Rabu, 16 November 2011

TRANS JOGJA, SOLUSI HEMAT MENJELAJAH KOTA JOGJA


Main ke Jogja dengan dana minim, siapa takut? Bagi para backpacker mania tak perlu kawatir berlebihan bila anda ingin jalan-jalan ke kota Jogja bermodal ongkos perjalanan yang pas-pasan. Kehadiran bus Trans Jogja akan banyak membantu anda mengunjungi tempat-tempat menarik selama liburan di Jogja dengan budget yang tidak terlalu besar. Dengan sitem operasi yang mirip Trans Jakarta Bus Way di ibukota, moda transpotasi ini akan mengantar anda kemanapun pergi. Dengan Trans Jogja dipastikan akan hemat waktu dan hemat biaya, sebab tidak berhenti di sembarang tempat dan untuk ganti bus tidak dikenakan biaya lagi.
Trans Jogja yang menggunakan jenis microbus dengan AC dan hanya berhenti pada halte-halte yang telah ditentukan, akan menjamin kenyamanan anda selama liburan di Jogja. Trans Jogja merupakan transpotasi kota terpadu yang menghubungkan semua tempat-tempat strategis mulai dari Terminal Penumpang Yogyakarta ( TPY ) Umbulharjo, Terminal Jombor, Monumen Jogja Kembali, Terminal Condong Catur, Terminal Prambanan, Bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu, Kraton, Malioboro, Purawisata, Taman Pintar, Kebun binatang Gembira Loka, Sport Hall Kridosono, Stadion Mandala Krida, Balai kota, Jogja Expo Center, Ambarukmo Plaza, UGM, UNY hingga sentra-sentra kerajinan dan oleh-oleh.
Trans Jogja merupakan solusi jitu bagi anda para backpacker berkantong tipis untuk bisa menjelajah kota Jogja, atau bagi para low budget traveler yang tak sanggup membeli paket-paket wisata yang ditawarkan tour operator. Dengan Trans Jogja, anda bisa puas berwisata keliling Jogja dengan dana seadanya. Tidak percaya? Silahlan buktikan Sendiri!!

Kamis, 10 November 2011

SEJARAH BERDIRINYA BENTENG VREDEBURG



Setelah terjadinya perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua bagian barat dan timur, Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, maka Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I langsung membangun ibukota baru berikut istananya.

Pembangunan ibu kota dan istananya itu dimulai pada tanggal 9 Oktober 1755 di sebuah tempat bernama Umbul Pachethokan, kawasan hutan Paberingan yang kemudian bernama Ayodya atau Ngayogya, atau kini lebih dikenal sebagai Yogyakarta. Selama pembangunan Sultan beserta keluarga tinggal di pesanggrahan Ambarketawang di Gamping sebelah barat Yogya. Kemudian dibangun pula bangunan-bangunan lain. Kraton dikelilingi tembok tebal yang kemudian di kenal sebagai benteng Baluwerti. Di dalamnya terdapat aneka  bangunan dengan rupa dan fungsi yang berbeda. Bangunan tempat kediaman Sultan dan kerabatnya disebut Prabayeksa yang selesai dibangun pada tahun 1756. Kemudian menyususul banguan Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran selesai pada tahun 1757. Sedang Regol Donopratopo dan Bangsal Kamagangan selesai dibangun pada tahun 1761 dan 1763.  Masjid agung dibangun pada tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai dibangun pada tahun 1777. Bangsal Kencono selesai dibangun pada tahun 1792, dan seterusnya istana kraton Yogyakarta terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Melihat perkembangan kraton yang sangat pesat itulah kemudian pihak Belanda mulai merasa was-was dan khawatir, bila suatu saat kelak Sultan berbalik arah dan tidak mau bekerja sama, bahkan mengusir Belanda. Dari situlah kemudian pihak Belanda meminta izin kepada Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di dekat kraton. Belanda berdalih agar bisa menjaga dan memelihara keamanan kraton dan sekitarnya. Namun demikian niat yang sesungguhnya dari pihak Belanda adalah agar bisa mengontrol setiap perkembangan yang terjadi di lingkungan kraton, lebih-lebih segala kegiatan Sultan. Lokasi pendirian benteng yang sangat dekat bahkan hanya berjarak satu tembakan meriam dari kraton, dan juga letaknya yang menghadap jalan utama yang menuju ke kraton merupakan indikasi kuat bila fungsi benteng yang sebenarnya adalah benteng strategi, intimidasi, bahkan blokade. Benteng tersebut merupakan tempat menyerang atau bertahan bila suatu saat Sultan memalingkan muka dari Belanda.

Sebelum dibangun dilokasi yang sekarang berdiri museum benteng Vredeburg Yogyakarta, dahulu pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan sudah membangun benteng yang sangat sederhana yang berbentuk bujur sangkar dan di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut Seleka dan Bastion. Oleh Sultan keempat sudut itu diberi nama Jaya (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya), dan Jayaprayitna (sudut tenggara).
Pada awal berdirinya benteng tersebut masih sangat sederhana dimana temboknya hanya terbuat dari tanah dan deperkuat dengan tiang-tiang dari kayu.  Tetapi ketika WH Ossenbrech menggantikan Nicolas Hartingh pada tahun 1765, ia mengusulkan kepada Sultan agar bangunan benteng diperkuat menjadi bangunan yang permanen agar lebih bisa menjamin keamanan kraton. Usul tersebut dikabulkan dan kemudian pembangunan benteng diserahkan dibawah pengawasan seorang ahli bangunan dari Belanda bernama Ir Frans Haak. Pada tahun 1767 pembangunan benteng di mulai, tetapi berjalan sangat lambat dan baru selesai pada 20 tahun kemudian pada tahun 1787, sebab dalam waktu bersamaan Sultan juga baru sibuk membangun kraton. Benteng tersebut kemudian dinamakan Rustenberg yang berarti benteng peristirahatan.

Tetapi pada tahun 1867 terjadi gempa hebat di kawasan Yogyakarta yang banyak merobohkan berbagai bangunan besar seperti gedung Residen, Tugu Pal Putih dan juga benteng Rustenberg. Bangunan yang mengalami kerusakan segera dibangun kembali termasuk benteng Rustenberg, setelah selesai dibangun kembali benteng Rustenberg diganti nama menjadi benteng Vredeburg yang berarti benteng Perdamaian, nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan baik antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda.
Bentuk benteng dipertahankan seperti awalnya yang terdapat penjagaan disetiap sudutnya. Pintu gerbang menghadap barat dan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat aneka bangunan dengan aneka fungsi seperti rumah perwira, mess prajurit, gudang logistic, gudang mesiu, klinik prajurit dan rumah residen. ( Sumber: Situs Musium B. Vredeburg, Wikipedia, Sumber lain )

LINTAS BUKIT SELATAN


Lintas Bukit Selatan adalah kawasan jalur lintas selatan jawa dari Jogja hingga Pacitan jawa timur dengan segenap potensi wisatanya. Wilayah yang merupakan bagian dari pegunungan seribu itu memang layak untuk anda pilih sebagai tempat tujuan wisata alternatif, setelah tempat-tempat wisata kota Jogja yang lebih dulu di kenal seperti Kraton, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kerajinan Perak Kotagede, Kerajinan Gerabah Kasongan, Monumen Jogja Kembali, Kaliurang & Merapi Lava Tour, atau wisata belanja di sepanjang Malioboro, Galleria Mall, atau Ambarukmo Plaza.

Lintas Bukit Selatan adalah kawasan menarik dengan segudang potensi wisata alam disepanjang jalur selatan jawa. Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba di kecamatan Pathuk, pantai selatan kabupaten Gunung Kidul yang masih perawan seperti pantai Baron, Kukup, Krakal, Sundak , Siung, Wediombo hingga Sadeng. Dan pantai Sembukan serta pantai Ngampu di kabupaten Wonogiri, yang sangat menawan. Lebih ke timur lagi kita akan menemukan Pantai Buyutan, pantai Klayar dan pantai Teleng Ria di kabupaten Pacitan. Musium Karst dan Goa Putri Kencono di Pracimantoro, Goa Tabuhan dan goa Gong di kabupaten Pacitan juga memiliki daya tarik tersendiri dan akan menambah wawasan anda akan kawasan karst di sepanjang jalur selatan.
Di Lintas Bukit Selatan juga terdapat sungai-sungai bawah tanah yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi, apalagi bagi yang suka menguji adrenalin, menyukai tantangan menjelajah alam. Lintas Bukit Selatan adalah sebuah upaya kecil untuk mengenalkan pesona wisata lain di sekitar Jogja, kepada anda yang rindu akan suasana alam pedesaan, haus akan belaian lembut angin pantai, gemar mengunjungi tempat-tempat terpencil, dan meraih kepuasan batin dengan menikmati keindahan alam yang masih perawan. Lintas Bukit Selatan adalah sebuah upaya menghadirkan kemewahan-kemewahan kecil dalam hidup anda yang seringkali sesak oleh urusan-urusan yang tak pernah selesai, melalui aneka pengalamanan mengesankan menaiki bukit tandus, menyisir pantai dengan pasir putih nan lembut, menjelajah goa-goa alam, atau sekedar menikmati bau rumput liar di pinggir telaga yang mulai mengering. Tinggalkan rutinitas hidup anda sejenak, nikmati harmoni alam pegunungan di sepanjang Lintas Bukit Selatan. Anda tak akan pernah mengira bahwa kemewahan itu tidak selalu harus berharga mahal.@

Selasa, 23 Agustus 2011

GOA CERME, DAN PENYEBARAN ISLAM DI JAWA


Obyek wisata yang terletak di kecamatan Imogiri kabupaten Bantul ini memang kurang dikenal dibanding tempat-tempat wisata lain di seperti pantai Parangtritis, pantai Depok atau Makam Raja-raja Mataram yang berada satu wilayah dengan goa ini. Tepatnya terletak di desa Kalidadap arah selatan Komplek Makam Raja Imogiri, tempat ini memang berada agak jauh dari keramaian. Berada diatas perbukitan, untuk mencapai goa ini memang perlu perjuangan tersendiri. Meski jalan menuju kesana relatif baik, tetapi karena banyak melewati tikungan dan tanjakan maka perlu kewaspadaan tersendiri bila anda ingin berkunjung kesana dengan sepeda motor atau mobil sendiri. Bila anda ingin menggunakan transpotasi umum pun sebenarnya telah tersedia angkutan mikro bus dari TPY (terminal penumpang Yogyakarta, Giwangan). Dari pemberhentian bus, untuk menuju goa harus berjalan kaki dan menaiki anak tangga yang sudah di beton dengan baik.

Menurut sebuah sumber, goa Cerme konon berasal dari kata ceramah yang mengisyaratkan sebuah pembicaraan yang dilakukan oleh wali songo, dalam penyebaran agama islam di jawa. Di gua Cerme ini konon juga dipergunakan sebagai tempat untuk membahas pendirian masjid Agung Demak. Selain goa Cerme ditempat ini juga ditemukan goa-goa lain seperti goa Dalang dan goa Ledek yang konon sering digunakan untk bersemedi. Jadi di goa yang berjarak kurang lebih 25 kilometer arah selatan kota Jogja ini, terdapat nuansa sejarah yang sangat kental, karena berperan dalam penyebaran agama islam di tanah jawa pada jaman wali songo.@@

Senin, 08 Agustus 2011

LAMBANG KASULTANAN JOGJA DAN MAKNA FILOSOFISNYA


Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa lampau terdiri dari begitu banyak kerajaan. Kerajaan-kerajaan itu berdiri tersebar diseluruh penjuru nusantara. Eksistensi sebuah kerajaan dibuktikan dengan adanya lambang kerajaan, dimana lambang-lambang itu tidak asal begitu saja dibuat tanpa suatu pertimbangan, makna dan tujuan yang ingin di wujudkan oleh raja atau kerajaan.

Sebagai penerus kerajaan Mataram, Kasultanan Jogjakarta juga memiliki lambang kerajaan yang dikenal sebagai Praja Cihna. Lambang kraton yang dibangun oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I ini di ambil dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua suku kata yaitu Praja dan Cihna. Praja berarti abdi negara sedang Cihna berarti sifat sejati. Jadi praja cihna konon memiliki makna harfiah sifat sejati seorang abdi negara.

Selain makna harfiah, lambang kraton Jogjakarta juga sarat dengan makna filosofi. Dari sudut warna misalnya, warna hitam adalah simbol keabadian, warna kuning dan keemasan melambangkan keluhuran, warna merah berarti berani. Aksara jawa berupa huruf ha dan ba adalah singkatan dari hamengku buwono, gelar penguasa kasultanan Jogjakarta yang berarti memangku atau mengayomi bumi. Mahkota melambangkan pemikiran, pemerintahan dan kepemimpinan, sedang sayap di kedua sisinya melambangkan perlindungan atau pemeliharaan menuju tatanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik. Bunga Padma atau bunga teratai melambangkan kecerdasan serta kebijaksanaan, sedang tumbuhan sulur yang hidup merambat melambangkan kejayaan dan kemuliaan budaya bangsa yang terjaga dan terus berkembang.@@ (Sumber : yahoo answer, Wikipedia dan sumber lain)