Jumat, 17 Maret 2017

STELLA FARRYNA BINTI ROMLAH

Hari Senin jam 08.00 pagi, seperti biasa Jakarta macet total. Antrian panjang kendaraan bermotor baik roda dua atau roda empat terjadi di setiap perempatan jalan di seluruh pelosok Jakarta. Tak terkecuali di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, salah satu kawasan perkantoran tersibuk di ibu kota. Di situ berdiri megah gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Sebagai kawasan bisnis, tak heran bila disana juga berdiri megah hotel-hotel bintang lima, apartemen dan tentu shopping mall. Semakin siang, kemacetan akan semakin panjang dengan keberadaan kantor-kantor kedutaan asing di sepanjang jl. HR Rasuna Said.

Sebuah mobil Daihatsu Xenia warna hitam, lolos dari kemacetan memasuki sebuah pelataran parkir di sebuah gedung perkantoran tak jauh dari Menara Imperium. Seorang perempuan muda dengan kaca mata gelap keluar dari mobil, menenteng tas hitam yang berisi lap top yang super canggih, hand phone keluaran terbaru dan file holder yang berisi beberapa lembar kertas. Namanya Stella Farryna, sekertaris direksi pada perusahaan asuransi swasta nasional yang cukup ternama. Sebagai executive muda, tentu dia sudah akrab dengan pergaulan high class dan gaya hidup metropolitan ala ibu kota. Shopping di mall, dinner di restauran bintang lima, nongkrong di cafe, perawatan tubuh di salon atau spa, clubbing, dan menikmati week end di Bali atau pantai Carita.

Tinggal di apartemen kelas menengah, mbak Stella ingin membuktikan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu exis, di tengan persaingan Jakarta yang sangat ketat, bahkan kejam. Sukses meniti karir adalah impiannya, membuat simboknya di kampung bahagia adalah impiannya yang lain. Dan kerja keras yang tak kenal lelah pun terbayar sudah, dengan menduduki jabatan bergengsi sperti yang di sandangnya sekarang.

Tak ada orang yang tahu, dibalik kesuksesannya, mbak Stella mengunci rapat identitas diri yang sebenarnya. Terlahir dengan nama asli Siti Parinah, anak dari yu Romlah, penjual SGPC alias sego pecel yang sering mangkal di stasiun Kroya, Cilacap jawa tengah. Ia memutuskan untuk mengganti namanya, karena nama pemberian dari orang tuanya itu dianggap terlalu ndeso alias kampungan. Tidak komersial, tidak laku dijual di Jakarta. Merantau ke Jakarta bermodal ijazah SMP, Siti Parinah bekerja sebagai baby sitter pada keluarga orang asing di Jakarta. Seorang bule berkebangsaan Jerman, yang bekerja pada sebuah perusahaan pertambangan.

Nasibnya sungguh mujur, sama sang bule ia diajari bahasa inggris dan di kursuskan komputer, bahkan pada suatu kesempatan, ia bisa ikut ujian persamaan SMA. Tiga tahun kemudian pada saat sang majikan mengakhiri tugasnya di Jakarta, dan pulang ke negaranya, Siti Parinah sudah terlanjur lancar cas, cis, cus. Dan ketrampilannya mengoperasikan kotak ajaib yang bernama komputer pun tidak di ragukan lagi. Karena jasa sang majikan pula, ia mengenal internet dengan segala macam seluk-beluknya. Sebelum pulang ke negaranya, sang bule pun tidak ragu untuk menitipkan ia pada seorang temannya yang menjadi direktur sebuah perusahaan asuransi. Memulai bekerja sebagai staff biasa, ia memang dikenal sebagai pekerja keras, rajin, ulet, dan sangat loyal. Ia terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kursus, seminar, workshop dan kuliah-kuliah singkat, yang pada kemudian hari terbukti mampu mendongkrak karirnya. Segala usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia, hingga ia mampu menduduki posisi mentereng seperti sekarang ini.

Tetapi mengapa namanya mesti diganti..? Memangnya kalau ingin sukses di Jakarta harus pakai nama yang komersial, nama ndesonya diganti dengan nama yang lebih marketable. Siti jadi Stella, Parinah jadi Farryna. Orang jaman sekarang ini suka aneh, nama saja kok di perso'alkan. Sukanya faktor luaran saja, lebih suka kulit dari pada isinya. Namanya saja yang bagus, tapi otaknya suka ngeres. Badannya saja yang bersih, tapi mulutnya suka makan yang kotor-kotor, hasil mencuri, menjarah, merampok, korupsi dan sejenisnya. Kisah Siti Parinah alias Stella Farryna, mengingatkan saya akan cerita kuno yang dulu sering didongengkan mbah buyut, waktu saya masih kecil. Cerita tentang Kere munggah mbale...@@.

Kamis, 24 Januari 2013

JALAN TRIKORA YANG BERNILAI HISTORIS DAN FILOSOFIS



Jalan Trikora sangat mungkin menjadi jalan protokol terpendek di kota Jogja, lebih pendek dari jalan Malioboro yang panjangnya  kurang lebih hanya satu kilometer. Panjang jalan ini mungkin kurang dari 200 meter, tetapi mengingat tempatnya sangat strategis, jalan ini memiliki nilai historis dan filosofis yang sangat tinggi. Berada persis di depan alun-alun utara Kraton Jogja,  jalan ini menjadi sangat penting karena menjadi jalan masuk ke kraton dari arah depan dan merupakan bagian dari bagan garis imajiner dari Kraton ke tugu di utara yang tersambung dengan jalan Ahmad Yani, jalan Malioboro dan jalan Pangeran Mangkubumi. Seperti pernah saya tulis dalam blog ini, dari Kraton ke tugu di utara merupakan bagan yang memiliki makna filosofi  Sangkan paraning dumadi yang kira-kira berarti asal-usul kehidupan manusia dan tujuan asasi hidupnya
Bernilai historis karena di seputaran tempat ini masih banyak bangunan-bangunan bersejarah yang masih sangat terawat. Seperti Gedung Agung, Benteng Vrederburg, Kantor Pos Besar, dan Bank Indonesia. Lebih dari itu dahulu disini juga merupakan medan pertempuran saat Belanda mencoba menduduki kembali kota Yogyakarta. Pertempuran Serangan Umum 1 Maret 1949 atau yang dikenal dengan pertempuran 6 jam di Jogja itu kini ditandai dengan Monumen So 1 Maret di seberang kantor pos besar. Tempat ini semakin memiliki nila historis saat ibukota Negara pindah ke Jogja tempat ini juga menjadi   
Bernilai filosofis sebab jalan Trikora dahulu bernama jalan Pangurakan. Dari kata urak atau nggusah yang berarti mengusir. Apa yang diusir? Di sini awalnya terdapat Gapura Gladag sebagai pintu Gerbang Utama menuju komplek kraton. Beberapa meter sebelah selatannya terdapat Gapura Pangurakan. Pada zamannya dulu Pangurakan merupakan tempat peyerahan suatu daftar jaga (gerbang pos penjagaan). Atau tempat pengusiran dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman/pengasingan, atau mengusir orang-orang yang tidak dikehendaki masuk ke komplek kraton. Tetapi  kalau dihubungkan dengan konsepsi filosofi pembangunan kraton, yang diusir bisa juga nafsu yang tidak baik dalam diri manusia. Ini berkaitan dengan garis lurus antara kraton hingga ke tugu yang memiliki makna filosofi Sangkan paraning dumadi, di mana setiap manusia pasti akan menghadap Sang Khalik, sehingga harus mensucikan diri, membersihkan hati dengan mengusir nafsu yang tidak baik yang ada di dalam dirinya. Di sepanjang jalan ini dulu juga ditanami pohon gayam dan pohon asem. Gayam melambangkan ayom (teduh), ayem (tenteram) dan asem melambangkan sengsem (tertarik). Dengan harapan kraton (Jogja) itu menjadi daerah yang ayom, ayem, tentrem, dan sengsem, teduh, tenteram dan juga menarik. @@

Minggu, 29 April 2012

PANTAI NGOBARAN, MENYEPI DI UJUNG NEGERI


Tak setenar pantai Baron, Kukup, Krakal, dan Sundak, pantai ini memang terletak agak ke barat dari gugusan pantai selatan Gunung Kidul yang sudah duluan terkenal dan banyak di kunjungi wisatawan. Berada di kecamatan Saptosari, kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta atau kurang lebih 25 kilometer arah barat daya kota Wonosari. Tak seperti pantai lainnya di kawasan timur yang sudah memiliki akses jalan yang relative baik, akses menuju pantai ini relative sempit meski sudah beraspal. Kondisi ini membuat bus-bus besar belum bisa masuk ke pantai ini, sehingga pengunjungnya juga terbatas.

Memiliki ciri khas seperti pantai-pantai lain di Gunung Kidul bagian selatan, pantai ini juga berbukit-bukit bahkan bertebing meski tidak terlalu tinggi. Fasilitas yang tersediapun masih sangat minim, selain area parkir yang tidak begitu luas, juga tidak banyak pedagang seperti di pantai-pantai lain yang sudah lebih berkembang. Di sampingnya juga terhampar pantai Ngrenehan yang jaraknya tidak begitu jauh. Tetapi nasibnya tak jauh berbeda dengan pantai Ngobaran, minim fasilitas dan sarana pendukung.
 
Meski demikian pantai ini tidak sulit untuk anda kunjungi. Menggunakan sepeda motor atau mobil keluarga perjalanan akan lebih mudah dan menyenangkan. Untuk mengunjungi pantai ini bisa ditempuh melalui kecamatan Playen terus ke selatan, sesampai di kota kecamatan Saptosari belok kiri. Setelah sampai pertigaan jalan yang yang ke kiri ( naik ) akan mengarah ke pantai Baron, Kukup dan Krakal, maka dengan mengambil jalan kekanan ( turun ) dan jalan selanjutnya akan mengarah ke selatan hingga ke pantai. Berwisata ke pantai Ngobaran seolah  berada di ujung negeri, sejauh lepas mata memandang hanya terlihat hamparan luas Samudra Indonesia yang membiru. Pantai Ngobaran sangat cocok untuk menyepi, meninggalkan sejenak rutinitas keseharian yang seringkali terasa membosankan.@@

Minggu, 11 Maret 2012

PESONA SINAR SURGA DI LUWENG JOMBLANG


Jogja tak hanya punya Keraton, Malioboro, Kaliurang, Candi Prambanan, Kota Gede, Kasongan atau wisata belanja dan kuliner yang kebanyakan orang sudah tahu bahkan pernah mengunjunginya. Bila anda berkunjung ke Jogja carilah sesuatu yang lain, yang menarik atau bahkan kalau perlu yang menantang. Luangkan waktu anda untuk tidak sekedar berputar-putar di dalam kota, pergilah sedikit ketimur dan temukan sesuatu yang lain, sesuatu yang langka dan  menakjubkan. Wisata alam yang berupa kegiatan menyusuri goa atau caving mungkin asing di telinga anda. Tetapi kegiatan wisata yang juga termasuk olah raga rekreasi ini bisa jadi akan membuat anda kagum pada alam dan sang pencipta. Kegiatan ini memang sedang dan akan terus di kembangkan di kabupaten Gunung Kidul sebab disanalah goa-goa alam nan eksotik itu bertebaran.
Wilayah kabupaten Gunung  Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan bagian dari Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang memiliki bentang alam yang cukup unik. Dibalik tanahnya yang tandus, Gunung Kidul memiliki begitu banyak goa-goa alam,  bahkan menurut sebuah sumber mencapai hingga ratusan goa,  baik goa horizontal maupun goa vertikal atau yang biasa disebut luweng. Karena jangan heran jika Gunungkidul menjadi surga bagi para penelusur gua atau caver, baik dari dalam maupun luar negeri,  baik untuk melakukan suatu penelitian  maupun  yang sekedar ingin menikmati keindahan alam yang ada di perut bumi sekaligus menguji adrenalin.
Kegiatan menyusuri goa, atau caving atau  termasuk olahraga rekreasi. Namun demikian tidak bisa  dianggap enteng, aktivitas penelusuran goa, khususnya goa-goa vertikal seperti yang telah dikembangkan di wlayah Gunung Kidul memiliki tantangan tersendiri. Lebih khusus lagi untuk memasuki goa-goa vertical yang sulit, goa dengan celah atau lobang yang sempit, maupun gua basah di mana terdapat aliran sungai di dalamnya. Para penelusur gua dituntut untuk memiliki kemampuan memanjat, berenang, mendaki, orientasi medan, peta kompas, sampai menyelam.   
Goa Jomblang dan Goa Grubug                                                                                                                    
Goa Jomblang dan goa Grubug yang terdapat di kecamatan Semanu atau kurang lebih delapan kilometer sebelah timur kota Wonosari merupakan tempat favorit bagi para caver atau penyusur goa. Pada goa vertikal yang memiliki lebar dan dalam limapuluh meter lebih ini memang cukup terkenal dikalangan para caver. Untuk masuk atau menuruni goa vertikal seperti goa atau luweng Jomblang dan goa atau luweng Grubug wajib menggunakan peralatan khusus yang sesuai dengan standar keamanan, serta wajib menguasai kemampuan tekhnik tali tunggal atau single rope technique ( SRT ). Didalam goa  yang memiliki kedalaman hingga 80 meter itu terdapat sungai bawah tanah yang merupakan ciri khas wilayah karst dan konon merupakan sungai purba. Selain itu  didalamnya juga terdapat hutan purba. Jika di atas terlihat tanah tandus dan pohon jati yang mengering, maka di dasar Gua Jomblang aneka tanaman dengan jenis yang berbeda dari vegetasi diatas hidup dengan subur. Dari dasar Gua Jomblang perjalanan dilanjutkan menyusuri lorong sepanjang 300 meter yang menghubungkan dengan Gua Grubug. Berhubung  di lorong tersebut sangat gelap maka para caver juga dilengkapi dengan headlamp untuk penerangan. Bahkan yang lebih fenomenal dari semua  itu pada goa-goa itu terdapat  ray of light atau yang lebih dikenal sebagai sinar surga. Sinar matahari yang masuk melalu entrance Gua Grubug dengan ketinggian sekitar 90 meter menciptakan pilar cahaya (ray of light) yang sangat indah. Para penelusur gua atau caver yang sudah berpengalaman biasanya akan masuk ke Gua Grubug tidak melalui Gua Jomblang tapi lewat celah tersebut. Setelah sampai di Gua Grubug biasanya para caver akan melanjutkan dengan body rafting di sungai yang mengalir di dalam gua.  Tetapi  untuk menyusur goa-goa ini diperlukan keahlian khusus serta pengetahuan, pengalaman, tekhnik dan peralatan yang memadai, bahkan berstandar international. ( Sumber: Kompasiana/Elizabeth Murni ).@@ 



Selasa, 13 Desember 2011

WISATA PANTAI SIUNG, MENGUNJUNGI SAUDARA TUA GUNUNG MERAPI


Pesona keindahan pantai selatan Jawa begitu memikat dan melegenda, dan salah satunya adalah pantai Siung. Pantai ini terletak di kecamatan Tepus kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Berjarak kurang lebih 28 kilometer arah selatan kota Wonosari tempat ini realtif mudah untuk dicapai. Meski untuk mengunjungi pantai ini memang harus menggunakan kendaraan pribadi atau carteran, sebab belum tersedia angkutan umum yang menuju ke sana. Tetapi jangan kawatir sebab akses menuju ke sana sudah didukung dengan sarana jalan yang cukup memadai. Perjalanan anda akan semakin menarik dengan medan yang berbelok-belok dan sedikit naik turun, serta suguhan pegunungan kapur disisi kanan-kiri jalan.
Pantai Siung memiliki daya tarik yang luar biasa dengan air lautnya yang sangat bening, pasir pantai yang putih dan lembut serta bukit-bukit karang yang menyembul keatas seperti pulau-pulau kecil yang menjorok ke tengah laut. Di pantai ini juga terdapat aneka ikan hias dengan warna dan bentuk yang sangat cantik. Yang lebih menarik lagi konon menurut penelitian jenis batuan yang ada di pantai ini memiliki kemiripan atau kesamaan dengan jenis batuan yang ada di kawasan gunung Merapi. Bahkan menurut sebuah sumber malah memiliki umur yang lebih tua dari yang ada di kawasan gunung Merapi. Secara filosofis gunung Merapi, Keraton dan laut selatan memang memiliki hubungan. Dan ternyata secara ilmiah keduanya juga memiliki hubungan. Kalau secara filosofis pantai selatan diwakili Parangtritis, maka secara ilmiah pantai selatan diwakili oleh pantai Siung.
Atraksi alam di pantai Siung semakin sempurna dengan kehadiran air terjun Pengantin yang langsung bermuara ke laut. Meski tidak terlalu tinggi air terjun ini menambah daya tarik pantai Siung untuk anda kunjungi. Berkunjung ke kota Jogja mungkin tidak lengkap kalau anda tidak mengunjungi Keraton dan mampir ke Malioboro, tetapi kunjungan wisata anda akan terasa serpurna bila anda sempatkan singgah dan mengunjungi pantai Siung yang eksotis dan mempesona. Anda penasaran berkunjung ke sana? Selamat berwisata!@@

PERJANJIAN GIYANTI DAN LAHIRNYA JOGJAKARTA


Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian yang melatarbelakangi pecahnya dynasti Mataram dan lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta. Hal itu berawal dari  Pangeran Mangkubumi yang menagih janji dari Sunan Pakubuwono III yang akan memberikan 3000 cacah tanah di wilayah Sukowati bila berhasil menumpas pembrontakan yang dipimpin oleh Pangeran Sambernyowo.
Perjanjian Giyanti sebenarnya merupakan kesepakan antara pihak Belanda, dalam hal ini VOC dengan pihak kerajaan Mataram yang di wakili oleh Sunan Pakubuwono III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi akhirnya memutar haluan menyeberang dari kelompok pemberontak dan bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan Mataram, dan ikut memerangi pemberontak yaitu Pangeran Sambernyowo. Perjanjian Giyanti yang akhirnya di tandatangani pada tanggal 13 Februari 1775 di desa Giyanti yang saat ini menjadi wilayah dukuh Kerten Desa Jantiharjo kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah ini secara de facto dan de jure menandai berakhirnya kerajaan Mataram.
Berdasarkan perjanjian ini wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 bagian, yaitu wilayah disebelah timur dikuasai oleh pewaris tahta Mataram ( Sunan Pakubuwono III ) dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara disebelah barat yang merupakan wilayah Mataram yang asli diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi, sekaligus diangkat sebagai Sultan Hamengkubuwono I dan berkedudukan di Ngayogyakarta. Dalam perjajian itu juga terdapat klausul, VOC bisa menentukan siapa yang menjadi penguasa wilayah itu jika diperlukan.
Perjanjian Giyanti sebenarnya belum mengakhiri gonjang-ganjing di kerajaan Mataram, karena kepentingan kelompok Pangeran Sambernyowo ( Raden Mas Said ) tidak terakomodasi dalam perjanjian ini. Pangeran Sambernyowo adalah rivalitas Pangeran Mangkubuni untuk menjadi orang nomor satu di kerajaan Mataram. Perjanjian Giyanti bisa jadi merupakan persekongkolan untuk menyingkirkan Pangeran Sambernyowo. Ada juga yang beranggapan bahwa Perjanjian Giyanti merupakan bagian dari politik pecah belah Belanda. Terlepas dari kontroversi yang terjadi, Perjanjian Giyanti merupakan “ibu kandung” Kasultanan Ngayogyakarta yang kemudian menjadi Yogyakarta. yang telah banyak memberikan sumbangsihnya pada awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di awal kemerdekaan RI  kasultanan Yogyakarta banyak memberikan bantuan baik moril maupun matriil. Dan puncaknya adalah ketika Sultan Hamengkubuwono IX yang bertahta pada saat itu, menyatakan wilayah kasultanan Ngayogyakarta sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia begitu Kemerdekaan di proklamirkan oleh Sukarno-Hatta. Pemindahan ibukota dari Jakarta ke Jogjakarta juga atas inisiatif dan difasilitasi oleh Sultan Hamengkubuwono IX.@@ ( Sumber : Wikipedia, beberapa sumber lain )

Jumat, 09 Desember 2011

PANTAI TELENG RIA, PRIMADONA DARI PACITAN


Selain memiliki wisata goa karst lengkap dengan stalagtit dan stalagmitnya, kabupaten Pacitan yang terletak di bagian selatan pulau jawa juga mengandalkan wisata pantainya. Sebut saja pantai Klayar di kecamatan Donorojo atau pantai Teleng Ria yang letaknya kurang lebih hanya dua kilometer dari pusat kota Pacitan. Pantai ini menjadi menarik karena lokasinya yang sangat dekat dengan pusat kota, sehingga akses menuju ke pantai ini demikian dekat dan mudah. Kelebihan pantai ini disamping mudah untuk di kunjungi tetapi juga memiliki garis pantai yang panjang. Seperti pantai selatan pada umumnya, pantai ini juga berombak besar. Mandi dipantai sambil bermain pasir bisa jadi menjadi alternative yang menyenangkan di pantai ini. Tetapi harus hati-hati, disamping ombak yang besar, tetapi pada musim-musim tertentu juga banyak ubur-ubur laut yang beracun yang bila menyengat akan terasa pedih dan gatal-gatal.
Jalan menuju pantai ini relative baik. Fasilitas yang tersedia juga lumayan baik, parkir yang luas serta warung makan atau jajanan cukup tersedia di pantai ini. Untuk mengunjungi pantai ini tidaklah sulit, bila menggunakan angkutan umum dari arah Solo bisa menumpang bus jurusan Solo-Batu-Pacitan dan turun tak jauh dari gerbang pantai. Kalau dari arah Jogja bisa menumpang bus jurusan Jogja-Wonosari-Praci-Batu, turun di terminal Baturetno ( Wonogiri ) kemudian berganti bus jurusan Pacitan yang datang dari arah Solo. Pantai Teleng Ria menawarkan pemandangan yang cukup mempesona, karena dikelilingi perbukitan yang tampak menghijau dari kejauhan. Bila menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa sekaligus mengunjungi beberapa goa yang berada satu jalur dengan tempat wisata ini bila berangkat dari arah Jogja atau Solo. Sebut saja goa Tabuhan dan goa Gong. Anda teryarik berkunjung ke sana? Selamat berwisata.@

Selasa, 06 Desember 2011

GOA RANCANG KENCONO, TEMPAT UNTUK MERANCANG KEMERDEKAAN


Berbeda dengan goa-goa pada umumnya, goa Rancang Kencono memeiliki pintu yang menghadap ke atas mirip menyerupai sebuah lubang raksasa. Untuk memasuki goa ini harus menuruni beberapa anak tangga yang sengaja dibuat untuk memudahkan pengunjung. Goa ini terletak di dusun Menggoran, desa Bleberan, kecamatan Playen kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Berjarak kurang lebih 15 kilometer arah barat daya kota Wonosari tempat ini sebenarnya tidak sulit untuk dicapai, namun sayangnya masih minimnya sarana dan kondisi jalan untuk memasuki wilayah ini masih berupa jalan tanah yang belum teraspal.
Meski tidak terlalu dalam goa ini cukup memiliki nilai sejarah. Goa ini juga memiliki pelataran yang cukup luas, bahkan konon bisa untuk bermain badminton. Dinamakan Rancang Kencono, sebab menurut riwayat yang diyakini penduduk setempat, Rancang bermakna merancang, mengkonsep, atau menyusun. Dan Kencono berarti emas atau kemuliaan. Dan kemulian bagi bangsa yang terjajah kala itu, berarti adalah sebuah kemerdekaan. Konon pada masa perjuangan dahulu goa ini seringkali dijadikan tempat untuk menyususn strategi untuk melawan penjajah dan meraih kemerdekaan. Dan kini nampaknya tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat wisata lokal juga suntuk kegiatan ritual tertentu.
Uniknya ditengah mulut goa ini terdapat pohon langka yang cukup besar menyembul keatas. Menurut keterangan warga setempat bahkan pohon ini merupakan pohon satu-satunya di Gunung Kidul. Menurut keterangan belum ada yang menemukan pohon sejenis di wilayah Gunung Kidul. Pohon yang oleh masyarakat disebut pohon Bluni ini memiliki buah yang rasanya manis. Buahnya berbentuk bulat lonjong dan berwarna ungu. Yang menarik di goa yang jauh dari keramaian itu sering sekali dipergunakan untuk pengambilan gambar untuk film-film kolosal laga seperti Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, dll. Tak jauh dari tempat ini juga terdapat air terjun Si Gethuk, tetapi untuk mencapainya agak sulit disamping untuk menuju kesana jalannya belum teraspal  juga  harus menaiki perahu atau berjalan kaki melewati areal persawahan yang becek dan naik turun.@

Senin, 05 Desember 2011

GUNUNG KENDIL, KISAH AIR 'KERAMAT' DARI DALAM SEBONGKAH BATU


Mata air Gunung Kendil berada di atas ketiggian puncak sebuah bukit kapur, terletak didesa Ponjong, kecamatan Ponjong atau kurang lebih 11 kilometer arah timur laut kota Wonosari, Gunung Kendil merupakan tempat wisata ritual yang cukup dikenal diwilayah ini. Disini terdapat mata air yang terdapat pada sebuah bongkahan batu besar. Pengeboran batu itu atas perintah mbah Moyo yang merupakan sesepuh desa setempat, sekaligus merupakan pemilik tanah itu. Sebelum memerintahkan pengeboran diatas bongkahan batu besar itu, mbah Moyo melakukan “laku” dan sering melakukan shalat hajat ditempat itu. Dan anehnya setelah dibor air itu mengucur keatas tanpa harus dipompa. Kalau sekarang dipasang pompa karena air tidak bisa berhenti, jadi pompa lebih difungsikan untuk mematikan aliran air.
Banyak orang terperanjat ketika kemudian keluar air jenih dari bongkahan batu itu. Setelah itu banyak orang berkunjung, mula-mula warga sekitar Gunung Kidul tetapi kini sudah banyak yang dating dari luar kota Jogja, Magelang, Klaten, Solo, Boyolali bahkan dari Surabaya dan Jakarta. Kini tempat ini terkenal sebagai tempat terapi air. Beberapa penyakit terbukti sembuh. Banyak orang-orang yang datang ketempat ini untuk melakukan melakukan ritual mensucikan diri  dan melaksanakan hajat dimasjid sekitar tempat ini. Bahkan konon banyak pejabat di wilayah ini yang datang untuk melakukan hal yang sama.
Setelah diakan penelitian oleh pihak yang berwenang yaitu Dinas Kesehatan kabupaten Gunung KIdul, air dari Gunung Kendil sangat layak untuk di konsumsi bahkan sangat layak untuk sumber air minum. Menurut uji klinis kandungan Ecolinya nol. Dan sekarang masyarakat bias menikmati ARDO ( air do’a ) air minum yang sudah melalui proses sterilisasi ozon, dan dijamin lebih higienis. Ardo juga bisa dibawa pulang dengan kemasan 1,5 liter dengan harga Rp.4000. Sebagai air terapi, untuk memudahkan para pengunjung kemudian juga dibangun 3 kolam renang untuk dewasa dan anak-anak. Tempat ini sangat mudah untuk dicapai karena berada ditepi jalan raya di kota kecamatan Ponjong, dan di dukung sarana jalan yang sangat mulus. Disamping itu dari kota Wonosari juga tersedia sarana angkutan umum yang cukup memadai.@

Jumat, 18 November 2011

MENGENAL LEBIH DEKAT PANEMBAHAN SENOPATI, SANG PENDIRI KERAJAAN MATARAM


Panembahan Senopati adalah pendiri kasultanan Mataram yang 188 tahun kemudian terpecah menjadi 2, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta melalui Perjanjian Giyanti. Beliau memerintah sebagai raja Mataram pertama pada tahun 1587-1601. Bergelar Senopati Ingalogo Kalifatulah Tanah Jawa, Panembahan Senopati adalah peletak dasar-dasar kasultanan Mataram. Raja pertama Mataram yang memiliki nama kecil Danang Sutawijaya ini, merupakan putra sulung dari pasangan Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Sabinah. Menurut naskah-naskah babad tanah jawa ayahnya merupakan keturunan raja Brawijaya, raja terakhir kerajaan Majapahit, sedang ibunya merupakan keturunan Sunan Giri, anggota Walisongo. Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani, yang kemudian diangkat sebagai patih pertama kasultanan Mataram.
Ikut berjasa besar dalam menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549, Sutawijaya kemudian diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya bupati Pajang untuk pancingan karena sampai saat itu beliau belum dikaruniai seoarang anak. Sutawijaya kemudian bertempat tinggal di sebelah utara pasar, sehingga kemudian ia dikenal sebagai Raden Ngabehi Loring Pasar.
Dalam sayembara menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549, ia diajak ikut serta ayahnya dalam rombongan pasukan, supaya Sultan Hadiwijaya tidak tega dan menyertakan bala pasukan Pajang sebagai bantuan, saat itu Sutawijaya masih berumur belasan tahun. Arya Penangsang adalah bupati Jipang Panolan yang sudah membunuh Sunan Prawoto raja terakhir kasultanan Demak. Ia sendiri akhirnya terbunuh oleh Sutawijaya. Akan tetapi sengaja di buat laporan palsu bahwa kematian Penangsang karena dikeroyok oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, karena jika Sultan Hadiwijaya sampai tahu kisah sebenarnya bahwa yang membunuh Arya Penangsang adalah anak angkatnya sendiri, beliau akan lupa memberikan hadiah.
Usai sayembara Ki Penjawi mendapat tanah di Pati dan menjadi bupati sejak 1549, sedang ki Ageng Pemanahan baru mendapat tanah Mataram sejak tahun 1556. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1575, Sutawijaya menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin Mataram dan bergelar Senopati Ingalogo yang berarti panglima medan perang.
Pada tahun 1576 Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil dari Pajang tiba untuk menanyakan kesetiaan Mataram, mengingat sudah lebih dari setahun Senopati tidak menghadap Sultan Hadiwijaya. Senopati saat itu sedang sibuk berkuda di Lipura, seolah tidak peduli dengan kedua utusan tersebut. Namun kedua pejabat senior Pajang itu sangat pandai menjaga perasaan Sultan Hadiwijaya melalui laporan yang mereka susun
Senopati memang ingin menjadikan Mataram menjadi kerajaan yang merdeka. Ia sibuk mengadakan persiapan baik yang bersifat matreal maupun spiritual, misalnya membangun benteng, melatih tentara, sampai menghubungi penguasa laut selatan dan gunung Merapi. Senopati juga berani membelokkan para mantri pamajegan dari kedu dan bagelen yang hendak meyetor pajak ke Pajang, hingga para mantri itu bahkan dibujuknya untuk setia pada senopati. Sultan Hadiwijaya resah mendengar kemajuan anak angkatnya, dan iapun mengirim utusan untuk menyelidiki kemajuan Mataram. Yang diutus adalah Arya Pamalad Tuban dan Pangeran Benawa serta Patih Mancanegara. Semua dijamu dengan pesta oleh Senopati, sehingga mereka tidak membuat laporan yang biasa-biasa saja pada Sultan Hadiwijaya tentang Senopati.
Pada tahun 1582 Sultan Hadiwijaya menghukum Tumenggung Mayang dibuang ke Semarang karena telah membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan menyusup kedalam keputren dan mengganggu Ratu Sekar Kedaton putri bungsu Sultan. Raden Pabelan sendiri akhirnya dihukum mati dan mayatnya dibuang ke sungai Laweyan. Ibu Pabelan adalah adik Senopati, maka ia mengutus para mantri untuk merebut tumenggung Mayang dalam perjalanan pebuangannya ke Semarang. Perbuatan Senopati ini membuat Sultan Hadiwijaya murka. Sultanpun berangkat sendiri memimpin pasukan Pajang untuk menyerang Mataram.
Perangpun terjadi, pasukan  Mataram berhasil menghalau pasukan Pajang, meski jumlah mereka lebih banyak. Kemudian Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dalam perjalanan pulang ke pajang. Ia pun akhirnya meninggal dunia, namun beliau sempat berwasiat agar anak-anaknya tidak membenci dan memusuhi Senopati serta harus memperlakukannya sebagai kakak sulung. Senopati sendiri ikut hadir dalam upacara pemakaman Sultan Hadiwijaya di Pajang. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya, Senopati memerdekakan Mataram pada tahun 1587 dan memerintah menjadi raja pertama Mataram. Beliau wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di makam raja-raja Kotagede, kemudian digantikan oleh Panembahan Hanyakrawati atau Raden Mas Jolang. Sekarang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Yogyakarta, tak jauh dari kraton.@ (Sumber:Wikipedia dan beberapa sumber lain)

Rabu, 16 November 2011

TRANS JOGJA, SOLUSI HEMAT MENJELAJAH KOTA JOGJA


Main ke Jogja dengan dana minim, siapa takut? Bagi para backpacker mania tak perlu kawatir berlebihan bila anda ingin jalan-jalan ke kota Jogja bermodal ongkos perjalanan yang pas-pasan. Kehadiran bus Trans Jogja akan banyak membantu anda mengunjungi tempat-tempat menarik selama liburan di Jogja dengan budget yang tidak terlalu besar. Dengan sitem operasi yang mirip Trans Jakarta Bus Way di ibukota, moda transpotasi ini akan mengantar anda kemanapun pergi. Dengan Trans Jogja dipastikan akan hemat waktu dan hemat biaya, sebab tidak berhenti di sembarang tempat dan untuk ganti bus tidak dikenakan biaya lagi.
Trans Jogja yang menggunakan jenis microbus dengan AC dan hanya berhenti pada halte-halte yang telah ditentukan, akan menjamin kenyamanan anda selama liburan di Jogja. Trans Jogja merupakan transpotasi kota terpadu yang menghubungkan semua tempat-tempat strategis mulai dari Terminal Penumpang Yogyakarta ( TPY ) Umbulharjo, Terminal Jombor, Monumen Jogja Kembali, Terminal Condong Catur, Terminal Prambanan, Bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu, Kraton, Malioboro, Purawisata, Taman Pintar, Kebun binatang Gembira Loka, Sport Hall Kridosono, Stadion Mandala Krida, Balai kota, Jogja Expo Center, Ambarukmo Plaza, UGM, UNY hingga sentra-sentra kerajinan dan oleh-oleh.
Trans Jogja merupakan solusi jitu bagi anda para backpacker berkantong tipis untuk bisa menjelajah kota Jogja, atau bagi para low budget traveler yang tak sanggup membeli paket-paket wisata yang ditawarkan tour operator. Dengan Trans Jogja, anda bisa puas berwisata keliling Jogja dengan dana seadanya. Tidak percaya? Silahlan buktikan Sendiri!!

Kamis, 10 November 2011

SEJARAH BERDIRINYA BENTENG VREDEBURG



Setelah terjadinya perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua bagian barat dan timur, Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, maka Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I langsung membangun ibukota baru berikut istananya.

Pembangunan ibu kota dan istananya itu dimulai pada tanggal 9 Oktober 1755 di sebuah tempat bernama Umbul Pachethokan, kawasan hutan Paberingan yang kemudian bernama Ayodya atau Ngayogya, atau kini lebih dikenal sebagai Yogyakarta. Selama pembangunan Sultan beserta keluarga tinggal di pesanggrahan Ambarketawang di Gamping sebelah barat Yogya. Kemudian dibangun pula bangunan-bangunan lain. Kraton dikelilingi tembok tebal yang kemudian di kenal sebagai benteng Baluwerti. Di dalamnya terdapat aneka  bangunan dengan rupa dan fungsi yang berbeda. Bangunan tempat kediaman Sultan dan kerabatnya disebut Prabayeksa yang selesai dibangun pada tahun 1756. Kemudian menyususul banguan Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran selesai pada tahun 1757. Sedang Regol Donopratopo dan Bangsal Kamagangan selesai dibangun pada tahun 1761 dan 1763.  Masjid agung dibangun pada tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai dibangun pada tahun 1777. Bangsal Kencono selesai dibangun pada tahun 1792, dan seterusnya istana kraton Yogyakarta terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Melihat perkembangan kraton yang sangat pesat itulah kemudian pihak Belanda mulai merasa was-was dan khawatir, bila suatu saat kelak Sultan berbalik arah dan tidak mau bekerja sama, bahkan mengusir Belanda. Dari situlah kemudian pihak Belanda meminta izin kepada Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di dekat kraton. Belanda berdalih agar bisa menjaga dan memelihara keamanan kraton dan sekitarnya. Namun demikian niat yang sesungguhnya dari pihak Belanda adalah agar bisa mengontrol setiap perkembangan yang terjadi di lingkungan kraton, lebih-lebih segala kegiatan Sultan. Lokasi pendirian benteng yang sangat dekat bahkan hanya berjarak satu tembakan meriam dari kraton, dan juga letaknya yang menghadap jalan utama yang menuju ke kraton merupakan indikasi kuat bila fungsi benteng yang sebenarnya adalah benteng strategi, intimidasi, bahkan blokade. Benteng tersebut merupakan tempat menyerang atau bertahan bila suatu saat Sultan memalingkan muka dari Belanda.

Sebelum dibangun dilokasi yang sekarang berdiri museum benteng Vredeburg Yogyakarta, dahulu pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan sudah membangun benteng yang sangat sederhana yang berbentuk bujur sangkar dan di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut Seleka dan Bastion. Oleh Sultan keempat sudut itu diberi nama Jaya (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya), dan Jayaprayitna (sudut tenggara).
Pada awal berdirinya benteng tersebut masih sangat sederhana dimana temboknya hanya terbuat dari tanah dan deperkuat dengan tiang-tiang dari kayu.  Tetapi ketika WH Ossenbrech menggantikan Nicolas Hartingh pada tahun 1765, ia mengusulkan kepada Sultan agar bangunan benteng diperkuat menjadi bangunan yang permanen agar lebih bisa menjamin keamanan kraton. Usul tersebut dikabulkan dan kemudian pembangunan benteng diserahkan dibawah pengawasan seorang ahli bangunan dari Belanda bernama Ir Frans Haak. Pada tahun 1767 pembangunan benteng di mulai, tetapi berjalan sangat lambat dan baru selesai pada 20 tahun kemudian pada tahun 1787, sebab dalam waktu bersamaan Sultan juga baru sibuk membangun kraton. Benteng tersebut kemudian dinamakan Rustenberg yang berarti benteng peristirahatan.

Tetapi pada tahun 1867 terjadi gempa hebat di kawasan Yogyakarta yang banyak merobohkan berbagai bangunan besar seperti gedung Residen, Tugu Pal Putih dan juga benteng Rustenberg. Bangunan yang mengalami kerusakan segera dibangun kembali termasuk benteng Rustenberg, setelah selesai dibangun kembali benteng Rustenberg diganti nama menjadi benteng Vredeburg yang berarti benteng Perdamaian, nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan baik antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda.
Bentuk benteng dipertahankan seperti awalnya yang terdapat penjagaan disetiap sudutnya. Pintu gerbang menghadap barat dan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat aneka bangunan dengan aneka fungsi seperti rumah perwira, mess prajurit, gudang logistic, gudang mesiu, klinik prajurit dan rumah residen. ( Sumber: Situs Musium B. Vredeburg, Wikipedia, Sumber lain )

LINTAS BUKIT SELATAN


Lintas Bukit Selatan adalah kawasan jalur lintas selatan jawa dari Jogja hingga Pacitan jawa timur dengan segenap potensi wisatanya. Wilayah yang merupakan bagian dari pegunungan seribu itu memang layak untuk anda pilih sebagai tempat tujuan wisata alternatif, setelah tempat-tempat wisata kota Jogja yang lebih dulu di kenal seperti Kraton, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kerajinan Perak Kotagede, Kerajinan Gerabah Kasongan, Monumen Jogja Kembali, Kaliurang & Merapi Lava Tour, atau wisata belanja di sepanjang Malioboro, Galleria Mall, atau Ambarukmo Plaza.

Lintas Bukit Selatan adalah kawasan menarik dengan segudang potensi wisata alam disepanjang jalur selatan jawa. Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba di kecamatan Pathuk, pantai selatan kabupaten Gunung Kidul yang masih perawan seperti pantai Baron, Kukup, Krakal, Sundak , Siung, Wediombo hingga Sadeng. Dan pantai Sembukan serta pantai Ngampu di kabupaten Wonogiri, yang sangat menawan. Lebih ke timur lagi kita akan menemukan Pantai Buyutan, pantai Klayar dan pantai Teleng Ria di kabupaten Pacitan. Musium Karst dan Goa Putri Kencono di Pracimantoro, Goa Tabuhan dan goa Gong di kabupaten Pacitan juga memiliki daya tarik tersendiri dan akan menambah wawasan anda akan kawasan karst di sepanjang jalur selatan.
Di Lintas Bukit Selatan juga terdapat sungai-sungai bawah tanah yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi, apalagi bagi yang suka menguji adrenalin, menyukai tantangan menjelajah alam. Lintas Bukit Selatan adalah sebuah upaya kecil untuk mengenalkan pesona wisata lain di sekitar Jogja, kepada anda yang rindu akan suasana alam pedesaan, haus akan belaian lembut angin pantai, gemar mengunjungi tempat-tempat terpencil, dan meraih kepuasan batin dengan menikmati keindahan alam yang masih perawan. Lintas Bukit Selatan adalah sebuah upaya menghadirkan kemewahan-kemewahan kecil dalam hidup anda yang seringkali sesak oleh urusan-urusan yang tak pernah selesai, melalui aneka pengalamanan mengesankan menaiki bukit tandus, menyisir pantai dengan pasir putih nan lembut, menjelajah goa-goa alam, atau sekedar menikmati bau rumput liar di pinggir telaga yang mulai mengering. Tinggalkan rutinitas hidup anda sejenak, nikmati harmoni alam pegunungan di sepanjang Lintas Bukit Selatan. Anda tak akan pernah mengira bahwa kemewahan itu tidak selalu harus berharga mahal.@