Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kotaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kotaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2011

PERJANJIAN GIYANTI DAN LAHIRNYA JOGJAKARTA


Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian yang melatarbelakangi pecahnya dynasti Mataram dan lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta. Hal itu berawal dari  Pangeran Mangkubumi yang menagih janji dari Sunan Pakubuwono III yang akan memberikan 3000 cacah tanah di wilayah Sukowati bila berhasil menumpas pembrontakan yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyowo.
Perjanjian Giyanti sebenarnya merupakan kesepakan antara pihak Belanda, dalam hal ini VOC dengan pihak kerajaan Mataram yang di wakili oleh Sunan Pakubuwono III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi akhirnya memutar haluan menyeberang dari kelompok pemberontak dan bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan Mataram, dan ikut memerangi pemberontak yaitu Pangeran Sambernyowo. Perjanjian Giyanti yang akhirnya di tandatangani pada tanggal 13 Februari 1775 di desa Giyanti yang saat ini menjadi wilayah dukuh Kerten Desa Jantiharjo kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah ini secara de facto dan de jure menandai berakhirnya kerajaan Mataram.
Berdasarkan perjanjian ini wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 bagian, yaitu wilayah disebelah timur dikuasai oleh pewaris tahta Mataram ( Sunan Pakubuwono III ) dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara disebelah barat yang merupakan wilayah Mataram yang asli diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi, sekaligus diangkat sebagai Sultan Hamengkubuwono I dan berkedudukan di Ngayogyakarta. Dalam perjajian itu juga terdapat klausul, VOC bisa menentukan siapa yang menjadi penguasa wilayah itu jika diperlukan.
Perjanjian Giyanti sebenarnya belum mengakhiri gonjang-ganjing di kerajaan Mataram, karena kepentingan kelompok Pangeran Sambernyowo ( Raden Mas Said ) tidak terakomodasi dalam perjanjian ini. Pangeran Sambernyowo adalah rivalitas Pangeran Mangkubuni untuk menjadi orang nomor satu di kerajaan Mataram. Perjanjian Giyanti bisa jadi merupakan persekongkolan untuk menyingkirkan Pangeran Sambernyowo. Ada juga yang beranggapan bahwa Perjanjian Giyanti merupakan bagian dari politik pecah belah Belanda. Terlepas dari kontroversi yang terjadi, Perjanjian Giyanti merupakan “ibu kandung” Kasultanan Ngayogyakarta yang kemudian menjadi Yogyakarta. yang telah banyak memberikan sumbangsihnya pada awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di awal kemerdekaan RI  kasultanan Yogyakarta banyak memberikan bantuan baik moril maupun matriil. Dan puncaknya adalah ketika Sultan Hamengkubuwono IX yang bertahta pada saat itu, menyatakan wilayah kasultanan Ngayogyakarta sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia begitu Kemerdekaan di proklamirkan oleh Sukarno-Hatta. Pemindahan ibukota dari Jakarta ke Jogjakarta juga atas inisiatif dan difasilitasi oleh Sultan Hamengkubuwono IX.@@ ( Sumber : Wikipedia, beberapa sumber lain )

Jumat, 18 November 2011

MENGENAL LEBIH DEKAT PANEMBAHAN SENOPATI, SANG PENDIRI KERAJAAN MATARAM


Panembahan Senopati adalah pendiri kasultanan Mataram yang 188 tahun kemudian terpecah menjadi 2, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta melalui Perjanjian Giyanti. Beliau memerintah sebagai raja Mataram pertama pada tahun 1587-1601. Bergelar Senopati Ingalogo Kalifatulah Tanah Jawa, Panembahan Senopati adalah peletak dasar-dasar kasultanan Mataram. Raja pertama Mataram yang memiliki nama kecil Danang Sutawijaya ini, merupakan putra sulung dari pasangan Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Sabinah. Menurut naskah-naskah babad tanah jawa ayahnya merupakan keturunan raja Brawijaya, raja terakhir kerajaan Majapahit, sedang ibunya merupakan keturunan Sunan Giri, anggota Walisongo. Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani, yang kemudian diangkat sebagai patih pertama kasultanan Mataram.
Ikut berjasa besar dalam menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549, Sutawijaya kemudian diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya bupati Pajang untuk pancingan karena sampai saat itu beliau belum dikaruniai seoarang anak. Sutawijaya kemudian bertempat tinggal di sebelah utara pasar, sehingga kemudian ia dikenal sebagai Raden Ngabehi Loring Pasar.
Dalam sayembara menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549, ia diajak ikut serta ayahnya dalam rombongan pasukan, supaya Sultan Hadiwijaya tidak tega dan menyertakan bala pasukan Pajang sebagai bantuan, saat itu Sutawijaya masih berumur belasan tahun. Arya Penangsang adalah bupati Jipang Panolan yang sudah membunuh Sunan Prawoto raja terakhir kasultanan Demak. Ia sendiri akhirnya terbunuh oleh Sutawijaya. Akan tetapi sengaja di buat laporan palsu bahwa kematian Penangsang karena dikeroyok oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, karena jika Sultan Hadiwijaya sampai tahu kisah sebenarnya bahwa yang membunuh Arya Penangsang adalah anak angkatnya sendiri, beliau akan lupa memberikan hadiah.
Usai sayembara Ki Penjawi mendapat tanah di Pati dan menjadi bupati sejak 1549, sedang ki Ageng Pemanahan baru mendapat tanah Mataram sejak tahun 1556. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1575, Sutawijaya menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin Mataram dan bergelar Senopati Ingalogo yang berarti panglima medan perang.
Pada tahun 1576 Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil dari Pajang tiba untuk menanyakan kesetiaan Mataram, mengingat sudah lebih dari setahun Senopati tidak menghadap Sultan Hadiwijaya. Senopati saat itu sedang sibuk berkuda di Lipura, seolah tidak peduli dengan kedua utusan tersebut. Namun kedua pejabat senior Pajang itu sangat pandai menjaga perasaan Sultan Hadiwijaya melalui laporan yang mereka susun
Senopati memang ingin menjadikan Mataram menjadi kerajaan yang merdeka. Ia sibuk mengadakan persiapan baik yang bersifat matreal maupun spiritual, misalnya membangun benteng, melatih tentara, sampai menghubungi penguasa laut selatan dan gunung Merapi. Senopati juga berani membelokkan para mantri pamajegan dari kedu dan bagelen yang hendak meyetor pajak ke Pajang, hingga para mantri itu bahkan dibujuknya untuk setia pada senopati. Sultan Hadiwijaya resah mendengar kemajuan anak angkatnya, dan iapun mengirim utusan untuk menyelidiki kemajuan Mataram. Yang diutus adalah Arya Pamalad Tuban dan Pangeran Benawa serta Patih Mancanegara. Semua dijamu dengan pesta oleh Senopati, sehingga mereka tidak membuat laporan yang biasa-biasa saja pada Sultan Hadiwijaya tentang Senopati.
Pada tahun 1582 Sultan Hadiwijaya menghukum Tumenggung Mayang dibuang ke Semarang karena telah membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan menyusup kedalam keputren dan mengganggu Ratu Sekar Kedaton putri bungsu Sultan. Raden Pabelan sendiri akhirnya dihukum mati dan mayatnya dibuang ke sungai Laweyan. Ibu Pabelan adalah adik Senopati, maka ia mengutus para mantri untuk merebut tumenggung Mayang dalam perjalanan pebuangannya ke Semarang. Perbuatan Senopati ini membuat Sultan Hadiwijaya murka. Sultanpun berangkat sendiri memimpin pasukan Pajang untuk menyerang Mataram.
Perangpun terjadi, pasukan  Mataram berhasil menghalau pasukan Pajang, meski jumlah mereka lebih banyak. Kemudian Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dalam perjalanan pulang ke pajang. Ia pun akhirnya meninggal dunia, namun beliau sempat berwasiat agar anak-anaknya tidak membenci dan memusuhi Senopati serta harus memperlakukannya sebagai kakak sulung. Senopati sendiri ikut hadir dalam upacara pemakaman Sultan Hadiwijaya di Pajang. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya, Senopati memerdekakan Mataram pada tahun 1587 dan memerintah menjadi raja pertama Mataram. Beliau wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di makam raja-raja Kotagede, kemudian digantikan oleh Panembahan Hanyakrawati atau Raden Mas Jolang. Sekarang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Yogyakarta, tak jauh dari kraton.@ (Sumber:Wikipedia dan beberapa sumber lain)

Kamis, 10 November 2011

SEJARAH BERDIRINYA BENTENG VREDEBURG



Setelah terjadinya perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua bagian barat dan timur, Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, maka Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I langsung membangun ibukota baru berikut istananya.

Pembangunan ibu kota dan istananya itu dimulai pada tanggal 9 Oktober 1755 di sebuah tempat bernama Umbul Pachethokan, kawasan hutan Paberingan yang kemudian bernama Ayodya atau Ngayogya, atau kini lebih dikenal sebagai Yogyakarta. Selama pembangunan Sultan beserta keluarga tinggal di pesanggrahan Ambarketawang di Gamping sebelah barat Yogya. Kemudian dibangun pula bangunan-bangunan lain. Kraton dikelilingi tembok tebal yang kemudian di kenal sebagai benteng Baluwerti. Di dalamnya terdapat aneka  bangunan dengan rupa dan fungsi yang berbeda. Bangunan tempat kediaman Sultan dan kerabatnya disebut Prabayeksa yang selesai dibangun pada tahun 1756. Kemudian menyususul banguan Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran selesai pada tahun 1757. Sedang Regol Donopratopo dan Bangsal Kamagangan selesai dibangun pada tahun 1761 dan 1763.  Masjid agung dibangun pada tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai dibangun pada tahun 1777. Bangsal Kencono selesai dibangun pada tahun 1792, dan seterusnya istana kraton Yogyakarta terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Melihat perkembangan kraton yang sangat pesat itulah kemudian pihak Belanda mulai merasa was-was dan khawatir, bila suatu saat kelak Sultan berbalik arah dan tidak mau bekerja sama, bahkan mengusir Belanda. Dari situlah kemudian pihak Belanda meminta izin kepada Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di dekat kraton. Belanda berdalih agar bisa menjaga dan memelihara keamanan kraton dan sekitarnya. Namun demikian niat yang sesungguhnya dari pihak Belanda adalah agar bisa mengontrol setiap perkembangan yang terjadi di lingkungan kraton, lebih-lebih segala kegiatan Sultan. Lokasi pendirian benteng yang sangat dekat bahkan hanya berjarak satu tembakan meriam dari kraton, dan juga letaknya yang menghadap jalan utama yang menuju ke kraton merupakan indikasi kuat bila fungsi benteng yang sebenarnya adalah benteng strategi, intimidasi, bahkan blokade. Benteng tersebut merupakan tempat menyerang atau bertahan bila suatu saat Sultan memalingkan muka dari Belanda.

Sebelum dibangun dilokasi yang sekarang berdiri museum benteng Vredeburg Yogyakarta, dahulu pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan sudah membangun benteng yang sangat sederhana yang berbentuk bujur sangkar dan di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut Seleka dan Bastion. Oleh Sultan keempat sudut itu diberi nama Jaya (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya), dan Jayaprayitna (sudut tenggara).
Pada awal berdirinya benteng tersebut masih sangat sederhana dimana temboknya hanya terbuat dari tanah dan deperkuat dengan tiang-tiang dari kayu.  Tetapi ketika WH Ossenbrech menggantikan Nicolas Hartingh pada tahun 1765, ia mengusulkan kepada Sultan agar bangunan benteng diperkuat menjadi bangunan yang permanen agar lebih bisa menjamin keamanan kraton. Usul tersebut dikabulkan dan kemudian pembangunan benteng diserahkan dibawah pengawasan seorang ahli bangunan dari Belanda bernama Ir Frans Haak. Pada tahun 1767 pembangunan benteng di mulai, tetapi berjalan sangat lambat dan baru selesai pada 20 tahun kemudian pada tahun 1787, sebab dalam waktu bersamaan Sultan juga baru sibuk membangun kraton. Benteng tersebut kemudian dinamakan Rustenberg yang berarti benteng peristirahatan.

Tetapi pada tahun 1867 terjadi gempa hebat di kawasan Yogyakarta yang banyak merobohkan berbagai bangunan besar seperti gedung Residen, Tugu Pal Putih dan juga benteng Rustenberg. Bangunan yang mengalami kerusakan segera dibangun kembali termasuk benteng Rustenberg, setelah selesai dibangun kembali benteng Rustenberg diganti nama menjadi benteng Vredeburg yang berarti benteng Perdamaian, nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan baik antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda.
Bentuk benteng dipertahankan seperti awalnya yang terdapat penjagaan disetiap sudutnya. Pintu gerbang menghadap barat dan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat aneka bangunan dengan aneka fungsi seperti rumah perwira, mess prajurit, gudang logistic, gudang mesiu, klinik prajurit dan rumah residen. ( Sumber: Situs Musium B. Vredeburg, Wikipedia, Sumber lain )

Kamis, 05 Mei 2011

SEJARAH DAN RIWAYAT SINGKAT KOTA JOGJA


Keberadaan kota Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Raden Sutawijaya atau yang kemudian lebih terkenal dengan Panembahan Senopati. Raden Sutawijaya sendiri memperoleh kekuasaan atas Mataram dari ayahnya Ki Ageng Pemanahan. Sementara Ki Ageng Pemanahan mendapat tanah perdikan bumi Mataram dari Sultan Hadiwijaya dari Pajang pada tahun 1556, karena berhasil menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya dari Pajang kemudian Raden Sutawijaya memerdekakan Mataram, terpisah dari Pajang dan memerintah sebagai raja pertama Mataram dengan bergelar Senopati Ing Alogo Kalifatulah Tanah Jawa dan berkuasa pada tahung 1587 hingga tahun 1601.

Dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755, antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-Jendral Jacob Mossel, maka Kerajaan Mataram dibagi dua menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Kemudian Pangeran Mangkubumi berkuasa sebagai Sultan Kasultanan Ngayogyakarta yang pertama dengan bergelar Sultan Hamengkubuwana I. Sultan kemudian segera membuat ibukota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah baru ( babat alas ) di Umbul Pacethokan kawasan Hutan Paberingan yang terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibukota berikut istananya tersebut dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dan landscape utama berhasil diselesaikan pada tanggal 7 Oktober 1756.
Pemilihan nama Ngayogyakarta Hadiningrat ini konon juga dimaksudkan untuk menghormati tempat bersejarah kawasan Hutan Beringan itu, yang pada jaman almarhum Sri Susuhunan Amangkurat IV (Amangkurat Jawi ) merupakan kota kecil yang indah. Di dalamnya terdapat sebuah istana pesanggrahan yang terkenal dengan nama Garjitawati. Kemudian pada jaman Sri Susuhunan Paku Buwono II bertahta di Kartasura nama pesanggrahan itu diganti dari Garjitawati menjadi Ayodya atau Ngayogya, yang berarti kota yang damai, aman dan tenteram.

Kraton Kasultanan Yogyakarta mulai dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755. Selama pembangunan keraton berlangsung, Sultan dan keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang di daerah Gamping, kurang lebih selama satu tahun. Pada hari Kamis Pahing, tanggal 7 Oktober 1756 selama satu tahun. Meski belum selesai dengan sempurna, Sultan dan keluarga berkenan menempatinya. Peresmian di saat raja dan keluarganya menempati kraton ditandai dengan candra sangkala Dwi Naga Rasa Tunggal Dalam tahun Jawa sama dengan 1682, tanggal 13 Jimakir yang bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 1756.

Setelah kraton mulai ditempati kemudian berdiri pula bangunan-bangunan lain, kraton dikelilingi oleh tembok yang tebal yang disebut Benteng Baluwerti. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan dengan aneka rupa dan fungsi. Bangunan kediaman sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, selesai dibangun tahun 1546. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran selesai dibangun tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai tahun 1751 dan 1763. Masjid Agung didirikan tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai tahun 1777. Bangsal Kencana selesai tahun 1792. Demikian kraton Yogyakarta berdiri dengan perkembangan yang senantiasa terjadi dari waktu ke waktu.

Menyusul kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 5 September 1945 Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku raja Ngayogyakarta Hadiningrat dan Sri Paku Alam VIII sebagai adipati kabupaten Pakualaman mengeluarkan dekrit yang menyatakan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari NKRI. Sehari kemudian pada tanggal 6 September 1945 Presiden Sukarno menjawab dengan piagam penetapan yang mengakui Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Pada tanggal 4 Maret 1950 terbit UU No.3 tahun 1950 yang berisi penetapan Daerah Istimewa Yogyakarta. ( Sumber: Situs B Vredeburg, Wikipedia, Media Indonesia )

Minggu, 01 Mei 2011

YOGYAKARTA, ASAL-MUASAL KATA DAN MAKNANYA


Kota Yogyakarta konon bermula dari sebuah mata air bernama Umbul Pacethokan di sebuah hutan kecil yang bernama Alas Paberingan. Di tempat ini mula-mula didirikan sebuah pesanggrahan untuk tempat peristirahatan Sunan Pakubuwono II, dengan diberi nama Pesanggrahan Garjitawati. Tempat ini dahulu juga dipergunakan sebagai tempat istirahat pada saat pemakaman bangsawan dan raja-raja Mataram yang telah wafat, di makam Imogiri. Untuk selanjutnya beliau mengganti nama Garjitawati dengan nama Ngayogya atau Ayogya. Nama Ngayogyakarta ditafsirkan berasal dari dua kata yaitu kata Ayuda dan Karta. Kata “a” berarti tidak dan “yuda” berarti perang. Jadi kata “Ayuda” mengandung pengertian tidak ada perang atau dalam hal ini adalah damai. Sedangkan “Karta” berarti aman dan tenteram. Jadi Ngayogyakarta dapat diartikan sebagai “tempat yang damai, aman dan tenteram”.

Untuk selanjutnya tempat ini dikenal dengan nama Ngayogyakarta Hadiningrat, setelah terjadinya perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1775 silam, yang memecah kerajaan Mataram menjadi dua sebelah barat dan timur. Sebelah barat menjadi Kasultanan Ngayogyakarta dan sebelah timur menjadi Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta diperintah oleh Sri Susuhunan Pakubuwono dan Kasultanan Ngayogyakarta di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri sultan Hamengkubuwono I. Pemilihan nama ini konon juga dimaksudkan untuk menghormati tempat bersejarah kawasan Alas Beringan itu, yang pada jaman almarhum Sri Susuhunan Amangkurat Jawi (Amangkurat IV) merupakan kota kecil yang indah. ( Dari: Situs B Vredeburg, Wikipedia

Selasa, 04 Januari 2011

KOTA REPUBLIK, YANG BARU DARI JOGJA


Memiliki julukan sebagai kota budaya, kota pelajar, kota mahasiswa, kota perjuangan dan juga kota gudeg ternyata belum cukup untuk Jogja. Sebagai kota perjuangan yang telah banyak memberikan sumbangsihnya kepada negeri ini, pada saat awal kemerdekaan dahulu, kini kota Jogja memiliki sebutan baru sebagai kota Republik.

Hal ini berkaitan dengan peran kota Jogja yang sempat menjadi ibu kota pada 65 tahun silam. Pengukuhan Jogja sebagai kota republik dilakukan sendiri oleh Ngarsodalem, Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang di dampingi oleh Sri Pakualam IX dan lima kepala daerah yaitu walikota Jogjakarta, bupati Sleman, bupati Bantul, bupati Gunung Kidul dan bupati Kulon Progo. Pengukuhan ini dilakukan di Pagelaran Kraton dalam acara peringatan 65 tahun perpindahan ibukota RI dari Jakarta ke Jogjakarta pada 4 Januari 2010 lalu.

Dalam pengukuhan ini Sri sultan menegaskan peringatan ini menjadi kekuatan bersama untuk kebersamaan. Peringatan ini akan menjadi ‘ritual’ wajib bagi warga Jogja dan akan mengingatkan bila Jogja memang benar-benar istimewa.

Sementara ketua panitya kirab dan pengukuhan Jogja sebagai kota Republik Widihasto Wahana Putra mengatakan bahwa dalam acara kirab dan pengukuhan ini mengandung 3 dimensi .
Yang pertama adalah Jogja selalu memilih cara-cara yang istimewa untuk mengkosolidir kekuatan dan potensi masyarakat, terutama dalam menjaga nilai-nilai patritisme , nasionalisme dan cinta tanah air.

Gerakan ini merupakam sikap politik bersama masyarakat Jogja dengan segala cirri keistimewaan yang melekat didalamnya sampai kapanpun. Dan Jogja sebagai kota Republik adalah harapan bahwa kota ini harus berorientasi pada kepentingan umum yang sejatinya sinergis dengan konsepsi Tahta Untuk Rakyat.

Kamis, 23 Desember 2010

DARI JOGJA UNTUK INDONESIA


Kesultanan Yogyakarta memiliki andil yang sangat besar dalam sejarah berdirinya Nergara Kesatuan Republik Indonesia, sudah selayaknya keistimewaan Yogyakarta di pertahankan. Isu monarki di Yogyakarta sama sekali tidak berdasar dan juga tidak produktif untuk bangsa dan negara ini. Keistimewaan Yogyakarta sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem monarki. Keistimewaan Yogyakarta berkaitan dengan sejarah panjang karena peran dan andil Kasultanan Yogyakarta di awal berdirinya NKRI.

Sejarawan UGM bahkan menghimbau para intelektual dan para politikus untuk mempelajari sejarah, bukan malah menghianatinya. Selebihnya jika RUU Keistimewaan Yogyakarta dibahas dengan memreteli keistimewaan Yogyakarta, SBY akan mengulangi kesalahan mantan presiden Suharto dimasa Orde Baru. Beliau juga menekankan, di awal kemerdekaan Sultan bersama rakyat Yogyakarta membantu pemerintah Republik Indonesia untuk bisa memerintah. Bantuan berupa uang, tanah, dan dukungan moril diberikan kepada pemerintah Republik Indonesia, termasuk saat pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Karena itu, presiden harus mempelajari sejarah. Pemimpin jangan menghianati apa yang telah menjadi komitmen dimasa pendirian republik ini.

Mantan ketua PP Muhamadiyah Buya Syafii Maarif menambahkan, bahwa keistimewaan Yogyakarta menyangkut sejarah yang panjang, karena itu pemerintah tidak bisa mengubahnya begitu saja. Apa saja sumbangan dan peran Jogja untuk Indonesia,

1. Tanggal 5 September 1945 Sultan Hamengkubuwono IX dan Adipati Pakualam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan berisi integrasi Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke Republik Indonesia.

2. Tanggal 6 September 1945 presiden Sukarno menjawab dengan Piagam Penetapan yang berisi pengakuan Yogyakarta sebagai daerah istimewa.

3. Tanggal 4 Januari 1946, berada dibawah pendudukan Belanda tidak memungkinkan Jakarta menjalankan pemerintahanRI. Atas undangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, presiden Sukarno memindahkan pemerintahan RI ke Yogyakarta.

4. Tanggal 19 September 1948 Belanda menduduki Yogyakarta. Presiden dan wakil presiden di tahan. Tetapi Belanda tidak mengganggu kedaulatan dan kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dengan dana pribadi Sri Sultan menggaji seluruh pegawai RI.

5. Tanggal 1 Maret 1949, atas persetujuan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, TNI melakukan Serangan umum kepada tentara Belanda, untuk membuktikan bahwa RI masih ada. TNI berhasil meduduki Yogyakarta selama 6 jam.

6. Tanggal 27 September 1949, Belanda mengakui kedaulatan RI melalui konferensi Meja Bundar di Den Hag. Di Jakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX mewakili RI menerima Piagam penyerahan kedaulatan Belanda dari AJ Lovink, wakil tinggi Mahkota Belanda.

7. Tanggal 4 Maret 1950, terbit UU No.3 tahun 1950 yang berisi penetapan Daerah Istimewa Yogyakarta.@@ ( Sumber: Media Indonesia )