Hari Senin jam 08.00 pagi, seperti biasa Jakarta macet total. Antrian panjang kendaraan bermotor baik roda dua atau roda empat terjadi di setiap perempatan jalan di seluruh pelosok Jakarta. Tak terkecuali di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, salah satu kawasan perkantoran tersibuk di ibu kota. Di situ berdiri megah gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Sebagai kawasan bisnis, tak heran bila disana juga berdiri megah hotel-hotel bintang lima, apartemen dan tentu shopping mall. Semakin siang, kemacetan akan semakin panjang dengan keberadaan kantor-kantor kedutaan asing di sepanjang jl. HR Rasuna Said.
Sebuah mobil Daihatsu Xenia warna hitam, lolos dari kemacetan memasuki sebuah pelataran parkir di sebuah gedung perkantoran tak jauh dari Menara Imperium. Seorang perempuan muda dengan kaca mata gelap keluar dari mobil, menenteng tas hitam yang berisi lap top yang super canggih, hand phone keluaran terbaru dan file holder yang berisi beberapa lembar kertas. Namanya Stella Farryna, sekertaris direksi pada perusahaan asuransi swasta nasional yang cukup ternama. Sebagai executive muda, tentu dia sudah akrab dengan pergaulan high class dan gaya hidup metropolitan ala ibu kota. Shopping di mall, dinner di restauran bintang lima, nongkrong di cafe, perawatan tubuh di salon atau spa, clubbing, dan menikmati week end di Bali atau pantai Carita.
Tinggal di apartemen kelas menengah, mbak Stella ingin membuktikan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu exis, di tengan persaingan Jakarta yang sangat ketat, bahkan kejam. Sukses meniti karir adalah impiannya, membuat simboknya di kampung bahagia adalah impiannya yang lain. Dan kerja keras yang tak kenal lelah pun terbayar sudah, dengan menduduki jabatan bergengsi sperti yang di sandangnya sekarang.
Tak ada orang yang tahu, dibalik kesuksesannya, mbak Stella mengunci rapat identitas diri yang sebenarnya. Terlahir dengan nama asli Siti Parinah, anak dari yu Romlah, penjual SGPC alias sego pecel yang sering mangkal di stasiun Kroya, Cilacap jawa tengah. Ia memutuskan untuk mengganti namanya, karena nama pemberian dari orang tuanya itu dianggap terlalu ndeso alias kampungan. Tidak komersial, tidak laku dijual di Jakarta. Merantau ke Jakarta bermodal ijazah SMP, Siti Parinah bekerja sebagai baby sitter pada keluarga orang asing di Jakarta. Seorang bule berkebangsaan Jerman, yang bekerja pada sebuah perusahaan pertambangan.
Nasibnya sungguh mujur, sama sang bule ia diajari bahasa inggris dan di kursuskan komputer, bahkan pada suatu kesempatan, ia bisa ikut ujian persamaan SMA. Tiga tahun kemudian pada saat sang majikan mengakhiri tugasnya di Jakarta, dan pulang ke negaranya, Siti Parinah sudah terlanjur lancar cas, cis, cus. Dan ketrampilannya mengoperasikan kotak ajaib yang bernama komputer pun tidak di ragukan lagi. Karena jasa sang majikan pula, ia mengenal internet dengan segala macam seluk-beluknya. Sebelum pulang ke negaranya, sang bule pun tidak ragu untuk menitipkan ia pada seorang temannya yang menjadi direktur sebuah perusahaan asuransi. Memulai bekerja sebagai staff biasa, ia memang dikenal sebagai pekerja keras, rajin, ulet, dan sangat loyal. Ia terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kursus, seminar, workshop dan kuliah-kuliah singkat, yang pada kemudian hari terbukti mampu mendongkrak karirnya. Segala usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia, hingga ia mampu menduduki posisi mentereng seperti sekarang ini.
Tetapi mengapa namanya mesti diganti..? Memangnya kalau ingin sukses di Jakarta harus pakai nama yang komersial, nama ndesonya diganti dengan nama yang lebih marketable. Siti jadi Stella, Parinah jadi Farryna. Orang jaman sekarang ini suka aneh, nama saja kok di perso'alkan. Sukanya faktor luaran saja, lebih suka kulit dari pada isinya. Namanya saja yang bagus, tapi otaknya suka ngeres. Badannya saja yang bersih, tapi mulutnya suka makan yang kotor-kotor, hasil mencuri, menjarah, merampok, korupsi dan sejenisnya. Kisah Siti Parinah alias Stella Farryna, mengingatkan saya akan cerita kuno yang dulu sering didongengkan mbah buyut, waktu saya masih kecil. Cerita tentang Kere munggah mbale...@@.
Jumat, 17 Maret 2017
Kamis, 24 Januari 2013
JALAN TRIKORA YANG BERNILAI HISTORIS DAN FILOSOFIS
Bernilai historis
karena di seputaran tempat ini masih banyak bangunan-bangunan bersejarah yang
masih sangat terawat. Seperti Gedung Agung, Benteng Vrederburg, Kantor Pos
Besar, dan Bank Indonesia. Lebih dari itu dahulu disini juga merupakan medan
pertempuran saat Belanda mencoba menduduki kembali kota Yogyakarta. Pertempuran
Serangan Umum 1 Maret 1949 atau yang dikenal dengan pertempuran 6 jam di Jogja
itu kini ditandai dengan Monumen So 1 Maret di seberang kantor pos besar.
Tempat ini semakin memiliki nila historis saat ibukota Negara pindah ke Jogja
tempat ini juga menjadi
Bernilai filosofis
sebab jalan Trikora dahulu bernama jalan Pangurakan.
Dari kata urak atau nggusah yang berarti mengusir. Apa yang
diusir? Di sini awalnya terdapat Gapura
Gladag sebagai pintu Gerbang Utama menuju komplek kraton. Beberapa meter
sebelah selatannya terdapat Gapura
Pangurakan. Pada zamannya dulu Pangurakan merupakan tempat peyerahan suatu
daftar jaga (gerbang pos penjagaan). Atau tempat pengusiran dari kota bagi
mereka yang mendapat hukuman/pengasingan, atau mengusir orang-orang yang tidak
dikehendaki masuk ke komplek kraton. Tetapi kalau dihubungkan dengan konsepsi filosofi pembangunan
kraton, yang diusir bisa juga nafsu yang tidak baik dalam diri manusia. Ini
berkaitan dengan garis lurus antara kraton hingga ke tugu yang memiliki makna
filosofi Sangkan paraning dumadi, di mana
setiap manusia pasti akan menghadap Sang Khalik, sehingga harus mensucikan
diri, membersihkan hati dengan mengusir nafsu yang tidak baik yang ada di dalam
dirinya. Di sepanjang jalan ini dulu juga ditanami pohon gayam dan pohon asem.
Gayam melambangkan ayom (teduh), ayem (tenteram) dan asem melambangkan sengsem
(tertarik). Dengan harapan kraton (Jogja) itu menjadi daerah yang ayom, ayem, tentrem, dan sengsem, teduh,
tenteram dan juga menarik. @@
Minggu, 29 April 2012
PANTAI NGOBARAN, MENYEPI DI UJUNG NEGERI
Tak
setenar pantai Baron, Kukup, Krakal, dan Sundak, pantai ini memang terletak agak
ke barat dari gugusan pantai selatan Gunung Kidul yang sudah duluan terkenal dan banyak di
kunjungi wisatawan. Berada di kecamatan Saptosari, kabupaten Gunung Kidul
Yogyakarta atau kurang lebih 25 kilometer arah barat daya kota Wonosari. Tak
seperti pantai lainnya di kawasan timur yang sudah memiliki akses jalan yang
relative baik, akses menuju pantai ini relative sempit meski sudah beraspal.
Kondisi ini membuat bus-bus besar belum bisa masuk ke pantai ini, sehingga
pengunjungnya juga terbatas.
Memiliki ciri khas seperti pantai-pantai lain di Gunung Kidul bagian selatan, pantai ini juga berbukit-bukit bahkan bertebing meski tidak terlalu tinggi. Fasilitas yang tersediapun masih sangat minim, selain area parkir yang tidak begitu luas, juga tidak banyak pedagang seperti di pantai-pantai lain yang sudah lebih berkembang. Di sampingnya juga terhampar pantai Ngrenehan yang jaraknya tidak begitu jauh. Tetapi nasibnya tak jauh berbeda dengan pantai Ngobaran, minim fasilitas dan sarana pendukung.
Meski demikian pantai ini tidak sulit untuk anda kunjungi. Menggunakan sepeda motor atau mobil keluarga perjalanan akan lebih mudah dan menyenangkan. Untuk mengunjungi pantai ini bisa ditempuh melalui kecamatan Playen terus ke selatan, sesampai di kota kecamatan Saptosari belok kiri. Setelah sampai pertigaan jalan yang yang ke kiri ( naik ) akan mengarah ke pantai Baron, Kukup dan Krakal, maka dengan mengambil jalan kekanan ( turun ) dan jalan selanjutnya akan mengarah ke selatan hingga ke pantai. Berwisata ke pantai Ngobaran seolah berada di ujung negeri, sejauh lepas mata memandang hanya terlihat hamparan luas Samudra Indonesia yang membiru. Pantai Ngobaran sangat cocok untuk menyepi, meninggalkan sejenak rutinitas keseharian yang seringkali terasa membosankan.@@
Memiliki ciri khas seperti pantai-pantai lain di Gunung Kidul bagian selatan, pantai ini juga berbukit-bukit bahkan bertebing meski tidak terlalu tinggi. Fasilitas yang tersediapun masih sangat minim, selain area parkir yang tidak begitu luas, juga tidak banyak pedagang seperti di pantai-pantai lain yang sudah lebih berkembang. Di sampingnya juga terhampar pantai Ngrenehan yang jaraknya tidak begitu jauh. Tetapi nasibnya tak jauh berbeda dengan pantai Ngobaran, minim fasilitas dan sarana pendukung.
Meski demikian pantai ini tidak sulit untuk anda kunjungi. Menggunakan sepeda motor atau mobil keluarga perjalanan akan lebih mudah dan menyenangkan. Untuk mengunjungi pantai ini bisa ditempuh melalui kecamatan Playen terus ke selatan, sesampai di kota kecamatan Saptosari belok kiri. Setelah sampai pertigaan jalan yang yang ke kiri ( naik ) akan mengarah ke pantai Baron, Kukup dan Krakal, maka dengan mengambil jalan kekanan ( turun ) dan jalan selanjutnya akan mengarah ke selatan hingga ke pantai. Berwisata ke pantai Ngobaran seolah berada di ujung negeri, sejauh lepas mata memandang hanya terlihat hamparan luas Samudra Indonesia yang membiru. Pantai Ngobaran sangat cocok untuk menyepi, meninggalkan sejenak rutinitas keseharian yang seringkali terasa membosankan.@@
Minggu, 11 Maret 2012
PESONA SINAR SURGA DI LUWENG JOMBLANG
Jogja
tak hanya punya Keraton, Malioboro, Kaliurang, Candi Prambanan, Kota Gede,
Kasongan atau wisata belanja dan kuliner yang kebanyakan orang sudah tahu
bahkan pernah mengunjunginya. Bila anda berkunjung ke Jogja carilah sesuatu
yang lain, yang menarik atau bahkan kalau perlu yang menantang. Luangkan waktu
anda untuk tidak sekedar berputar-putar di dalam kota, pergilah sedikit ketimur
dan temukan sesuatu yang lain, sesuatu yang langka dan menakjubkan. Wisata alam yang berupa kegiatan
menyusuri goa atau caving mungkin asing di telinga anda. Tetapi kegiatan wisata
yang juga termasuk olah raga rekreasi ini bisa jadi akan membuat anda kagum
pada alam dan sang pencipta. Kegiatan ini memang sedang dan akan terus di
kembangkan di kabupaten Gunung Kidul sebab disanalah goa-goa alam nan eksotik
itu bertebaran.
Wilayah
kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa
Yogyakarta merupakan bagian dari Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang memiliki
bentang alam yang cukup unik. Dibalik tanahnya yang tandus, Gunung Kidul
memiliki begitu banyak goa-goa alam,
bahkan menurut sebuah sumber mencapai hingga ratusan goa, baik goa horizontal maupun goa vertikal atau yang biasa disebut luweng.
Karena jangan heran jika Gunungkidul menjadi surga bagi para penelusur gua atau
caver, baik dari dalam maupun luar negeri,
baik untuk melakukan suatu penelitian
maupun yang sekedar ingin
menikmati keindahan alam yang ada di perut bumi sekaligus menguji adrenalin.
Kegiatan
menyusuri goa, atau caving atau termasuk
olahraga rekreasi. Namun demikian tidak bisa
dianggap enteng, aktivitas penelusuran goa, khususnya goa-goa vertikal
seperti yang telah dikembangkan di wlayah Gunung Kidul memiliki tantangan
tersendiri. Lebih khusus lagi untuk memasuki goa-goa vertical yang sulit, goa
dengan celah atau lobang yang sempit, maupun gua basah di mana terdapat aliran
sungai di dalamnya. Para penelusur gua dituntut untuk memiliki kemampuan memanjat,
berenang, mendaki, orientasi medan, peta kompas, sampai menyelam.
Goa Jomblang dan Goa Grubug
Goa
Jomblang dan goa Grubug yang terdapat di kecamatan Semanu atau kurang lebih
delapan kilometer sebelah timur kota Wonosari merupakan tempat favorit bagi
para caver atau penyusur goa. Pada
goa vertikal yang memiliki lebar dan dalam limapuluh meter lebih ini memang
cukup terkenal dikalangan para caver. Untuk masuk atau menuruni goa vertikal
seperti goa atau luweng Jomblang dan
goa atau luweng Grubug wajib
menggunakan peralatan khusus yang sesuai dengan standar keamanan, serta wajib
menguasai kemampuan tekhnik tali tunggal atau single rope technique ( SRT ). Didalam goa yang memiliki kedalaman hingga 80 meter itu
terdapat sungai bawah tanah yang merupakan ciri khas wilayah karst dan konon
merupakan sungai purba. Selain itu
didalamnya juga terdapat hutan purba. Jika di atas terlihat tanah tandus
dan pohon jati yang mengering, maka di dasar Gua Jomblang aneka tanaman dengan
jenis yang berbeda dari vegetasi diatas hidup dengan subur. Dari dasar Gua
Jomblang perjalanan dilanjutkan menyusuri lorong sepanjang 300 meter yang
menghubungkan dengan Gua Grubug. Berhubung di lorong tersebut sangat gelap maka para caver juga dilengkapi dengan headlamp
untuk penerangan. Bahkan yang lebih fenomenal dari semua itu pada goa-goa itu terdapat ray of
light atau yang lebih dikenal sebagai sinar surga. Sinar matahari yang
masuk melalu entrance Gua Grubug dengan ketinggian sekitar 90 meter
menciptakan pilar cahaya (ray of light) yang sangat indah. Para
penelusur gua atau caver yang sudah berpengalaman biasanya akan masuk ke Gua
Grubug tidak melalui Gua Jomblang tapi lewat celah tersebut. Setelah sampai di
Gua Grubug biasanya para caver akan
melanjutkan dengan body rafting di sungai yang mengalir di dalam gua. Tetapi
untuk menyusur goa-goa ini diperlukan keahlian khusus serta pengetahuan,
pengalaman, tekhnik dan peralatan yang memadai, bahkan berstandar
international. ( Sumber: Kompasiana/Elizabeth Murni ).@@
Selasa, 13 Desember 2011
WISATA PANTAI SIUNG, MENGUNJUNGI SAUDARA TUA GUNUNG MERAPI
Pesona keindahan pantai
selatan Jawa begitu memikat dan melegenda, dan salah satunya adalah pantai
Siung. Pantai ini terletak di kecamatan Tepus kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.
Berjarak kurang lebih 28 kilometer arah selatan kota Wonosari tempat ini
realtif mudah untuk dicapai. Meski untuk mengunjungi pantai ini memang harus
menggunakan kendaraan pribadi atau carteran, sebab belum tersedia angkutan umum
yang menuju ke sana. Tetapi jangan kawatir sebab akses menuju ke sana sudah
didukung dengan sarana jalan yang cukup memadai. Perjalanan anda akan semakin
menarik dengan medan yang berbelok-belok dan sedikit naik turun, serta suguhan
pegunungan kapur disisi kanan-kiri jalan.
Pantai Siung memiliki
daya tarik yang luar biasa dengan air lautnya yang sangat bening, pasir pantai
yang putih dan lembut serta bukit-bukit karang yang menyembul keatas seperti
pulau-pulau kecil yang menjorok ke tengah laut. Di pantai ini juga terdapat
aneka ikan hias dengan warna dan bentuk yang sangat cantik. Yang lebih menarik
lagi konon menurut penelitian jenis batuan yang ada di pantai ini memiliki
kemiripan atau kesamaan dengan jenis batuan yang ada di kawasan gunung Merapi.
Bahkan menurut sebuah sumber malah memiliki umur yang lebih tua dari yang ada
di kawasan gunung Merapi. Secara filosofis gunung Merapi, Keraton dan laut
selatan memang memiliki hubungan. Dan ternyata secara ilmiah keduanya juga
memiliki hubungan. Kalau secara filosofis pantai selatan diwakili Parangtritis,
maka secara ilmiah pantai selatan diwakili oleh pantai Siung.
Atraksi alam di pantai
Siung semakin sempurna dengan kehadiran air terjun Pengantin yang langsung
bermuara ke laut. Meski tidak terlalu tinggi air terjun ini menambah daya tarik
pantai Siung untuk anda kunjungi. Berkunjung ke kota Jogja mungkin tidak
lengkap kalau anda tidak mengunjungi Keraton dan mampir ke Malioboro, tetapi
kunjungan wisata anda akan terasa serpurna bila anda sempatkan singgah dan mengunjungi
pantai Siung yang eksotis dan mempesona. Anda penasaran berkunjung ke sana?
Selamat berwisata!@@
PERJANJIAN GIYANTI DAN LAHIRNYA JOGJAKARTA
Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian yang
melatarbelakangi pecahnya dynasti Mataram dan lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta.
Hal itu berawal dari Pangeran Mangkubumi
yang menagih janji dari Sunan Pakubuwono III yang akan memberikan 3000 cacah
tanah di wilayah Sukowati bila berhasil menumpas pembrontakan yang dipimpin
oleh Pangeran Sambernyowo.
Perjanjian Giyanti sebenarnya merupakan kesepakan
antara pihak Belanda, dalam hal ini VOC dengan pihak kerajaan Mataram yang di
wakili oleh Sunan Pakubuwono III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Pangeran
Mangkubumi akhirnya memutar haluan menyeberang dari kelompok pemberontak dan
bergabung dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan Mataram, dan ikut memerangi
pemberontak yaitu Pangeran Sambernyowo. Perjanjian Giyanti yang akhirnya di
tandatangani pada tanggal 13 Februari 1775 di desa Giyanti yang saat ini
menjadi wilayah dukuh Kerten Desa Jantiharjo kabupaten Karang Anyar, Jawa
Tengah ini secara de facto dan de jure menandai berakhirnya kerajaan
Mataram.
Berdasarkan perjanjian ini wilayah kerajaan Mataram
dibagi menjadi 2 bagian, yaitu wilayah disebelah timur dikuasai oleh pewaris
tahta Mataram ( Sunan Pakubuwono III ) dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara
disebelah barat yang merupakan wilayah Mataram yang asli diserahkan kepada
Pangeran Mangkubumi, sekaligus diangkat sebagai Sultan Hamengkubuwono I dan
berkedudukan di Ngayogyakarta. Dalam perjajian itu juga terdapat klausul, VOC
bisa menentukan siapa yang menjadi penguasa wilayah itu jika diperlukan.
Perjanjian Giyanti sebenarnya belum mengakhiri
gonjang-ganjing di kerajaan Mataram, karena kepentingan kelompok Pangeran
Sambernyowo ( Raden Mas Said ) tidak terakomodasi dalam perjanjian ini. Pangeran
Sambernyowo adalah rivalitas Pangeran Mangkubuni untuk menjadi orang nomor satu
di kerajaan Mataram. Perjanjian Giyanti bisa jadi merupakan persekongkolan
untuk menyingkirkan Pangeran Sambernyowo. Ada juga yang beranggapan bahwa
Perjanjian Giyanti merupakan bagian dari politik pecah belah Belanda. Terlepas
dari kontroversi yang terjadi, Perjanjian Giyanti merupakan “ibu kandung” Kasultanan
Ngayogyakarta yang kemudian menjadi Yogyakarta. yang telah banyak memberikan sumbangsihnya
pada awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di awal kemerdekaan RI kasultanan Yogyakarta banyak memberikan
bantuan baik moril maupun matriil. Dan puncaknya adalah ketika Sultan Hamengkubuwono
IX yang bertahta pada saat itu, menyatakan wilayah kasultanan Ngayogyakarta
sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia begitu Kemerdekaan di
proklamirkan oleh Sukarno-Hatta. Pemindahan ibukota dari Jakarta ke Jogjakarta
juga atas inisiatif dan difasilitasi oleh Sultan Hamengkubuwono IX.@@ ( Sumber : Wikipedia, beberapa sumber lain )
Jumat, 09 Desember 2011
PANTAI TELENG RIA, PRIMADONA DARI PACITAN
Selain memiliki wisata goa karst lengkap dengan stalagtit
dan stalagmitnya, kabupaten Pacitan yang terletak di bagian selatan pulau jawa
juga mengandalkan wisata pantainya. Sebut saja pantai Klayar di kecamatan Donorojo
atau pantai Teleng Ria yang letaknya kurang lebih hanya dua kilometer dari
pusat kota Pacitan. Pantai ini menjadi menarik karena lokasinya yang sangat
dekat dengan pusat kota, sehingga akses menuju ke pantai ini demikian dekat dan
mudah. Kelebihan pantai ini disamping mudah untuk di kunjungi tetapi juga
memiliki garis pantai yang panjang. Seperti pantai selatan pada umumnya, pantai
ini juga berombak besar. Mandi dipantai sambil bermain pasir bisa jadi menjadi
alternative yang menyenangkan di pantai ini. Tetapi harus hati-hati, disamping
ombak yang besar, tetapi pada musim-musim tertentu juga banyak ubur-ubur laut
yang beracun yang bila menyengat akan terasa pedih dan gatal-gatal.
Jalan menuju pantai ini relative baik. Fasilitas
yang tersedia juga lumayan baik, parkir yang luas serta warung makan atau
jajanan cukup tersedia di pantai ini. Untuk mengunjungi pantai ini tidaklah
sulit, bila menggunakan angkutan umum dari arah Solo bisa menumpang bus jurusan
Solo-Batu-Pacitan dan turun tak jauh dari gerbang pantai. Kalau dari arah Jogja
bisa menumpang bus jurusan Jogja-Wonosari-Praci-Batu, turun di terminal
Baturetno ( Wonogiri ) kemudian berganti bus jurusan Pacitan yang datang dari
arah Solo. Pantai Teleng Ria menawarkan pemandangan yang cukup mempesona, karena
dikelilingi perbukitan yang tampak menghijau dari kejauhan. Bila menggunakan
kendaraan pribadi, anda bisa sekaligus mengunjungi beberapa goa yang berada
satu jalur dengan tempat wisata ini bila berangkat dari arah Jogja atau Solo.
Sebut saja goa Tabuhan dan goa Gong. Anda teryarik berkunjung ke sana? Selamat berwisata.@
Selasa, 06 Desember 2011
GOA RANCANG KENCONO, TEMPAT UNTUK MERANCANG KEMERDEKAAN
Berbeda dengan goa-goa pada umumnya, goa Rancang
Kencono memeiliki pintu yang menghadap ke atas mirip menyerupai sebuah lubang
raksasa. Untuk memasuki goa ini harus menuruni beberapa anak tangga yang
sengaja dibuat untuk memudahkan pengunjung. Goa ini terletak di dusun
Menggoran, desa Bleberan, kecamatan Playen kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
Berjarak kurang lebih 15 kilometer arah barat daya kota Wonosari tempat ini
sebenarnya tidak sulit untuk dicapai, namun sayangnya masih minimnya sarana dan
kondisi jalan untuk memasuki wilayah ini masih berupa jalan tanah yang belum
teraspal.
Meski tidak terlalu dalam goa ini cukup memiliki nilai
sejarah. Goa ini juga memiliki pelataran yang cukup luas, bahkan konon bisa
untuk bermain badminton. Dinamakan Rancang Kencono, sebab menurut riwayat yang
diyakini penduduk setempat, Rancang bermakna merancang, mengkonsep, atau
menyusun. Dan Kencono berarti emas atau kemuliaan. Dan kemulian bagi bangsa yang
terjajah kala itu, berarti adalah sebuah kemerdekaan. Konon pada masa
perjuangan dahulu goa ini seringkali dijadikan tempat untuk menyususn strategi
untuk melawan penjajah dan meraih kemerdekaan. Dan kini nampaknya tempat ini
juga dipergunakan sebagai tempat wisata lokal juga suntuk kegiatan ritual
tertentu.
Uniknya ditengah mulut goa ini terdapat pohon langka
yang cukup besar menyembul keatas. Menurut keterangan warga setempat bahkan
pohon ini merupakan pohon satu-satunya di Gunung Kidul. Menurut keterangan belum
ada yang menemukan pohon sejenis di wilayah Gunung Kidul. Pohon yang oleh
masyarakat disebut pohon Bluni ini memiliki buah yang rasanya manis. Buahnya
berbentuk bulat lonjong dan berwarna ungu. Yang menarik di goa yang jauh dari
keramaian itu sering sekali dipergunakan untuk pengambilan gambar untuk
film-film kolosal laga seperti Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, dll. Tak
jauh dari tempat ini juga terdapat air terjun Si Gethuk, tetapi untuk
mencapainya agak sulit disamping untuk menuju kesana jalannya belum
teraspal juga harus menaiki perahu atau berjalan kaki
melewati areal persawahan yang becek dan naik turun.@
Senin, 05 Desember 2011
GUNUNG KENDIL, KISAH AIR 'KERAMAT' DARI DALAM SEBONGKAH BATU
Mata
air Gunung Kendil berada di atas ketiggian puncak sebuah bukit kapur, terletak
didesa Ponjong, kecamatan Ponjong atau kurang lebih 11 kilometer arah timur
laut kota Wonosari, Gunung Kendil merupakan tempat wisata ritual yang cukup
dikenal diwilayah ini. Disini terdapat mata air yang terdapat pada sebuah
bongkahan batu besar. Pengeboran batu itu atas perintah mbah Moyo yang
merupakan sesepuh desa setempat, sekaligus merupakan pemilik tanah itu. Sebelum
memerintahkan pengeboran diatas bongkahan batu besar itu, mbah Moyo melakukan
“laku” dan sering melakukan shalat hajat ditempat itu. Dan anehnya setelah
dibor air itu mengucur keatas tanpa harus dipompa. Kalau sekarang dipasang
pompa karena air tidak bisa berhenti, jadi pompa lebih difungsikan untuk
mematikan aliran air.
Banyak
orang terperanjat ketika kemudian keluar air jenih dari bongkahan batu itu.
Setelah itu banyak orang berkunjung, mula-mula warga sekitar Gunung Kidul
tetapi kini sudah banyak yang dating dari luar kota Jogja, Magelang, Klaten,
Solo, Boyolali bahkan dari Surabaya dan Jakarta. Kini tempat ini terkenal
sebagai tempat terapi air. Beberapa penyakit terbukti sembuh. Banyak
orang-orang yang datang ketempat ini untuk melakukan melakukan ritual
mensucikan diri dan melaksanakan hajat
dimasjid sekitar tempat ini. Bahkan konon banyak pejabat di wilayah ini yang
datang untuk melakukan hal yang sama.
Setelah
diakan penelitian oleh pihak yang berwenang yaitu Dinas Kesehatan kabupaten Gunung
KIdul, air dari Gunung Kendil sangat layak untuk di konsumsi bahkan sangat
layak untuk sumber air minum. Menurut uji klinis kandungan Ecolinya nol. Dan
sekarang masyarakat bias menikmati ARDO ( air do’a ) air minum yang sudah
melalui proses sterilisasi ozon, dan dijamin lebih higienis. Ardo juga bisa
dibawa pulang dengan kemasan 1,5 liter dengan harga Rp.4000. Sebagai air
terapi, untuk memudahkan para pengunjung kemudian juga dibangun 3 kolam renang
untuk dewasa dan anak-anak. Tempat ini sangat mudah untuk dicapai karena berada
ditepi jalan raya di kota kecamatan Ponjong, dan di dukung sarana jalan yang
sangat mulus. Disamping itu dari kota Wonosari juga tersedia sarana angkutan
umum yang cukup memadai.@
Jumat, 18 November 2011
MENGENAL LEBIH DEKAT PANEMBAHAN SENOPATI, SANG PENDIRI KERAJAAN MATARAM
Panembahan Senopati
adalah pendiri kasultanan Mataram yang 188 tahun kemudian terpecah menjadi 2, Kasunanan
Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta melalui Perjanjian Giyanti. Beliau
memerintah sebagai raja Mataram pertama pada tahun 1587-1601. Bergelar Senopati
Ingalogo Kalifatulah Tanah Jawa, Panembahan Senopati adalah peletak dasar-dasar
kasultanan Mataram. Raja pertama Mataram yang memiliki nama kecil Danang
Sutawijaya ini, merupakan putra sulung dari pasangan Ki Ageng Pemanahan dan
Nyai Sabinah. Menurut naskah-naskah babad tanah jawa ayahnya merupakan
keturunan raja Brawijaya, raja terakhir kerajaan Majapahit, sedang ibunya
merupakan keturunan Sunan Giri, anggota Walisongo. Nyai Sabinah memiliki kakak
laki-laki bernama Ki Juru Martani, yang kemudian diangkat sebagai patih pertama
kasultanan Mataram.
Ikut berjasa besar
dalam menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549, Sutawijaya kemudian diangkat
anak oleh Sultan Hadiwijaya bupati Pajang untuk pancingan karena sampai saat
itu beliau belum dikaruniai seoarang anak. Sutawijaya kemudian bertempat
tinggal di sebelah utara pasar, sehingga kemudian ia dikenal sebagai Raden
Ngabehi Loring Pasar.
Dalam sayembara
menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549, ia diajak ikut serta ayahnya dalam
rombongan pasukan, supaya Sultan Hadiwijaya tidak tega dan menyertakan bala
pasukan Pajang sebagai bantuan, saat itu Sutawijaya masih berumur belasan
tahun. Arya Penangsang adalah bupati Jipang Panolan yang sudah membunuh Sunan
Prawoto raja terakhir kasultanan Demak. Ia sendiri akhirnya terbunuh oleh
Sutawijaya. Akan tetapi sengaja di buat laporan palsu bahwa kematian Penangsang
karena dikeroyok oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, karena jika Sultan
Hadiwijaya sampai tahu kisah sebenarnya bahwa yang membunuh Arya Penangsang
adalah anak angkatnya sendiri, beliau akan lupa memberikan hadiah.
Usai sayembara Ki
Penjawi mendapat tanah di Pati dan menjadi bupati sejak 1549, sedang ki Ageng
Pemanahan baru mendapat tanah Mataram sejak tahun 1556. Sepeninggal Ki Ageng
Pemanahan pada tahun 1575, Sutawijaya menggantikan kedudukannya sebagai
pemimpin Mataram dan bergelar Senopati Ingalogo yang berarti panglima medan
perang.
Pada tahun 1576 Ngabehi
Wilamarta dan Ngabehi Wuragil dari Pajang tiba untuk menanyakan kesetiaan
Mataram, mengingat sudah lebih dari setahun Senopati tidak menghadap Sultan
Hadiwijaya. Senopati saat itu sedang sibuk berkuda di Lipura, seolah tidak
peduli dengan kedua utusan tersebut. Namun kedua pejabat senior Pajang itu
sangat pandai menjaga perasaan Sultan Hadiwijaya melalui laporan yang mereka
susun
Senopati memang ingin menjadikan
Mataram menjadi kerajaan yang merdeka. Ia sibuk mengadakan persiapan baik yang
bersifat matreal maupun spiritual, misalnya membangun benteng, melatih tentara,
sampai menghubungi penguasa laut selatan dan gunung Merapi. Senopati juga
berani membelokkan para mantri pamajegan dari kedu dan bagelen yang hendak
meyetor pajak ke Pajang, hingga para mantri itu bahkan dibujuknya untuk setia
pada senopati. Sultan Hadiwijaya resah mendengar kemajuan anak angkatnya, dan
iapun mengirim utusan untuk menyelidiki kemajuan Mataram. Yang diutus adalah
Arya Pamalad Tuban dan Pangeran Benawa serta Patih Mancanegara. Semua dijamu
dengan pesta oleh Senopati, sehingga mereka tidak membuat laporan yang
biasa-biasa saja pada Sultan Hadiwijaya tentang Senopati.
Pada tahun 1582 Sultan
Hadiwijaya menghukum Tumenggung Mayang dibuang ke Semarang karena telah
membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan menyusup kedalam keputren dan
mengganggu Ratu Sekar Kedaton putri bungsu Sultan. Raden Pabelan sendiri
akhirnya dihukum mati dan mayatnya dibuang ke sungai Laweyan. Ibu Pabelan
adalah adik Senopati, maka ia mengutus para mantri untuk merebut tumenggung
Mayang dalam perjalanan pebuangannya ke Semarang. Perbuatan Senopati ini
membuat Sultan Hadiwijaya murka. Sultanpun berangkat sendiri memimpin pasukan
Pajang untuk menyerang Mataram.
Perangpun terjadi,
pasukan Mataram berhasil menghalau
pasukan Pajang, meski jumlah mereka lebih banyak. Kemudian Sultan Hadiwijaya
jatuh sakit dalam perjalanan pulang ke pajang. Ia pun akhirnya meninggal dunia,
namun beliau sempat berwasiat agar anak-anaknya tidak membenci dan memusuhi Senopati
serta harus memperlakukannya sebagai kakak sulung. Senopati sendiri ikut hadir
dalam upacara pemakaman Sultan Hadiwijaya di Pajang. Sepeninggal Sultan
Hadiwijaya, Senopati memerdekakan Mataram pada tahun 1587 dan memerintah
menjadi raja pertama Mataram. Beliau wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di makam
raja-raja Kotagede, kemudian digantikan oleh Panembahan Hanyakrawati atau Raden
Mas Jolang. Sekarang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Yogyakarta, tak jauh dari kraton.@ (Sumber:Wikipedia dan beberapa sumber lain)
Rabu, 16 November 2011
TRANS JOGJA, SOLUSI HEMAT MENJELAJAH KOTA JOGJA
Main ke Jogja dengan
dana minim, siapa takut? Bagi para backpacker mania tak perlu kawatir
berlebihan bila anda ingin jalan-jalan ke kota Jogja bermodal ongkos perjalanan
yang pas-pasan. Kehadiran bus Trans Jogja akan banyak membantu anda mengunjungi
tempat-tempat menarik selama liburan di Jogja dengan budget yang tidak terlalu
besar. Dengan sitem operasi yang mirip Trans Jakarta Bus Way di ibukota, moda
transpotasi ini akan mengantar anda kemanapun pergi. Dengan Trans Jogja
dipastikan akan hemat waktu dan hemat biaya, sebab tidak berhenti di sembarang
tempat dan untuk ganti bus tidak dikenakan biaya lagi.
Trans Jogja yang
menggunakan jenis microbus dengan AC dan hanya berhenti pada halte-halte yang
telah ditentukan, akan menjamin kenyamanan anda selama liburan di Jogja. Trans
Jogja merupakan transpotasi kota terpadu yang menghubungkan semua tempat-tempat
strategis mulai dari Terminal Penumpang Yogyakarta ( TPY ) Umbulharjo, Terminal
Jombor, Monumen Jogja Kembali, Terminal Condong Catur, Terminal Prambanan,
Bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu, Kraton, Malioboro, Purawisata, Taman Pintar,
Kebun binatang Gembira Loka, Sport Hall Kridosono, Stadion Mandala Krida, Balai
kota, Jogja Expo Center, Ambarukmo Plaza, UGM, UNY hingga sentra-sentra
kerajinan dan oleh-oleh.
Trans Jogja merupakan
solusi jitu bagi anda para backpacker berkantong
tipis untuk bisa menjelajah kota Jogja, atau bagi para low budget traveler yang tak sanggup membeli paket-paket wisata
yang ditawarkan tour operator. Dengan Trans Jogja, anda bisa puas berwisata
keliling Jogja dengan dana seadanya. Tidak percaya? Silahlan buktikan Sendiri!!
Kamis, 10 November 2011
SEJARAH BERDIRINYA BENTENG VREDEBURG
Setelah terjadinya
perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang membagi kerajaan Mataram
menjadi dua bagian barat dan timur, Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan
Surakarta, maka Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama Kasultanan
Ngayogyakarta yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I langsung
membangun ibukota baru berikut istananya.
Pembangunan ibu kota
dan istananya itu dimulai pada tanggal 9 Oktober 1755 di sebuah tempat bernama
Umbul Pachethokan, kawasan hutan Paberingan yang kemudian bernama Ayodya atau
Ngayogya, atau kini lebih dikenal sebagai Yogyakarta. Selama pembangunan Sultan
beserta keluarga tinggal di pesanggrahan Ambarketawang di Gamping sebelah barat
Yogya. Kemudian dibangun pula bangunan-bangunan lain. Kraton dikelilingi tembok
tebal yang kemudian di kenal sebagai benteng Baluwerti. Di dalamnya terdapat
aneka bangunan dengan rupa dan fungsi
yang berbeda. Bangunan tempat kediaman Sultan dan kerabatnya disebut Prabayeksa
yang selesai dibangun pada tahun 1756. Kemudian menyususul banguan Siti Hinggil
dan Bangsal Pagelaran selesai pada tahun 1757. Sedang Regol Donopratopo dan
Bangsal Kamagangan selesai dibangun pada tahun 1761 dan 1763. Masjid agung dibangun pada tahun 1771.
Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai dibangun pada tahun 1777.
Bangsal Kencono selesai dibangun pada tahun 1792, dan seterusnya istana kraton
Yogyakarta terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Melihat perkembangan
kraton yang sangat pesat itulah kemudian pihak Belanda mulai merasa was-was dan
khawatir, bila suatu saat kelak Sultan berbalik arah dan tidak mau bekerja sama,
bahkan mengusir Belanda. Dari situlah kemudian pihak Belanda meminta izin
kepada Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di dekat kraton. Belanda berdalih
agar bisa menjaga dan memelihara keamanan kraton dan sekitarnya. Namun demikian
niat yang sesungguhnya dari pihak Belanda adalah agar bisa mengontrol setiap
perkembangan yang terjadi di lingkungan kraton, lebih-lebih segala kegiatan
Sultan. Lokasi pendirian benteng yang sangat dekat bahkan hanya berjarak satu
tembakan meriam dari kraton, dan juga letaknya yang menghadap jalan utama yang
menuju ke kraton merupakan indikasi kuat bila fungsi benteng yang sebenarnya
adalah benteng strategi, intimidasi, bahkan blokade. Benteng tersebut merupakan
tempat menyerang atau bertahan bila suatu saat Sultan memalingkan muka dari
Belanda.
Sebelum dibangun
dilokasi yang sekarang berdiri museum benteng Vredeburg Yogyakarta, dahulu pada
tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan sudah membangun benteng yang sangat
sederhana yang berbentuk bujur sangkar dan di keempat sudutnya dibuat tempat
penjagaan yang disebut Seleka dan Bastion. Oleh Sultan keempat sudut itu diberi
nama Jaya (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut),
Jayaprakosaningprang (sudut barat daya), dan Jayaprayitna (sudut tenggara).
Pada awal berdirinya
benteng tersebut masih sangat sederhana dimana temboknya hanya terbuat dari
tanah dan deperkuat dengan tiang-tiang dari kayu. Tetapi ketika WH Ossenbrech menggantikan
Nicolas Hartingh pada tahun 1765, ia mengusulkan kepada Sultan agar bangunan
benteng diperkuat menjadi bangunan yang permanen agar lebih bisa menjamin
keamanan kraton. Usul tersebut dikabulkan dan kemudian pembangunan benteng
diserahkan dibawah pengawasan seorang ahli bangunan dari Belanda bernama Ir Frans
Haak. Pada tahun 1767 pembangunan benteng di mulai, tetapi berjalan sangat
lambat dan baru selesai pada 20 tahun kemudian pada tahun 1787, sebab dalam
waktu bersamaan Sultan juga baru sibuk membangun kraton. Benteng tersebut
kemudian dinamakan Rustenberg yang berarti benteng peristirahatan.
Tetapi pada tahun 1867
terjadi gempa hebat di kawasan Yogyakarta yang banyak merobohkan berbagai
bangunan besar seperti gedung Residen, Tugu Pal Putih dan juga benteng
Rustenberg. Bangunan yang mengalami kerusakan segera dibangun kembali termasuk
benteng Rustenberg, setelah selesai dibangun kembali benteng Rustenberg diganti
nama menjadi benteng Vredeburg yang berarti benteng Perdamaian, nama ini
diambil sebagai manifestasi hubungan baik antara Kasultanan Yogyakarta dengan
pihak Belanda.
Bentuk benteng
dipertahankan seperti awalnya yang terdapat penjagaan disetiap sudutnya. Pintu
gerbang menghadap barat dan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat aneka
bangunan dengan aneka fungsi seperti rumah perwira, mess prajurit, gudang
logistic, gudang mesiu, klinik prajurit dan rumah residen. ( Sumber: Situs Musium
B. Vredeburg, Wikipedia, Sumber lain )
LINTAS BUKIT SELATAN
Lintas Bukit Selatan
adalah kawasan menarik dengan segudang potensi wisata alam disepanjang jalur
selatan jawa. Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba di kecamatan Pathuk, pantai
selatan kabupaten Gunung Kidul yang masih perawan seperti pantai Baron, Kukup,
Krakal, Sundak , Siung, Wediombo hingga Sadeng. Dan pantai Sembukan serta
pantai Ngampu di kabupaten Wonogiri, yang sangat menawan. Lebih ke timur lagi
kita akan menemukan Pantai Buyutan, pantai Klayar dan pantai Teleng Ria di
kabupaten Pacitan. Musium Karst dan Goa Putri Kencono di Pracimantoro, Goa
Tabuhan dan goa Gong di kabupaten Pacitan juga memiliki daya tarik tersendiri
dan akan menambah wawasan anda akan kawasan karst di sepanjang jalur selatan.
Di Lintas Bukit Selatan
juga terdapat sungai-sungai bawah tanah yang tidak kalah menarik untuk
dikunjungi, apalagi bagi yang suka menguji adrenalin, menyukai tantangan
menjelajah alam. Lintas Bukit Selatan adalah sebuah upaya kecil untuk
mengenalkan pesona wisata lain di sekitar Jogja, kepada anda yang rindu akan
suasana alam pedesaan, haus akan belaian lembut angin pantai, gemar mengunjungi
tempat-tempat terpencil, dan meraih kepuasan batin dengan menikmati keindahan alam
yang masih perawan. Lintas Bukit Selatan adalah sebuah upaya menghadirkan
kemewahan-kemewahan kecil dalam hidup anda yang seringkali sesak oleh
urusan-urusan yang tak pernah selesai, melalui aneka pengalamanan mengesankan
menaiki bukit tandus, menyisir pantai dengan pasir putih nan lembut, menjelajah
goa-goa alam, atau sekedar menikmati bau rumput liar di pinggir telaga yang
mulai mengering. Tinggalkan rutinitas hidup anda sejenak, nikmati harmoni alam
pegunungan di sepanjang Lintas Bukit Selatan. Anda tak akan pernah mengira bahwa
kemewahan itu tidak selalu harus berharga mahal.@
Langganan:
Postingan (Atom)
