Minggu, 24 April 2011

POHON KEBEN DAN FILOSOFI VEGETASI KRATON JOGJA


Beberapa jenis tumbuhan yang ditanam di lingkungan kraton Yogyakarta merupakan bagian dari konsepsi dasar pembangunan kraton. Tanaman-tanaman itu tak sekedar ditanam dan menjadi penghias kraton tetapi juga memiliki makna filosofi, lebih jauh lagi menjadi harapan sekaligus do’a bagi penanam dan lingkungan yang ditumbuhinya.
Tanaman yang paling terkenal dilingkungan kraton Yogyakarta mungkin sepasang Waringin Sengker (beringin kurung ) di alun-alun utara yakni kyai Dewandaru dan Janandaru. Dua batang pohon beringin ini konon melambangkan makrokosmos dan mikrokosmos, melambangkan dualisme antara rakyat dan pemimpin, antara manusia dan Tuhan.

Di sudut yang lain seperti diantara Bangsal Pagelaran dan Siti hinggil Ler terdapat deretan pohon Gayam. Selain disitu dahulu antara tugu hingga kraton juga ditanami pohon Gayam. Pohon ini memiliki makna ayom dalam bahasa jawa, yang berarti teduh atau sejuk. Kalau sudah ayom kemudian ayem atau tenang, damai, bahagia. Setelah ayom dan ayem kemudian jadi tentrem atau tenteram. Jadi pohon ini melambangkan sebuah harapan agar Yogyakarta atau kraton khususnya menjadi daerah yang ayom, ayem lan tentrem, yang teduh, tenang dan tenteram.
Di komplek Kamandungan Ler dimana Bangsal Ponconiti sebagai bangunan utamanya ditanami pohon Keben. Dalam mitologi jawa pohon ini memiliki makna yang sangat tinggi sebagai lambang eksistensi negara yang agung dan bersih. Keben juga memiliki makna ngrungkebi atau merangkul kebenaran. Tak heran kiranya bila almarhum mantan presiden Suharto menobatkan tanaman ini sebagai tumbuhan perdamaian pada tanggal 5 juni 1986, dalam rangka hari perdamaian sedunia.
Di komplek Kedhaton yang merupakan inti dari kraton secara keseluruhan, halamannya dirindangi oleh pohon-pohon Sawo kecik ( Manikara kauki). Sawo kecik konon bermakna Sarwo becik dalam bahasa jawa, atau serba baik, atau penuh kebaikan dalam bahasa Indonesia.

Garis imaginer antara Panggung Krapyak, Kraton hingga Tugu melambangkan filosofi Sangkan Paraning Dumadi, asal usul manusia dan asasi tujuan akhirnya. Antara Panggung Krapyak hingga Kraton menggambarkan asal-usul (sangkan) manusia dari lahir, dewasa, menikah hingga melahirkan. Maka dahulu banyak ditanami pohon Asem dan Tanjung. Mengapa Asem dan Tanjung? Daun Asem yang masih muda namanya Sinom artinya gadis yang masih anom(muda). Gadis yang masih muda akan menimbulkan rasa Sengsem(Asem) atau rasa tertarik. Kalau sudah tertarik maka kemudian akan menyanjung (Tanjung).@@ Sumber: KR,Tempo, Wikipedia.

Senin, 28 Maret 2011

ALUN-ALUN KRATON, YANG TAK SEKEDAR TANAH LAPANG


Alun-alun merupakan tanah lapang yang terbuka yang berumput yang dikelilingi oleh jalan yang dapat digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai keperluan. Menurut Van Romondt seperti yang dimuat dalam wikipedia pada dasarnya alun-alun merupakan halaman depan rumah dalam ukuran yang cukup besar.

Pada masa kerajaan konon alun-alun merupakan tempat untuk berlatih perang (glady yudha) bagi para prajurit kraton. Alun-alun juga menjadi tempat untuk penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) dari raja kepada kawula atau rakyatnya. Alun-laun pada masa lampau juga digunakan sebagai pusat hiburab rakyat seperti tradisi rampogan, dimana dilepaskan seekor harimau yang dikelilingi para prajurit bersenjata.

Pada masa kerajaan Mataran alun-alun juga digunakan untuk pisowanan agung dimana rakyat menghadap sang raja. Diluar fungsi-fungsi sosial budayanya alun-alum kraton juga memiliki makna filosofi. Alun-alun utara kraton Yogyakarta misalnya, tanah lapang didepan Bangsal Pagelaran kraton itu konon juga melambangkan suasana jiwa yang kosong pada saat raja sedang bersemedi. Sedang alun-alun selatan disamping sebagai halaman belakang kraton, konon alun-alun kidul dibangun juga untuk mengesankan halaman belakang kraton agar seperti bagian depan. Ini dimaksudkan agar posisi kraton yang menghadap ke utara (gunung Merapi)tidak terkesan membelakangi laut selatan, dimana kita tahu bahwa antara gunung Merapi, kraton dan laut selatan merupakan satu kesatuan yang utuh yang membentuk garis garis imaginer yang bermakna Manunggaling Kawula Gusti.@@( dari berbagai sumber )

Rabu, 09 Maret 2011

BUKIT PATUK DAN SENSASI PUNCAK ALA JOGJA


Jalanan mendaki lengkap dengan tikungan-tikungan tajam di timur kota Jogja ini adalah pintu gerbang memasuki wilayah kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbeda dengan wilayah puncak di Cianjur Jawa Barat yang terkenal subur, wilayah ini cenderung kering berbatu dan hanya ditumbuhi tanamana keras dan semak belukar.Tetapi jalur jalan ini menjadi sangat penting karena merupakan jalur utama lintas selatan yang menghubungkan Jogja dengan Wonosari, pantai-pantai selatan Gunung Kidul, Wonogiri bagian selatan, bahkan kota-kota di Jawa Timur bagian selatan seperti Pacitan dan Trenggalek. Melewati kawasan bukit patuk anda akan disuguhi panorama alam yang cukup menawan.

Sebagai tempat istirahatpun wilayah ini bisa difungsikan sebagai rest area. Tersedia beberapa warung kecil dengan konsep lesehan untuk sekedar menikamti segelas teh, secangkir kopi, semangkuk mie atau es kelapa muda yang menyegarkan lengkap dengan aneka jajanan sambil menikmati panorama alam yang terhampar dibawahnya. Bila anda ingin mengisi perut yang sudah keronconga dengan makanan beratpun tak masalah, juga tersedia. Atau mau menginap dihotel? Jangan khawatir, ditempat ini telah beroperasi hotel sederhana lengkap dengan restorannya. Untuk sekedar melepas lelah tempat ini bisa menjadi pilihan alternatif. Atau ingin berfoto ria? Siapa takut. Silahkan anda coba.

Dan bila malam minggu tiba, bukit Pathuk menjadi tempat berkumpul yang mengasyikkan. Tengoklah banyaknya pasangan muda-mudi yang rela menghabiskan malam akhir pekan dengan bercengkerama disana. Melawan dinginnya desir angin malam dan menikmati taburan cahaya lampu dibawahnya. Menikmati segelas kopi sambil ngobrol santai tentang masa depan mereka. Bila anda kebetulan melintas dikawasan ini tak ada salahnya untuk berhenti sejenak, merasakan semilir angin pegunungan seribu, menikmati sensasi puncak ala Jogja.@@

CANDI IJO, BUKTI NYATA TINGGINYA PERADABAN MASA LAMPAU


Memang tak tersohor seperti candi Prambanan atau candi Borobudur, tetapi situs komplek candi Ijo masih merupakan bagian dari candi-candi yang bertebaran di kawasan perbukitan di selatan Prambanan. Keberadaan candi ini memang agak terpencil dan terpisah dengan candi-candi yang lain. Berada diatas ketinggian kawasan perbukitan di desa Sambirejo, kecamatan Prambanan kabupaten Sleman situs candi Ijo seolah menyepi dari keramaian. Berdekatan dengan komplek candi Boko dan candi Banyunibo, situs candi Ijo diyakini bercorak hinduistis peninggalan antara abad 9 hingga 10.

Yang menarik pada situs candi Ijo ini adalah pada tahun 1980 telah ditemukan dua buah arca yang diperkirakan merupakan satu-satunya di Indonesia. Arca tersebut adalah perwujudan dewa Wisnu yakni arca Narasimha dan arca Wisnutriwikrama. Narasimha adalah merupakan awatara Dewa Wisnu yang menggambarkan manusia berkepala singa. Sedang arca Wisnutriwikrama adalah merupakan enggalan cerita Wamana awatara tentang penjelmaan Dewa Wisnu sebagai Brahmana kerdil yang menyelamatkan dunia dari raksasa Bali.

Dalam komplek situs candi Ijo terdapat beberapa situs seperti situs Sumur Bandung, situs candi Tijon dan arca Gupala, yang sebagian masih dalam tahap konservasi dan rekonstruksi. Dari temuan-temuan disekitar situs candi Ijo menunjukkan betapa tingginya peradaban manusia pada saat itu. Untuk mencapai situs candi ini memang agak sulit, disamping jalanan yang menanjak kondisinya juga tidak begitu bagus.Tetapi bila anda suka hal-hal baru, suka tantangan dan berjiwa petualang tentu layak untuk anda coba. Selamat berwisata.@@

Sabtu, 26 Februari 2011

PANTAI SADENG, PESONA DI UJUNG TIMUR JOGJA


Terletak di ujung timur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pantai ini memang terkesan sangat jauh dan terpencil dari keramaian. Berada di ujung timur kabupaten Gunung Kidul, atau tepatnya di kecamatan Girisubo, pantai ini berjarak kurang lebih 45 km arah tenggara kota Wonosari ibu kota kabupaten Gunung Kidul atau kurang lebih 85 km arah tenggara kota Jogja. Wilayah ini berbatasan langsung dengan kecamatan Parang Gupito kabupaten Wonogiri propinsi Jawa Tengah. Berbeda dengan pantai-pantai lainnya, pantai ini merupakan pelabuhan perikanan terbesar di wilayah Gunung Kidul, bahkan wilayah Jogja. Karena potensi perikanan yang cukup besar, pemda Gunung Kidul berencana menjadikan kawasan ini sebagai minapolitan, yakni suatu kawasan pelabuhan ikan terpadu yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang untuk memaksimalkan potensi perikanan yang ada.

Sebuah sumber menyebutkan mengingat besarnya pendanaan yang yang harus dikucurkan, maka pemda menjalin kerjasama dengan pihak lain, diantaranya pemerintah Belanda. Untuk mengunjungi tempat ini memang agak menguras waktu dan tenaga, mengingat jaraknya yang jauh dan medan jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun. Tetapi begitu sampai di sana segela lelah akan terbayar dengan suguhan panorama pantai yang indah dan kapal-kapal nelayan yang bersandar. Apalagi bagi anda penikmat dan penggila ikan, disinilah tempatnya. Bahkan anda bisa menikmati lobster, udang karang yang terkenal enak dan mahal itu, tentu dengan harga yang jauh lebih murah dari pada anda membelinya dari restaurant hotel bintang lima. Anda tertarik? Selamat berwisata.@@