Jumat, 31 Desember 2010

BLEDUG KUWU, BENARKAH SALT LAKE-NYA INDONESIA?


Terletak di kecamatan Kradenan, kabupaten Grobogan Bledug Kuwu memiliki kemiripan dengan Salt Lake di Amerika Serikat. Konon menurut para peneliti padang garam itu berasal dari dangkalan laut yang kemudian berubah menjadi daratan yang sangat luas. Lain halnya dengan dangkalan yang terdapat di Indonesia yang memiliki karakteristk tersendiri dan berbeda dengan yang ada di negara lain.

Bledug Kuwu secara periodik meletupkan lumpur ke atsa bersamaan dengan keluarnya asap, gas dan juga air garam. Dengan luas mencapai 45 hektar, kawasan ini menjadi objek wisata lokal yang cukup menarik untuk dikunjungi.
Letupan Bledug Kuwu yang terbesar mencapai kurang lebih 530 cm dan yang terkecil sekitar 90 cm. Sedang luas kawah Bledug Kuwu memiliki lebar 890 cm.
Bledug yang terbesar berada di sebelah timur, masyarakat setempat menyebutnya sebagai Joko Tuwo dan terkecil berada disebelah barat dengan nama Roro Denok.
Tempat ini sangat mudah untuk dikunjungi karena berada persis di sisi jalan yang menghubungkan kota Purwodadi dengan wilayah timur seperti Blora, Cepu dan Jawa Timur. Bisa juga di tempuh melewati kabupaten Sragen. Dari kota Sragen berjarak kurang lebih 47 km kearah utara melewati kecamatan Tangen yang berbatasan langsung dengan kecamatan Kradenan ( Grobogan ) dimana Bledug Kuwu berada. Selamat berwisata.@@

Minggu, 26 Desember 2010

NYAI RORO KIDUL, KRATON, DAN KOSMOLOGI TANAH JAWA


Legenda tentang Nyai Roro Kidul sangat melekat pada tanah Jawa. Seluruh kawasan pantai selatan jawa mulai dari Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Parangtritis, Pacitan, Jember hingga Banyuwangi bahkan pulau Bali semua paham akan cerita atau legenda tentang Nyai Roro kidul. Bahkan kebanyakan masyarakat yang percaya akan keberadaannya akan selalu dikaitkan dengan keberadaan Kraton. Sebagian dari mereka bahkan percaya bila sang Nyai juga merupakan istri dari raja-raja Mataram dan keturunannya. Maka tak heran kalau sang Nyai sering terlihat dalam banyak peristiwa yang berkaitan dengan Kraton.

Dalam tari Bedoyo misalnya, penarinya selalu tambah satu, ya sang Nyai itu, meski tidak setiap orang bisa melihatnya. Atau pada saat jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono X misalnya. Menurut kesaksian, beberapa orang sempat melihatnya disekitar Kraton. Siapa dia sebenarnya? Betul adakah sosok Nyai Roro Kidul itu?

Sebuah penjelasan ilmiah saya dapatkan dari buku yang ditulis oleh budayawan Emha Ainun Najib. Dalam buku berjudul Markesot Bertutur Lagi itu, Cak Nun sapaan akrab Emha menjelaskan secara gamblang dan apik tentang siapa Nyai Roro Kidul yang selama ini kita kenal sebagai hantu cantik penguasa laut selatan itu.

Ternyata kemudian Nyai Roro Kidul bukanlah seseorang, bukan hantu atau makhluk halus seperti ilmu klenik selama ini memahaminya. Lebih lanjut Cak Nun menjelaskan, menurut seorang sunan, seorang waliyullah, yang pada saat penting selama jumenengan ndalem selalu mendampingi Ngarso dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, Nyai Roro Kidul adalah pusat frekwensi dari kosmos air dan cahaya rembulan yang menyelimuti dan merasuki tanah Jawa. Nyai Roro Kidul adalah inti dari takdir geografi pulau Jawa, kodrat alam watak, dan peradaban yang khas pulau Jawa,

Dalam buku itu kemudian sang budayawan menjelaskan lebih lanjut bahwa, kodrat semacam itu memungkinkan kemanusiaan jawa mampu memahami kosmos nilai islam-yaitu nilai yang merupakan titik keberangkatan segala konsepsi pembangunan Kraton Jogja, maka pas kalau raja Jogja juga bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah. Isalmnya orang jawa akan berbeda kearifan dan kelenturannya, bila dibanding dengan isalmnya orang Arab misalnya, atau islamnya ras lain yang tinggal di kodrat geografi yang berbeda.

Tetapi rupanya paerspektif itu selama ini diselewengkan atau dipahami secara dangkal dan kemudian menjadi klenik. Lebih lanjut kata Cak Nun sang sunan menjelaskan bahwa Nyai Roro Kidul itu bukan kejawen, Nyai Roro Kidul adalah lambang dari kosmologi pulau Jawa. Dan hanya keilmuan Al-Qur'an yang mampu menjelaskan semua ini. Puncak dari gelimang air pulau Jawa adalah madu. Sedang puncak dari gelimang cahaya rembulan adalah Lailatul Qodar.@@

Jumat, 24 Desember 2010

YU PAIRAH, SELAMAT HARI IBU YA. . . . .

Hari Rabu siang tanggal 22 Desember. Seperti hari-hari biasa lalu lintas Jakarta diwarnai kemacetan disana-sini. Meskipun begitu tak menyurutkan niat Suryo untuk terus menginjak pedal gas Honda Jazznya dan terus melaju menuju ke sebuah Plaza di kawasan Kelapa Gading Jakarta Utara. Sudah menjadi acara rutin tahunan setiap datang hari ibu, ia selalu memanjakan istrinya. Melarang istrinya bekerja membereskan semua pekerjaan rumah tangga, dan mengajaknya jalan-jalan, serta memenuhi apapun permintaan istrinya dihari yang special buat para ibu itu.

Sebagai seorang pengusaha yang sukses, hidup berkecukupan dan tinggal di sebuah komplek elite dikawasan Jakarta Timur ia tak akan pernah mengalami kesulitan untuk memenuhi setiap permintaan istrinya, bahkan bila permintaan spesial itu datang setiap hari, bukan setahun sekali pada setiap datangnya hari ibu. Cara menyambut datangnya hari ibu seperti ini memang khas mereka, bahkan istrinya tak pernah meminta, tetapi ide ini datang dari Suryo sang suami. Dan hari ini tepat datangnya hari ibu, Miranda meminta beberapa perhiasan, dan ingin menikmati makan siang di sebuah restoran jepang.

Jam 11.47 WIB mobil Honda Jazznya memasuki sebuah plaza yang cukup terkenal dikawasan Kelapa Gading. Setelah memastikan mobil terparkir dengan aman, Suryo, Miranda dan putri kecilnya yang dalam gendongan baby sitter naik menuju lantai atas dan memasuki sebauh jewelry yang saat itu tidak begitu ramai pengunjung. Setelah mendapatkan perhiasan yang diinginkan mereka langsung menuju sebuah restoran jepang yang berada satu lantai diatasnya.
Terjadi sebuah antrian kecil sebab memang sudah memasuki jam makan siang. Tetapi demi memanjakan sang istri, Suryo ikut mengantri dengan sabar. Sesaat kemudian meja makan mereka sudah penuh oleh makanan. Demi memanjakan sang istri Suryo memesan makanan yang cukup banyak, meski hanya untuk berempat dengan gadis kecil beserta sang baby sitter. Beberapa mangkok nameko jiru, tempura, shabu-shabu, ika ring age dan niwatori terriyaki juga eby furray memenuhi meja makan mereka. Mereka kelihatan lahap menyantap hidangan jepang, pada lunch yang dahsyat dan canggih itu. Sang baby sitter pun kelihatan merem melek kepedesan oleh wasabi, sambal jepang yang unik itu. Di akhir acara makan siang yang mantap itu, Suryo megecup kening istrinya sambil mengucapkan, “ Selamat hari ibu sayang, berbahagia dan berbanggalah jadi seorang ibu, sebab dari rahim seorang ibulah orang-orang hebat yang merubah dunia di lahirkan…”.

Di belahan bumi yang lain yu Pairah tengah mandi keringat, tangan kecilnya yang menghitam karena sengatan matahari masih terus menari mengumpukan batu-batu dan kemudian memecahnya menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil. Setelah terkumpul banyak lalu menaikkannya ke atas truk. Ia terpaksa menjalani pekerjaan kasar sebagai pencari batu di salah satu sungai yang berhulu di Gunung Merapi, untuk tetap bertahan hidup. Suaminya kang Ngatijan juga memiliki profesi yang serupa, ia juga “berkantor” di sungai sebagai penggali pasir. Kebodohan dan himpitan ekonomi membuat yu Pairah tidak memiliki pilihan lain. Untuk menghidupi kedua anaknya yang sudah bersekolah ia harus rela melakukan apasaja, termasuk menggeluti pekerjaan kasar sebagai pengumpul dan pemecah batu.

Nasibnya tak seberuntung Miranda. Ibu muda yang menikmati kehidupan menyenangkan di kota Jakarta. Setiap datang hari ibu, Suryo sang suami selalu mamanjakannya, melarangnya bekerja dirumah, mengajaknya jalan-jalan, makan siang di restoran dan memenuhi setiap permintaannya di hari yang spesial untuk para ibu itu. Hari ibu adalah hari yang di tunggu buat Miranda. Setiap kali hari ibu datang, selalu menjadi hari yang menyenangkan buat Miranda. Bukan saja hari itu sebagai penghargaan pada para ibu termasuk dirinya, tetapi juga perlakuan khusus Suryo atas dirinya pada setiap datangnya hari spesial itu.

Hal itu sangat bertolak belakang dengan keadaan yu Pairah. Pada hari yang special buat para ibu itu, yu Pairah harus tetap bekerja, memeras keringat, membanting tulang untuk mempertahankan hidup. Jadi saya sangat maklum kalau ia tidak ingat, kalau hari ini adalah hari ibu. Atau bahkan kalau ia tidak perduli lagi dengan hari ibu pun saya juga maklum, sebab berpuluh-puluh hari ibu yang telah lewat tidak pernah bisa merubah hidupnya. Baginya bahkan bila dalam setahun ada sepuluh kali hari ibu pun tidak akan berarti apa-apa. Sebab ada hari ibu atau tidak ia tetap hidup susah dan ngrekasa.

Dan bertepatan dengan hari ibu tahun ini, disana, diberbagai tempat yang masih menjadi bagian dari wilayah negeri ini, banyak sekali yu Pariah yu Pairah yang lain, yang tak berdaya, yang terlunta-lunta, yang terseok-seok hidupnya, yang tak mampu menyekolahkan anaknya, yang menjadi korban KDRT, yang menjadi korban perdangangan manusia, yang menjadi korban pembunuhan, yang menjadi korban mutilasi. Ah.., ternyata yu Pairah tidak sendiri. Ada beribu-beribu atau bahkan berjuta-juta yu Pairah yang lain yang menunggu pertolongan dan pemberdayaan untuk bisa bangkit dari jurang kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan menuju hidup yang lebih baik dan sejahtera. Selamat hari ibu yu Pairah, semoga pada hari ibu tahun depan keadaamnu sudah lebih baik dari pada saat ini.@@

Kamis, 23 Desember 2010

DARI JOGJA UNTUK INDONESIA


Kesultanan Yogyakarta memiliki andil yang sangat besar dalam sejarah berdirinya Nergara Kesatuan Republik Indonesia, sudah selayaknya keistimewaan Yogyakarta di pertahankan. Isu monarki di Yogyakarta sama sekali tidak berdasar dan juga tidak produktif untuk bangsa dan negara ini. Keistimewaan Yogyakarta sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem monarki. Keistimewaan Yogyakarta berkaitan dengan sejarah panjang karena peran dan andil Kasultanan Yogyakarta di awal berdirinya NKRI.

Sejarawan UGM bahkan menghimbau para intelektual dan para politikus untuk mempelajari sejarah, bukan malah menghianatinya. Selebihnya jika RUU Keistimewaan Yogyakarta dibahas dengan memreteli keistimewaan Yogyakarta, SBY akan mengulangi kesalahan mantan presiden Suharto dimasa Orde Baru. Beliau juga menekankan, di awal kemerdekaan Sultan bersama rakyat Yogyakarta membantu pemerintah Republik Indonesia untuk bisa memerintah. Bantuan berupa uang, tanah, dan dukungan moril diberikan kepada pemerintah Republik Indonesia, termasuk saat pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Karena itu, presiden harus mempelajari sejarah. Pemimpin jangan menghianati apa yang telah menjadi komitmen dimasa pendirian republik ini.

Mantan ketua PP Muhamadiyah Buya Syafii Maarif menambahkan, bahwa keistimewaan Yogyakarta menyangkut sejarah yang panjang, karena itu pemerintah tidak bisa mengubahnya begitu saja. Apa saja sumbangan dan peran Jogja untuk Indonesia,

1. Tanggal 5 September 1945 Sultan Hamengkubuwono IX dan Adipati Pakualam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan berisi integrasi Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke Republik Indonesia.

2. Tanggal 6 September 1945 presiden Sukarno menjawab dengan Piagam Penetapan yang berisi pengakuan Yogyakarta sebagai daerah istimewa.

3. Tanggal 4 Januari 1946, berada dibawah pendudukan Belanda tidak memungkinkan Jakarta menjalankan pemerintahanRI. Atas undangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, presiden Sukarno memindahkan pemerintahan RI ke Yogyakarta.

4. Tanggal 19 September 1948 Belanda menduduki Yogyakarta. Presiden dan wakil presiden di tahan. Tetapi Belanda tidak mengganggu kedaulatan dan kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dengan dana pribadi Sri Sultan menggaji seluruh pegawai RI.

5. Tanggal 1 Maret 1949, atas persetujuan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, TNI melakukan Serangan umum kepada tentara Belanda, untuk membuktikan bahwa RI masih ada. TNI berhasil meduduki Yogyakarta selama 6 jam.

6. Tanggal 27 September 1949, Belanda mengakui kedaulatan RI melalui konferensi Meja Bundar di Den Hag. Di Jakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX mewakili RI menerima Piagam penyerahan kedaulatan Belanda dari AJ Lovink, wakil tinggi Mahkota Belanda.

7. Tanggal 4 Maret 1950, terbit UU No.3 tahun 1950 yang berisi penetapan Daerah Istimewa Yogyakarta.@@ ( Sumber: Media Indonesia )

PANTAI BUYUTAN, YANG TERASING DARI KERAMAIAN


Pantai Buyutan merupakan deretan pantai selatan yang membentang di bagian selatan pulau jawa. Terletak di sebelah timur pantai Ngampu, Wonogiri, pantai ini menjadi bagian dari kabupaten Pacitan. Pantai yang masih sangat alami ini tepatnya berada di desa Widoro kecamatan Donorojo kabupaten Pacitan. Seperti ciri khas pantai selatan lainnya, pantai ini juga bertebing karena berada di wilayah pegunungan kapur ( karst ) selatan jawa. Pantai ini berjarak kurang lebih 42 km dari kota Pacitan. Perjalanan kesana memang agak sulit, karena belum didukung sarana jalan yang memadai. Khusus untuk yang hoby berpetualang tempat ini sangat menantang. Perjalanan berkelok-kelok dan naik turun akan menjadikan pengalaman yang menguji adrenalin, dan tentu perjalanan yang menyenangkan bagi mereka yang berjiwa petualang.

Bila anda tertarik mengunjunginya bawalah bekal banyak-banyak, sebab disana belum ada penjual makanan, dan saya sarankan untuk tidak membawa anak kecil sebab untuk bisa sampai ke pantai kita harus menuruni jalan setapak yang lumayan terjal. Tempat ini bisa ditempuh melalui kecamatan Punung dari arah Pacitan atau melalu kecamatan Parang Gupito kabupaten Wonogiri. Letaknya yang jauh dan tempatnya yang agak terpencil membuat pantai indah ini kurang perhatian dari pemerintah daerah, padahal potensinya sangat bagus. Persiapan yang memadai dan perbekalan yang cukup adalah syarat mutlak untuk pergi kesana, mengingat belum adanya fasilitas apapun disana, benar-benar masih alami, benar-benar sebuah pantai yang masih perawan. @@