karang Anyar, Kebumen jawa tengah. "Waktunya istirahat........" teriak sang kernet kepada seluruh penumpang. Seorang suami-istri, Karjimin dan Sumini terlihat masih sibuk membenahi dua kardus besar yang tali-talinya hampir lepas. Ketika saya tanya apa isinya kardus-kardus itu, ia menjawab; "Isinya emping mas, pesenan ndoro jenderal, majikan saya di Jakarta sana....". Hebat benar orang ini, sudah ndoro, jenderal pula, gumam saya dalam hati. Ndoro adalah singkatan dari bandoro yang menandakan bahwa si pemilik nama adalah seorang bangsawan, trahing kusuma rembesing madu. Sedang jenderal adalah puncak kepangkatan dalam militer. Kemudian ia menceritakan panjang lebar tentang juragannya itu. Sudah hampir 12 tahun ini, saya dan istri saya ngenger jadi pembantu di rumah beliau. Orangnya sangat baik, pintar dan halus, maklum piyantun asli Solo. Disamping pangkatnya yang tinggi, beliau itu juga kaya-raya. Di Jakarta sana beliau punya tiga rumah. Di Cilandak, di Pondok Indah dan yang ditempatinya sekarang di bilangan Kelapa Gading. Beliau juga kagungan griya di Solo sana. Mobilnya tiga, sebuah sedan Volvo, Toyota Land Cruisser, serta Kia Carrens, mobil dinas dari kantor. Saya dengar beliau itu juga punya kebun kakao di Sumatra sana, dan saham di beberapa perusahaan nasional ternama.
Tetapi sayang, beliau itu hidupnya kurang lengkap, ceritanya kemudian. Kurang lengkap bagaimana pak, saya bertanya penuh penasaran. Beliau itu belum berkeluarga, belum menikah, padahal usianya sudah setengah abad. Ooo.....,bisik saya dalam hati. Dahulu beliau itu suka mengeluh sama saya, ya kalau anak sekarang bilangnya curhat gitu. Ditengah hidupnya yang mapan, sukses dengan jabatan dan pangkat yang tinggi, serta kekayaan yang berlimpah, beliau sering merasa kesepian. Bahkan lebih dari itu, sering merasa bosan. Sering sekali, beliau tak bisa menyembunyikan perasaannya. Terasa sekali hidupnya ada yang kurang. Rumah yang besar dengan perabotan yang super mewah itu, terasa kering tanpa kehadiran suami, anak-anak, bahkan cucu. Tak ada tempat untuk berbagi.
Beliau pernah bilang, bahwa beliau wanita normal, dahulu juga pernah punya pacar seperti wanita-wanita pada umumnya. Bahkan pada masa-masa awal karirnya, beliau pernah dilamar seorang dokter. Tetapi beliau bilang nanti dulu. Merasa belum siap, dan masih memikirkan masa depan karirnya di militer. Tak sabar menunggu, sang dokter pun menikah dengan wanita lain, seorang sarjana ekonomi, karyawati sebuah bank swasta nasional. Dan pada kemudian hari diketahui, ia mengundurkan diri dari bank tersebut dan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Sekarang beliau menyesal, dan waktu sudah sangat terlambat. Beliau merasa keputusannya saat itu salah. Mestinya karir harus berjalan seiring dengan rumah tangga. Begitu banyak orang-orang besar yang kesuksesannya tidak lepas dari dukungan suami, istri dan keluarga mereka. Sebenarnya saya juga sedih dengan keadaan beliau, tetapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, maklum to mas, saya kan cuma orang bodoh, hanya pembantu. Tetapi beliau sekarang sudah mupus, sudah pasrah sama yang maha kuasa.
Ketika menengok istri saya di rumah sakit, saat melahirkan anak kami dulu, beliau pernah berpesan, "Min....., berbahagialah kamu, sekalipun kamu tidak punya apa-apa, sekalipun kamu cuma pembantu, tetapi kamu punya anak dan istri. Kamu punya keluarga. Cintailah istrimu dan anak-anakmu setiap hari sepanjang hidupmu, karena mereka adalah harta yang tidak bisa di nilai dengan apapun. Tidak uang, pangkat, dan juga jabatan. Keluarga adalah segala-galanya...."
Ada pria dan wanita yang membuat dunia ini menjadi lebih baik hanya dengan menjadi orang-orang apa adanya. Kalau diantara mereka kemudian memutuskan untuk menikah, menyatu menjadi sebuah keluarga yang bahagia, tentu dunia ini akan menjadi jauh lebih baik lagi. Tetapi bila ada yang dengan sadar memutuskan untuk hidup sendiri, tentu tak perlu diperdebatkan. Hidup akan selalu menyuguhkan dua buah pilihan. Pilihan mana yang akan dijatuhkan tentu akan sangat tergantung kepada yang akan menjalaninya. Setiap orang berhak menentukan pilihan-pilihan terbaik hidupnya.
Penyesalan yang dialami majikannya Karjimin, mungkin juga dialami oleh banyak orang yang lain. Dan aku yakin sekali, ada sesuatu yang istimewa dalam sebuah keluarga. Seorang istri, anak-anak, dan sebuah milik sendiri. Perasaan yang tenang karena yakin telah memutuskan sesuatu yang benar. Memutuskan untuk menikah dan memiliki keluarga. Menirukan apa yang sering dilakukan Gede Prama, sang resi managemen dan penulis buku-buku inspiratif itu, di rumah saya yang mungil di kawasan Bogor, saya sering menyanyikan lagu Everiday I Love You pada anak dan istri. Bermain dan bercanda dengan mereka pada setiap kesempatan, di rumah kecil yang sudah kami nobatkan sebagai home sweet home itu, kami memenuhinya dengan environment of loving. Rumah mungil yang penuh dengan cinta.@@
Tetapi sayang, beliau itu hidupnya kurang lengkap, ceritanya kemudian. Kurang lengkap bagaimana pak, saya bertanya penuh penasaran. Beliau itu belum berkeluarga, belum menikah, padahal usianya sudah setengah abad. Ooo.....,bisik saya dalam hati. Dahulu beliau itu suka mengeluh sama saya, ya kalau anak sekarang bilangnya curhat gitu. Ditengah hidupnya yang mapan, sukses dengan jabatan dan pangkat yang tinggi, serta kekayaan yang berlimpah, beliau sering merasa kesepian. Bahkan lebih dari itu, sering merasa bosan. Sering sekali, beliau tak bisa menyembunyikan perasaannya. Terasa sekali hidupnya ada yang kurang. Rumah yang besar dengan perabotan yang super mewah itu, terasa kering tanpa kehadiran suami, anak-anak, bahkan cucu. Tak ada tempat untuk berbagi.
Beliau pernah bilang, bahwa beliau wanita normal, dahulu juga pernah punya pacar seperti wanita-wanita pada umumnya. Bahkan pada masa-masa awal karirnya, beliau pernah dilamar seorang dokter. Tetapi beliau bilang nanti dulu. Merasa belum siap, dan masih memikirkan masa depan karirnya di militer. Tak sabar menunggu, sang dokter pun menikah dengan wanita lain, seorang sarjana ekonomi, karyawati sebuah bank swasta nasional. Dan pada kemudian hari diketahui, ia mengundurkan diri dari bank tersebut dan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Sekarang beliau menyesal, dan waktu sudah sangat terlambat. Beliau merasa keputusannya saat itu salah. Mestinya karir harus berjalan seiring dengan rumah tangga. Begitu banyak orang-orang besar yang kesuksesannya tidak lepas dari dukungan suami, istri dan keluarga mereka. Sebenarnya saya juga sedih dengan keadaan beliau, tetapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, maklum to mas, saya kan cuma orang bodoh, hanya pembantu. Tetapi beliau sekarang sudah mupus, sudah pasrah sama yang maha kuasa.
Ketika menengok istri saya di rumah sakit, saat melahirkan anak kami dulu, beliau pernah berpesan, "Min....., berbahagialah kamu, sekalipun kamu tidak punya apa-apa, sekalipun kamu cuma pembantu, tetapi kamu punya anak dan istri. Kamu punya keluarga. Cintailah istrimu dan anak-anakmu setiap hari sepanjang hidupmu, karena mereka adalah harta yang tidak bisa di nilai dengan apapun. Tidak uang, pangkat, dan juga jabatan. Keluarga adalah segala-galanya...."
Ada pria dan wanita yang membuat dunia ini menjadi lebih baik hanya dengan menjadi orang-orang apa adanya. Kalau diantara mereka kemudian memutuskan untuk menikah, menyatu menjadi sebuah keluarga yang bahagia, tentu dunia ini akan menjadi jauh lebih baik lagi. Tetapi bila ada yang dengan sadar memutuskan untuk hidup sendiri, tentu tak perlu diperdebatkan. Hidup akan selalu menyuguhkan dua buah pilihan. Pilihan mana yang akan dijatuhkan tentu akan sangat tergantung kepada yang akan menjalaninya. Setiap orang berhak menentukan pilihan-pilihan terbaik hidupnya.
Penyesalan yang dialami majikannya Karjimin, mungkin juga dialami oleh banyak orang yang lain. Dan aku yakin sekali, ada sesuatu yang istimewa dalam sebuah keluarga. Seorang istri, anak-anak, dan sebuah milik sendiri. Perasaan yang tenang karena yakin telah memutuskan sesuatu yang benar. Memutuskan untuk menikah dan memiliki keluarga. Menirukan apa yang sering dilakukan Gede Prama, sang resi managemen dan penulis buku-buku inspiratif itu, di rumah saya yang mungil di kawasan Bogor, saya sering menyanyikan lagu Everiday I Love You pada anak dan istri. Bermain dan bercanda dengan mereka pada setiap kesempatan, di rumah kecil yang sudah kami nobatkan sebagai home sweet home itu, kami memenuhinya dengan environment of loving. Rumah mungil yang penuh dengan cinta.@@
Senin, 12 Juli 2010
ANGKRINGAN VS RESTORAN HOTEL BINTANG 5
Setelah lebih dari 15 tahun malang melintang menggeluti dunia kuliner modern di ibu kota, tak lantas selera makan saya berubah. Bagi sebagian orang, selera makan saya mungkin payah. Tetapi buat saya sendiri tidak ada masalah. Mendalami kuliner bergengsi, keluar masuk hotel bintang lima dengan frekwensi yang cukup sering, tak membuat saya melupakan makanan asli nenek moyang, baik dari penyajiannya yang sederhana, maupun jenis makanannya.
Setiap kali liburan dan berkesempatan pulang ke kota kelahiran saya di Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk makan dan nongkrong di warung angkringan, yang banyak bertebaran di jalan-jalan kota Jogja. Warung yang berupa gerobak dorong beratapkan terpal, dengan penerangan lampu minyak itu, memang sangat familiar di Jogja. Warung yang buka dari pagi hari hingga menjelang dini hari itu, memiliki customer yang cukup beragam. Mulai dari tukang becak, tukang ojeg, kuli panggul, sopir taksi, mahasiswa, hingga karyawan mall dan pegawai kantoran. Makanan yang disajikan pun cukup sederhana kalau tidak boleh di bilang ndeso. Dari aneka gorengan, aneka baceman, sego kucing, aneka sate, hingga aneka minuman yang dingin maupun yang panas.
Menikmati malam dengan nggayemi dan nongkrong di angkringan, buat saya memiliki kenikmatan tersendiri. Segelas teh jahe yang hangat, sebungkus nasi kucing dengan sambal terinya yang khas, serta aneka jajanan yang menggugah selera, wah.....pokoknya mat dan laras.
Setiap kali liburan dan berkesempatan pulang ke Jogja, makan dan nongkrong di angkringan sudah menjadi semacam ritual. Bahkan di tempat yang sederhana itulah saya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga.
Mendengar keluhan-keluhan dan suara-suara sumbang rakyat kecil langsung dari sumbernya, bukan dari mereka yang selalu mengatasnamakan wong cilik. Tentang hidup yang makin sulit, tentang biaya sekolah yang makin mahal tak terjangkau, dan tentang hal-hal yang menyagkut kehidupan masyarakat kecil seperti mereka. Dan pengalaman yang tak kalah menarik adalah, ketika saya sedang asyik ngopi dan menghisap sebatang bintang buana filter, saya mendengar debat kusir antara tukang ojeg dan tukang parkir, tentang Gayus Tambunan yang kaya mendadak karena mengemplang pajak, yang notabene adalah uang rakyat seperti mereka.
Setelah 15 tahun menekuni dunia kuliner berkelas, terbiasa dengan makanan ala Oriental, Continental, bahkan Classic, tak membuat saya lupa diri kecanduan dengan deluxe food tersebut. Kadang-kadang saya heran dengan selera makan sebagian orang. Seorang teman bercerita dengan bangga setelah makan Pizza di Pasar Festival, teman yang yang lain menulis status di facebook setelah makan di Hoka-hoka Bento.
Diakui atau tidak, globalisasi berdampak kurang baik pada sendi-semdi kehidupan kalangan masyarakat tertentu. Manjamurnya restoran fast food, berdampak pada naiknya tingkat konsumtifisme golongan masyarakat tertentu. Kentucky Fried Chickhen, Mc Donald's. Hoka-hoka Bento, Spaghetti House adalah meja makan kedua mereka setelah yang di rumah. Belum lagi kalau harus ngomongin Fine Dinning, Executive Club, Coctail Party, Corporate Gathering, wah ini semua sudah gaya makan negeri antah berantah.
Seorang tamu saya pernah menghabiskan duit hingga 1,3 juta rupiah hanya untuk makan seorang diri. Tamu yang lain rela merogoh kocek hingga 7 juta rupiah untuk makan malam bersama keempat orang temannya. Dan seorang pengusaha tak segan-segan menggelontorkan uang 50 juta rupiah untuk sebuah ulang tahun yang dihadiri kurang dari 30 orang. Seolah tak mau kalah dengan sang pengusaha, seorang pejabat bank sentral negeri ini rela menguras sakunya hingga 150 juta rupiah untuk menggelar ulang tahunnya di sebuah grand ball room di sebuah hotel bintang lima. Bahkan dalam rangka resepsi pernikahan kerabatnya yang digelar disebuah hotel bintang lima yang lain, seorang pengusaha yang lain mengundang 1000 orang tamu undangan dengan harga menu makanan yang disuguhkan mencapai 550 ribu rupiah per orang. Edaaannn....!Dahsyaaattt...!
Menurut saya yang memang tidak empunya alias mlarat ini, semua itu adalah pemborosan dan ketidakefisienan belaka. Tetapi bagi mereka yang memang tajir mungkin tidak, bahkan biasa-biasa saja. Maklum saja wong buat mereka itu sekali kentut bisa 1 M. Coba kalau kentutnya sehari 3 kali, 10 hari jadi 30 kali kentut, sebulan jadi 90 kali kentut, setahun jadi 1080 kali kentut, bisa pusing ngitungnya. Apalagi kalau topik ini didiskusikan di angkringan dengan tukang ojeg, tukang becak, tukang parkir, pasti akan seru. Dengan dibumbui debat setengah kusir ala mereka, bisa jadi akan lebih seru dari perhelatan akbar piala dunia...@@.
Setiap kali liburan dan berkesempatan pulang ke kota kelahiran saya di Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk makan dan nongkrong di warung angkringan, yang banyak bertebaran di jalan-jalan kota Jogja. Warung yang berupa gerobak dorong beratapkan terpal, dengan penerangan lampu minyak itu, memang sangat familiar di Jogja. Warung yang buka dari pagi hari hingga menjelang dini hari itu, memiliki customer yang cukup beragam. Mulai dari tukang becak, tukang ojeg, kuli panggul, sopir taksi, mahasiswa, hingga karyawan mall dan pegawai kantoran. Makanan yang disajikan pun cukup sederhana kalau tidak boleh di bilang ndeso. Dari aneka gorengan, aneka baceman, sego kucing, aneka sate, hingga aneka minuman yang dingin maupun yang panas.
Menikmati malam dengan nggayemi dan nongkrong di angkringan, buat saya memiliki kenikmatan tersendiri. Segelas teh jahe yang hangat, sebungkus nasi kucing dengan sambal terinya yang khas, serta aneka jajanan yang menggugah selera, wah.....pokoknya mat dan laras.
Setiap kali liburan dan berkesempatan pulang ke Jogja, makan dan nongkrong di angkringan sudah menjadi semacam ritual. Bahkan di tempat yang sederhana itulah saya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga.
Mendengar keluhan-keluhan dan suara-suara sumbang rakyat kecil langsung dari sumbernya, bukan dari mereka yang selalu mengatasnamakan wong cilik. Tentang hidup yang makin sulit, tentang biaya sekolah yang makin mahal tak terjangkau, dan tentang hal-hal yang menyagkut kehidupan masyarakat kecil seperti mereka. Dan pengalaman yang tak kalah menarik adalah, ketika saya sedang asyik ngopi dan menghisap sebatang bintang buana filter, saya mendengar debat kusir antara tukang ojeg dan tukang parkir, tentang Gayus Tambunan yang kaya mendadak karena mengemplang pajak, yang notabene adalah uang rakyat seperti mereka.
Setelah 15 tahun menekuni dunia kuliner berkelas, terbiasa dengan makanan ala Oriental, Continental, bahkan Classic, tak membuat saya lupa diri kecanduan dengan deluxe food tersebut. Kadang-kadang saya heran dengan selera makan sebagian orang. Seorang teman bercerita dengan bangga setelah makan Pizza di Pasar Festival, teman yang yang lain menulis status di facebook setelah makan di Hoka-hoka Bento.
Diakui atau tidak, globalisasi berdampak kurang baik pada sendi-semdi kehidupan kalangan masyarakat tertentu. Manjamurnya restoran fast food, berdampak pada naiknya tingkat konsumtifisme golongan masyarakat tertentu. Kentucky Fried Chickhen, Mc Donald's. Hoka-hoka Bento, Spaghetti House adalah meja makan kedua mereka setelah yang di rumah. Belum lagi kalau harus ngomongin Fine Dinning, Executive Club, Coctail Party, Corporate Gathering, wah ini semua sudah gaya makan negeri antah berantah.
Seorang tamu saya pernah menghabiskan duit hingga 1,3 juta rupiah hanya untuk makan seorang diri. Tamu yang lain rela merogoh kocek hingga 7 juta rupiah untuk makan malam bersama keempat orang temannya. Dan seorang pengusaha tak segan-segan menggelontorkan uang 50 juta rupiah untuk sebuah ulang tahun yang dihadiri kurang dari 30 orang. Seolah tak mau kalah dengan sang pengusaha, seorang pejabat bank sentral negeri ini rela menguras sakunya hingga 150 juta rupiah untuk menggelar ulang tahunnya di sebuah grand ball room di sebuah hotel bintang lima. Bahkan dalam rangka resepsi pernikahan kerabatnya yang digelar disebuah hotel bintang lima yang lain, seorang pengusaha yang lain mengundang 1000 orang tamu undangan dengan harga menu makanan yang disuguhkan mencapai 550 ribu rupiah per orang. Edaaannn....!Dahsyaaattt...!
Menurut saya yang memang tidak empunya alias mlarat ini, semua itu adalah pemborosan dan ketidakefisienan belaka. Tetapi bagi mereka yang memang tajir mungkin tidak, bahkan biasa-biasa saja. Maklum saja wong buat mereka itu sekali kentut bisa 1 M. Coba kalau kentutnya sehari 3 kali, 10 hari jadi 30 kali kentut, sebulan jadi 90 kali kentut, setahun jadi 1080 kali kentut, bisa pusing ngitungnya. Apalagi kalau topik ini didiskusikan di angkringan dengan tukang ojeg, tukang becak, tukang parkir, pasti akan seru. Dengan dibumbui debat setengah kusir ala mereka, bisa jadi akan lebih seru dari perhelatan akbar piala dunia...@@.
TENTANG PERNIKAHAN AGUNG
Bertempat di sebuah Grand ball room hotel bintang lima di kawasan Senayan Jakarta, perhelatan akbar pernikahan antara seorang artis ibu kota dan anak seorang pengusaha sukses nan kaya raya itu akan di gelar. Konon menurut pemberitaan media masa pernikahan ini dinobatkan sebagai pernikahan terakbar tahun ini. Pernikahan agung yang kabarnya menelan biaya mendekati angka 200 milyar rupiah, dan akan dihadiri tak kurang dari 7000 undangan. Fantastis, bak cerita pesta pernikahan di negeri dongeng, pesta itu dipastikan akan menjadi pesta pernikahan yang paling wah dan paling spektakuler pada tahun ini.
Keagungan sebuah pernikahan menurut pemikiran banyak orang, mungkin akan selalu dikaitkan dengan pesta dan tempatnya yang mewah, jumlah biayanya yang besar, dan banyaknya tamu undangan yang akan hadir. Seperti kebanyakan pesta pernikahan yang di langsungkan kaum berada, pejabat, pengusaha dan tentu artis-artis papan atas negeri ini. Sedikit sekali atau bahkan mungkin tidak ada orang yang memandang keagungan sebuah pernikahan itu dilihat dari out putnya. Jadi apakah dari pesta pernikahan yang disebut agung itu, pada kemudian hari mampu melahirkan sebuah keluarga yang bahagia atau tidak. Apakah dari pernikahan yang disebut spektakuler itu pada kemudian hari mampu mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis dan agamis atau tidak.
Ironisnya pesta pernikahan nan agung dengan beribu-ribu undangan yang hadir dan bermilyar-milyar biaya yang harus di keluarkan itu, tidak pernah menjamin bahwa pada kemudian hari akan menjadi keluarga yang bahagia. Berapa banyak artis-artis ibu kota kita, yang pernikahannya diadakan di grand ball room sebuah hotel bintang lima ternama, dan dengan biaya yang mencapai milayran rupiah, tetapi dikemudian hari rumah tangganya harus kandas di tengah jalan dan diakhiri dengan perceraian. Tidak cukup sampai disitu, mereka kemudian malah berseteru dihadapan pengadilan untuk memperebutkan hak asuh anak dan juga harta gono-gini. Dengan menyewa pengacara tersohor, mereka mereka berdebat mempertahankan argumennya masing-masing. Mengklaim kebenaran versi mereka. Di depan media mereka saling serang, perang kata-kata, membuka aib satu sama lain. Menghabiskan banyak uang dan juga energi untuk memerangi orang yang pernah mereka cintai. Pendeknya mereka semua gagal total mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia, sebagai tujuan utama dari suatu pernikahan. Pernikahannya yang agung dan mewah itu seolah tak berarti, karena harus diakhiri dengan perceraian yang menyakitkan di tambah bonus perselisihan yang berkepanjangan.
Saya jadi ingat pernikahan Agung Budianto, kawan sekolah saya di SMA dulu. Pernikahan yang sangat sederhana di sebuah desa kecil, di lereng selatan gunung Merapi kala itu. Tidak seperti upacara pernikahan pada umumnya, pernikahan itu hanya berlangsung sangat singkat, dan hanya dihadiri oleh beberapa kawan dekat, keluarga dan tetangga sekitar. Tidak ada janur kuning sebagai penghias, tidak ada pelaminan untuk duduk sang pengantin, tidak ada pengeras suara, tidak ada kursi-kursi untuk tamu undangan yang hadir, sebab semua dilakukan dengan cara lesehan menggelar tikar. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat lima gram, ijab qobul pun berlangsung dengan lancar tanpa hambatan satu apapun.
Menyederhanakan pernikahan dengan alasan masih kuliah dan minimnya biaya yang dimiliki, tak membuat nilai keabsahan dan kesakralan sebuah pernikahan berkurang, yang penting syarat dan rukunnya terpenuhi, katanya saat itu.
Lima belas tahun kemudian, ketika tanpa sengaja saya ketemu mas Agung pada sebuah perjamuan di Jogja, kemudian saya diajak mampir kerumahnya yang mungil dan asri di kawasan Jogja utara. Memiliki dua anak perempuan yang cantik-cantik dan pintar-pintar, membuatnya ia berbangga. Ia sendiri menjadi guru agama pada SD negeri tak jauh dari rumahnya. Istrinya yang juga tercatat sebagai aktivis disebuah organisasi keagamaan itu juga masih sempat membuka boutiqe baju muslim kecil-kecilan di rumahnya, serta menerima jahitan baju-baju muslim khususnya buat anak-anak.
Dalam kesederhanaan hidupnya ia terlihat sangat bahagia. Dalam benak saya kemudian muncul pertanyaan, sebenarnya yang disebut pernikahan agung itu, pernikahan yang glamour dan menghabiskan uang milyaran rupiah tetapi gagal melahirkan sebuah keluarga yang bahagia, atau pernikahan sederhana seperti kawan saya mas Agung itu, tetapi sukses besar mewujudkan keluarga yang bahagia, harmonis, sakinah, mawadah dan warohmah....,sih? Jadi yang penting itu pestanya atau pernikahannya...? Entahlah...., anda sendiri yang bisa menilainya.@@
Keagungan sebuah pernikahan menurut pemikiran banyak orang, mungkin akan selalu dikaitkan dengan pesta dan tempatnya yang mewah, jumlah biayanya yang besar, dan banyaknya tamu undangan yang akan hadir. Seperti kebanyakan pesta pernikahan yang di langsungkan kaum berada, pejabat, pengusaha dan tentu artis-artis papan atas negeri ini. Sedikit sekali atau bahkan mungkin tidak ada orang yang memandang keagungan sebuah pernikahan itu dilihat dari out putnya. Jadi apakah dari pesta pernikahan yang disebut agung itu, pada kemudian hari mampu melahirkan sebuah keluarga yang bahagia atau tidak. Apakah dari pernikahan yang disebut spektakuler itu pada kemudian hari mampu mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis dan agamis atau tidak.
Ironisnya pesta pernikahan nan agung dengan beribu-ribu undangan yang hadir dan bermilyar-milyar biaya yang harus di keluarkan itu, tidak pernah menjamin bahwa pada kemudian hari akan menjadi keluarga yang bahagia. Berapa banyak artis-artis ibu kota kita, yang pernikahannya diadakan di grand ball room sebuah hotel bintang lima ternama, dan dengan biaya yang mencapai milayran rupiah, tetapi dikemudian hari rumah tangganya harus kandas di tengah jalan dan diakhiri dengan perceraian. Tidak cukup sampai disitu, mereka kemudian malah berseteru dihadapan pengadilan untuk memperebutkan hak asuh anak dan juga harta gono-gini. Dengan menyewa pengacara tersohor, mereka mereka berdebat mempertahankan argumennya masing-masing. Mengklaim kebenaran versi mereka. Di depan media mereka saling serang, perang kata-kata, membuka aib satu sama lain. Menghabiskan banyak uang dan juga energi untuk memerangi orang yang pernah mereka cintai. Pendeknya mereka semua gagal total mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia, sebagai tujuan utama dari suatu pernikahan. Pernikahannya yang agung dan mewah itu seolah tak berarti, karena harus diakhiri dengan perceraian yang menyakitkan di tambah bonus perselisihan yang berkepanjangan.
Saya jadi ingat pernikahan Agung Budianto, kawan sekolah saya di SMA dulu. Pernikahan yang sangat sederhana di sebuah desa kecil, di lereng selatan gunung Merapi kala itu. Tidak seperti upacara pernikahan pada umumnya, pernikahan itu hanya berlangsung sangat singkat, dan hanya dihadiri oleh beberapa kawan dekat, keluarga dan tetangga sekitar. Tidak ada janur kuning sebagai penghias, tidak ada pelaminan untuk duduk sang pengantin, tidak ada pengeras suara, tidak ada kursi-kursi untuk tamu undangan yang hadir, sebab semua dilakukan dengan cara lesehan menggelar tikar. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat lima gram, ijab qobul pun berlangsung dengan lancar tanpa hambatan satu apapun.
Menyederhanakan pernikahan dengan alasan masih kuliah dan minimnya biaya yang dimiliki, tak membuat nilai keabsahan dan kesakralan sebuah pernikahan berkurang, yang penting syarat dan rukunnya terpenuhi, katanya saat itu.
Lima belas tahun kemudian, ketika tanpa sengaja saya ketemu mas Agung pada sebuah perjamuan di Jogja, kemudian saya diajak mampir kerumahnya yang mungil dan asri di kawasan Jogja utara. Memiliki dua anak perempuan yang cantik-cantik dan pintar-pintar, membuatnya ia berbangga. Ia sendiri menjadi guru agama pada SD negeri tak jauh dari rumahnya. Istrinya yang juga tercatat sebagai aktivis disebuah organisasi keagamaan itu juga masih sempat membuka boutiqe baju muslim kecil-kecilan di rumahnya, serta menerima jahitan baju-baju muslim khususnya buat anak-anak.
Dalam kesederhanaan hidupnya ia terlihat sangat bahagia. Dalam benak saya kemudian muncul pertanyaan, sebenarnya yang disebut pernikahan agung itu, pernikahan yang glamour dan menghabiskan uang milyaran rupiah tetapi gagal melahirkan sebuah keluarga yang bahagia, atau pernikahan sederhana seperti kawan saya mas Agung itu, tetapi sukses besar mewujudkan keluarga yang bahagia, harmonis, sakinah, mawadah dan warohmah....,sih? Jadi yang penting itu pestanya atau pernikahannya...? Entahlah...., anda sendiri yang bisa menilainya.@@
Langganan:
Postingan (Atom)